Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 16 : RITUALITAS DAN RUTINITAS

CATATAN PENSIUNAN 16 : RITUALITAS DAN RUTINITAS

Written By Suheryana Bae on Tuesday, July 1, 2025 | 6:52 AM

 

Di bawah langit pagi yang dihiasi gemericik gerimis,  aku duduk di villa saung ternak, secangkir susu coklat  hangat di tangan dan tab di hadapan. Ada ritme dalam gerakku—perlahan, penuh makna, seperti puisi yang ditulis oleh embun pagi. Bagi seorang pensiunan, ritualitas dan rutinitas bukan sekadar cara mengisi waktu; melainkan denyut nadi yang menjaga jiwa tetap hidup dalam harmoni antara makna dan gerak di suasana pagi yang sejuk. Bukan soal keuangan, melainkan kebutuhan psikologis yang mendalam. Merasa bermakna, tetap bergerak, dan terhindar dari kesunyian.



Dulu, saat  masih aktif bekerja, hidup mengalir dalam alur yang terstruktur. Pagi dimulai dengan apel di halaman kantor dan sapaan rekan-rekan membangun semangat kolektif di bawah sinar matahari keemasan. Rapat-rapat, tumpukan dokumen, dan ritme jam kantor dari pukul tujuh pagi hingga setengah empat sore menciptakan kerangka rutinitas harian. Meski kadang melelahkan, tetapi bermakna bahwa aku dibutuhkan dan berkontribusi. Kini, setelah pensiun, kerangka itu lenyap. Waktu tiba-tiba menjadi lautan luas tanpa tepi, dan tanpa rutinitas baru, aku  terombang-ambing dalam kehampaan.

Ritualitas adalah jembatan menuju makna, terutama di pagi hari ketika dunia masih diselimuti ketenangan. Ritualitas adalah tindakan sederhana namun sarat simbolisme, seperti seorang penyair yang memilih kata-kata dengan saksama untuk menyusun sajak. Di sebuah pagi aku memulai hari dengan mengaji di surau, menyatukan diri dengan doa-doa hari itu. Di suasana pagi menemukan ritme dalam obrolan ringan di warung kopi, di mana tawa dan cerita tentang masa lalu mengalir seperti sungai kecil yang diterangi sinar matahari pagi. Ritual ini, sekecil apa pun, adalah pengingat bahwa hidup masih memiliki tujuan, bahwa jiwaku masih terhubung dengan dunia.

Sementara itu, rutinitas adalah tulang punggung keseharian. Jalan kaki di pagi hari, ketika udara masih segar dan burung-burung bernyanyi, bukan sekadar olahraga, melainkan perjalanan kecil menuju kepekaan. Udara pagi yang mengisi paru-paru, suara dedaunan yang bergoyang pelan, dan langkah kaki yang menegaskan bahwa tubuh masih mampu menari bersama waktu. Membaca buku di beranda sambil menyeruput teh, mendengar musik yang memainkan lagu-lagu nostalgia, atau menyiram tanaman di halaman belakang saat matahari baru muncul—semua adalah ritme yang menjaga pikiran tetap jernih dan tubuh tetap bergerak. Rutinitas ini adalah kanvas tempat ritualitas melukis makna, mencegah lamunan kosong yang bisa menjerat di kesunyian pagi.

Keindahan ritualitas dan rutinitas terletak pada kebebasannya. Berbeda dengan masa kerja yang penuh kewajiban, pensiun adalah babak di mana aku bebas merancang ritme  sendiri. Ada pagi ketika aku menemukan kedamaian dalam berkebun, menanam bibit harapan di setiap tunas hijau yang disinari matahari. Ada pula hari ketika aku mengisi pagi bersama ayam-ayam yang menanti sarapan pagi.  Atau mungkin memilih menulis kenangan, merangkai cerita hidup dalam buku catatan sederhana sambil menikmati embun pagi. Apa pun bentuknya, rutinitas dan ritual ini adalah mozaik kecil yang membentuk lukisan besar agar hidup tetap bermakna, meski usia telah menua.

Seperti sungai yang terus mengalir meski musim berganti, ritualitas dan rutinitas adalah aliran yang menjaga kehidupan tetap segar, terutama di pagi hari penuh harapan. Bagiku, ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan seni untuk tetap hidup, tetap relevan, tetap menari mengisin waktu. Di setiap langkah pagi, di setiap doa yang terucap, di setiap tawa yang dibagi di bawah sinar matahari pagi, aku menemukan kembali makna. Dan di situlah letak keajaiban. Di dalam hal-hal kecil yang kulakukan dengan penuh kesadaran, hidup menemukan iramanya kembali.

Maka, di pagi ini,  aku angkat cangkir susu coklat hangat bukan hanya untuk menyapa hari, tetapi untuk merayakan ritme hidup yang tak pernah usai. Sebab, di tanganku, rutinitas adalah puisi, dan ritualitas adalah lagu—keduanya menyanyikan keabadian jiwa yang tak pernah menyerah pada waktu, di bawah langit pagi yang selalu membawa harapan baru.

0 comments :

Post a Comment