Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 31 : Jangan Tergesa-gesa

Catatan Pensiunan 31 : Jangan Tergesa-gesa

Written By Suheryana Bae on Thursday, October 16, 2025 | 8:18 PM


Sering kali ketika kita sedang menikmati nasi goreng favorit di warung pinggir jalan, aroma rempahnya menggoda, panasnya masih mengepul. Tapi pikiran sudah melayang ke email kerja yang menumpuk, atau serial Netflix yang belum tamat. Seolah-olah makanan di depan kita merampas waktu berharga kita. Atau katakanlah kita sedang di masjid, tiba-tiba merasa sangat ingin segera keluar masjid. Karena ada podcast tokoh terkenal atau ingin melihat YouTube petualangan, atau sekadar ingin minum kopi. Kenapa ya, hidup kita sering seperti ini. Tergesa-gesa. Seakan dunia akan runtuh kalau tidak segera menyelesaikan suatu aktivitas di saat ini.

Fenomena ini bukan hal baru. Di era digital, notifikasi ponsel seperti alarm darurat yang tak pernah mati. Kita merasa seperti ada "pekerjaan maha penting" di depan — Zoom meeting, deadline tulisan, atau bahkan sekadar scroll Instagram. Saat sholat di masjid, pikiran melayang ke siaran langsung pertandingan bola. Saat membaca buku, ingat cucian yang menumpuk. Hasilnya? Kita melewatkan keindahan proses. Hidup menjadi serba cepat, efisien, tapi hambar; tanpa kesadaran dan penghayatan.

Padahal, apa sih yang sebenarnya menunggu. Tidak ada atasan yang marah-marah lagi di usia sekarang. Tidak ada monster yang akan menelan kalau kita lambat sedikit. Seperti kata Epictetus, "Bukan hal-hal itu sendiri yang mengganggu kita, tapi pandangan kita terhadapnya." Kita sendiri yang menciptakan urgensi palsu. Dampaknya adalah stres kronis dan kehilangan momen berharga.

Lalu, bagaimana caranya beralih ke mode santai? Maka, mulailah dari kesadaran penuh. Kita harus mencoba menjalani praktik hidup sederhana, saat makan, fokus pada rasa, tekstur, dan aroma. Mematikan ponsel, membiarkan dunia luar diam sejenak. Saat beribadah, menghayati setiap gerakan, dan mencoba memahami bacaan. Saat kerja di kebun, memecah tugas jadi potongan kecil, dan merayakan setiap pencapaian dengan secangkir kopi hangat.

Hidup seperti perjalanan kereta api, bukan balap mobil F1. Di kereta, kita bisa menikmati pemandangan hamparan hijau persawahan, gunung menjulang, atau obrolan ringan dengan penumpang sebelah. Tidak terburu-buru ingin sampai tujuan, tapi menikmati rute. Seorang petani di desa kecil bangun di pagi hari, menyirami sawah sambil mendengar kicau burung. Tidak ada deadline, dan menjalani hidup sepenuhnya. Hasil panen melimpah, dan hatinya tenang. Bandingkan dengan pejabat dan pengusaha di kota yang kaya raya tapi selalu gelisah.

Maka mulai hari ini, ada baiknya mencoba tantangan. Memilih satu aktivitas harian dan menjalaninya sepenuh hati. Kita akan menemukan, kebahagiaan bukan di akhir garis finis, tapi di setiap langkah. Santai bukan berarti malas, tapi cerdas. Memberi ruang untuk bernapas, tertawa, dan mencintai hidup. Karena waktu adalah satu-satunya aset tak tergantikan. Maka layak dinikmati sekarang, sebelum terlambat.

Inilah yang sedang aku upayakan saat ini.

0 comments :

Post a Comment