Secara psikologis, saya terkadang merasa terjebak dalam lingkaran kehidupan yang sempit, seolah berjalan dalam pola yang sama. Kehidupan di kampung lebih banyak diisi dengan rutinitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Percakapan berkisar pada urusan praktis: harga beras, cuaca, atau pekerjaan esok hari. Semua itu wajar, tetapi saya merasa membutuhkan ruang yang lebih luas untuk belajar, berpikir, dan memahami kehidupan.
Kegelisahan itu muncul ketika saya duduk di teras saung, menyaksikan cahaya matahari menerobos sela-sela dedaunan. Lingkungan kebun terasa nyaman dan menenangkan. Namun, saya mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah kenyamanan ini membuat saya menikmati kehidupan, atau justru perlahan-lahan membuat terlena? Jangan-jangan, tanpa disadari, saya membiarkan hari-hari berlalu dalam rutinitas yang sama, sementara keinginan untuk belajar semakin memudar.
Saya menyadari bahwa persoalannya bukan semata-mata lingkungan tempat tinggal. Ada bagian dari diri sendiri yang perlu diperiksa. Lingkungan memang memengaruhi cara berpikir dan kebiasaan, tetapi saya juga memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana menyikapinya. Jika merasa wawasan masih terbatas, apakah saya sudah cukup berusaha membaca? Jika percakapan sehari-hari belum memenuhi kebutuhan intelektual, apakah saya sudah berinisiatif mencari sumber pengetahuan lain? Ataukah saya hanya mengeluhkan keadaan tanpa sungguh-sungguh melakukan perubahan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya melihat persoalan ini dengan cara berbeda. Selama ini, mungkin terlalu mudah menganggap lingkungan sebagai penyebab keterbatasan. Padahal, saya ikut mempertahankan keterbatasan tersebut ketika memilih untuk tidak belajar, enggan mencoba hal baru, atau terlalu nyaman dengan kebiasaan.
Saya memahami bahwa kebanyakan orang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Tidak ada yang salah dengan itu. Kebutuhan dasar memang harus dipenuhi, dan banyak pelajaran berharga dapat ditemukan dalam pengalaman hidup masyarakat sederhana. Namun, kehidupan pribadi tidak cukup hanya diisi dengan rutinitas. Saya masih membutuhkan kesempatan untuk memperluas wawasan, mempelajari pemikiran orang lain, dan menemukan makna dari berbagai pengalaman yang telah dilalui.
Setelah pensiun, saya memang tidak lagi mengejar jabatan, pangkat, atau keberhasilan dalam pekerjaan. Saya ingin menikmati kehidupan yang lebih sederhana. Akan tetapi, kesederhanaan tidak berarti harus berhenti bertumbuh. Justru ketika waktu lebih banyak tersedia, saya memiliki kesempatan untuk membaca buku, menyimak gagasan para cendekiawan, dan memikirkan kembali pengalaman hidup. Saya ingin memahami dunia bukan hanya dari apa yang saya lihat setiap hari, tetapi juga dari pengetahuan dan pengalaman orang lain.
Buku menjadi salah satu jalan untuk memperluas pandangan. Melalui bacaan, dapat mengenal pemikiran yang berbeda, mempertanyakan keyakinan sendiri, dan memahami persoalan dari sudut pandang yang sebelumnya tidak terpikirkan. Namun, membaca saja tidak cukup. Apa yang saya baca perlu direnungkan dan dihubungkan dengan kenyataan. Pengetahuan semestinya membantu saya memahami kehidupan dengan lebih baik, bukan sekadar menambah bahan pembicaraan atau membuat saya merasa lebih pintar daripada orang lain.
Karena itu, saya juga berusaha menulis. Pengalaman masa lalu, hubungan dengan keluarga, perjumpaan dengan orang lain, serta berbagai peristiwa setelah pensiun menjadi bahan refleksi. Dengan menulis, saya dapat melihat kembali pengalaman yang dahulu terasa biasa, menemukan kesalahan yang belum sepenuhnya saya sadari, dan mengambil pelajaran darinya. Saya tidak ingin sekadar mengumpulkan kenangan, tetapi berusaha menjadikannya bekal untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
Bagi saya, menembus batas berarti berani memeriksa keterbatasan diri sendiri dan berusaha melampauinya. Bukan dengan meninggalkan kampung, melainkan dengan menjaga agar pikiran tidak berhenti berkembang. Saya tetap bisa berkebun, mengurus rumah, berbincang dengan tetangga, dan menikmati suasana saung. Pada saat yang sama, saya dapat membaca, belajar, dan merenungkan persoalan yang lebih luas.
Tentu saja, perubahan tidak selalu mudah. Ada rasa malas, keraguan, dan godaan untuk kembali larut dalam kenyamanan rutinitas. Kadang-kadang kita merasa sudah cukup mengetahui banyak hal sehingga tidak lagi terdorong untuk mencari pengetahuan baru. Ada pula kecenderungan mempertahankan pendapat sendiri dan enggan mengakui bahwa pandangan kita mungkin keliru. Tanpa disadari, sikap seperti ini dapat menjadi batas yang lebih sulit ditembus daripada keterbatasan lingkungan.
Saya tidak ingin terjebak dalam keadaan semacam itu. Selama masih diberi kesempatan, ingin terus belajar, mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap biasa, dan memperbaiki cara berpikir maupun bertindak. Langkahnya tidak harus besar. Membaca beberapa halaman buku, menulis catatan refleksi, mendengarkan pemikiran orang lain, atau mengakui kesalahan sendiri merupakan bagian dari proses tersebut. Yang penting bukan seberapa cepat perubahan terjadi, melainkan kesediaan untuk terus melakukannya.
Ukuran keberhasilan belajar bukan sekadar banyaknya buku yang dibaca atau luasnya pengetahuan yang dimiliki. Yang lebih penting adalah apakah pengetahuan itu membuat kita lebih bijaksana, lebih adil dalam memperlakukan orang lain, dan lebih peduli terhadap lingkungan. Jika wawasan bertambah tetapi justru menumbuhkan kesombongan, berarti ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali. Belajar seharusnya membantu kita menjadi manusia yang lebih baik, bukan merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Kini, saya tidak lagi memandang kampung sebagai tempat yang harus ditinggalkan agar seseorang dapat berkembang. Kampung adalah tempat saya menjalani kehidupan, sementara buku, pengalaman, dan pemikiran orang lain membantu saya memahami kehidupan itu secara lebih luas. Tidak harus mengubah seluruh keadaan di sekitar untuk memulai perubahan. Hanya perlu memastikan bahwa diri sendiri tidak berhenti belajar karena terlalu lama menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah.
Kita memang memiliki batas masing-masing. Sebagian berasal dari keadaan di luar kendali kita, tetapi sebagian lainnya mungkin terbentuk dari kebiasaan, ketakutan, kemalasan, atau keengganan untuk berubah. Mengenali perbedaan keduanya merupakan langkah awal yang penting. Kita tidak perlu menyalahkan diri atas segala keterbatasan, tetapi juga tidak seharusnya menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
Bagi saya, inilah makna menembus batas pada masa pensiun: bukan lagi berjuang mengejar kedudukan atau membuktikan keberhasilan kepada orang lain, melainkan menjaga agar rasa ingin tahu tetap hidup dan pikiran terus bertumbuh. Boleh tinggal di kampung, menjalani kehidupan yang sederhana, dan menikmati ketenangan kebun. Namun, saya tidak ingin membiarkan kenyamanan membuat saya berhenti belajar.
Selama masih bernapas, kesempatan untuk memperbaiki diri tetap terbuka. Barangkali kita tidak selalu bisa mengubah lingkungan tempat tinggal, tetapi kita masih dapat mengubah cara memandang, memahami, dan menyikapi kehidupan. Sebelum mengeluhkan sempitnya dunia di sekitar kita, ada baiknya bertanya: sudah sejauh mana kita berusaha memperluas dunia di dalam diri sendiri?
@suheryana_bae
Catatan Pensiunan 67
0 comments :
Post a Comment