Merujuk pada gagasan Rutger Bregman yang mengutip Rousseau, manusia pada dasarnya baik. Kebaikan itu sudah ada sebagai benih dalam diri manusia. Ia hanya membutuhkan ruang agar dapat tumbuh dan berkembang.
Dalam bukunya *Humankind: A Hopeful History*, Rutger Bregman mengajak pembaca mempertanyakan salah satu keyakinan yang mengakar dalam cara kita memandang manusia. Bahwa manusia pada dasarnya egois, rakus, dan lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain. Realitas berbagai kejahatan, korupsi, penipuan, dan kekerasan seolah memperkuat keyakinan tersebut, sehingga sesama manusia saling mencurigai.
Dengan menelusuri berbagai penelitian psikologi, catatan sejarah, dan peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan umat manusia, Bregman menunjukkan bahwa kerja sama, empati, dan kecenderungan untuk saling menolong merupakan fondasi yang memungkinkan manusia bertahan dan berkembang selama ribuan tahun. Menurutnya, manusia bukan menjadi kuat karena saling memangsa, melainkan karena mampu bekerja sama. Manusia membangun keluarga, komunitas, desa, kota, bahkan peradaban karena memiliki kemampuan untuk mempercayai dan membantu satu sama lain.
Gagasan ini merujuk pada Rousseau yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Bukan berarti manusia tidak pernah melakukan kesalahan atau keburukan. Kejahatan tetap ada. Keserakahan tetap ada. Kekerasan tetap ada. Namun semua itu bukanlah keseluruhan sejarah manusia. Di balik berbagai keburukan, terdapat begitu banyak kebaikan yang berlangsung setiap hari tanpa pernah menjadi berita.
Banyak orang mungkin meragukan pandangan tersebut karena berita yang kita baca setiap hari dipenuhi kisah penipuan, korupsi, kekerasan, dan berbagai bentuk keburukan manusia.
Namun pengalaman hidup sering kali menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya menemukan kebaikan datang dari orang-orang sederhana. Orang-orang yang secara ekonomi tidak berlebihan. Orang-orang yang hidupnya jauh dari sorotan media. Tidak pernah tampil di televisi. Tidak memiliki jutaan pengikut di media sosial. Tidak dikenal luas.
Bukan sekali dua kali menyaksikan orang miskin berbagi makanan kepada orang yang hidupnya lebih berkelimpahan. Secara logika ekonomi, hal itu mungkin terasa aneh. Bukankah yang memiliki lebih banyak seharusnya memberi kepada yang memiliki lebih sedikit.
Tetapi kehidupan tidak selalu berjalan mengikuti logika perhitungan untung-rugi.
Di kampung-kampung, kita masih dapat menemukan orang yang dengan tulus menawarkan hasil kebunnya kepada tetangga. Pisang yang baru dipanen, singkong yang baru dicabut, atau sekadar beberapa butir telur dari kandang belakang rumah. Nilainya mungkin tidak besar jika diukur dengan uang, tetapi sangat bernilai jika diukur dengan ketulusan.
Mereka memberi bukan karena berkelebihan. Mereka memberi karena merasa senang bisa berbagi.
Atau kejadian ketika membeli sesuatu di warung kecil dan ternyata uang yang dibawa kurang, pemilik warung justru mengikhlaskannya. Tanpa beban. Begitu saja.
Yang lebih mengherankan, ketika kita mencoba memberikan uang lebih, mereka menolaknya. Bahkan kadang-kadang kita justru diberi bonus. Sebungkus makanan ditambah satu gorengan. Membeli beberapa barang, lalu diselipkan bonus kecil tanpa diminta.
Secara ekonomi, orang-orang itu tidak lebih kaya dari kita. Bahkan mungkin jauh lebih sederhana kehidupannya. Tetapi mereka tetap memilih memberi.
Fenomena ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Bahwa kemurahan hati tidak selalu lahir dari kelimpahan materi. Kadang justru tumbuh subur di tempat-tempat yang tidak kita duga.
Kita berkeyakinan bahwa seseorang baru bisa berbagi setelah memiliki lebih. Menunggu menjadi kaya untuk menjadi dermawan. Menunggu hidup mapan untuk membantu orang lain. Menunggu semua kebutuhan terpenuhi sebelum membuka tangan bagi sesama.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Banyak orang yang memiliki sedikit tetapi bersedia berbagi. Sebaliknya, ada orang yang dianugerahi kelimpahan materi tetapi selalu merasa kekurangan.
Perbedaan keduanya bukan terletak pada jumlah harta, melainkan pada kondisi hati.
Kemurahan hati sesungguhnya adalah urusan batin. Ia tidak ditentukan oleh jumlah tabungan. Tidak bergantung pada luas tanah atau jumlah aset. Kemurahan hati adalah cara seseorang memandang hidup dan memandang sesama manusia.
Orang yang murah hati memahami bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga memberi. Mereka merasa bahagia ketika dapat membantu orang lain.
Yang menarik, kemurahan hati semacam ini biasanya hadir tanpa syarat.
Tidak ada kamera. Tidak ada konten. Tidak ada unggahan media sosial. Semuanya berlangsung begitu saja, alami, dan sederhana. Mungkin justru karena itulah ia terasa begitu indah.
Di zaman media sosial, ketika hampir segala sesuatu dipamerkan, ketulusan menjadi barang yang semakin langka. Banyak kebaikan dilakukan sambil menunggu pengakuan atau berharap apresiasi.
Tentu tidak semua publikasi kebaikan salah. Kadang-kadang ia dapat menginspirasi orang lain. Namun tetap saja ada sesuatu yang sangat menyentuh dari kebaikan yang tidak diketahui siapa pun selain pemberi dan penerima.
Kebaikan yang lahir murni dari dorongan hati. Tidak sedang membangun citra. Tidak sedang mencari panggung.
Masyarakat kita sebenarnya masih menyimpan banyak kebaikan. Mungkin tidak muncul dalam statistik. Tidak tercatat dalam laporan resmi. Tetapi ia hidup dalam percakapan sehari-hari, dalam hubungan antartetangga, dan dalam kebiasaan saling membantu.
Di kampung sering terlihat seseorang mengantar makanan kepada tetangga yang sakit atau bergotong royong memperbaiki rumah. Masih terlihat orang-orang menyisihkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membantu tanpa mengharapkan imbalan.
Barangkali inilah yang dimaksud Rousseau bahwa manusia pada dasarnya baik. Kebaikan itulah yang membuat kehidupan menjadi lebih hangat dan lebih layak dijalani.
Karena itu, mungkin kita perlu lebih sering memperhatikan kebaikan-kebaikan kecil yang terjadi di sekitar kita. Dunia tidak hanya berisi konflik dan pertengkaran. Dunia juga dipenuhi oleh orang-orang yang masih bersedia berbagi meskipun hidup sederhana. Orang-orang yang masih percaya bahwa membantu sesama adalah bagian dari kemanusiaan.
Mereka tidak menulis buku tentang kebaikan. Mereka tidak memberikan ceramah tentang kemurahan hati. Mereka hanya mempraktikkannya. Dan sering kali, praktik sederhana semacam itu jauh lebih kuat daripada seribu kata.
Kalau kita renungkan, yang membuat sebuah masyarakat tetap bertahan bukanlah kekayaan, melainkan jaringan kebaikan yang menghubungkan manusia satu sama lain. Ketika orang masih mau berbagi, masih mau membantu, dan masih mau memberi tanpa syarat, harapan akan selalu ada.
Betapa indahnya jika semangat itu terus hidup. Orang yang berkelimpahan berbagi dengan ikhlas kepada yang membutuhkan. Orang yang hidup sederhana memelihara kemurahan hati. Semua dilakukan tanpa pamrih, tanpa kamera, tanpa pencitraan, dan tanpa berharap untuk dipuji.
Hanya karena hati mereka tergerak. Hanya karena mereka memahami bahwa menjadi manusia bukan sekadar menerima sebanyak-banyaknya, melainkan juga memberi sebisa-bisanya.
Dan mungkin, di sanalah letak salah satu bentuk kemuliaan manusia yang paling indah, yaitu kemampuan untuk bermurah hati tanpa syarat.

0 comments :
Post a Comment