Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 70 : MEMULIAKAN TAMU

CATATAN PENSIUNAN 70 : MEMULIAKAN TAMU

Written By Suheryana Bae on Saturday, June 13, 2026 | 7:57 PM


Tamu adalah orang yang dimuliakan. Di kampung, jauh hari sebelum tamu datang, rumah dirapikan. Halaman disapu, ruang tamu dibersihkan, dan berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut kedatangan mereka. Ada yang memotong ayam, bahkan ngabedahkeun kolam (menguras kolam untuk mengambil ikan). Makanan terbaik yang dimiliki keluarga disajikan. Piring dan gelas yang sehari-hari tersimpan rapi di lemari dikeluarkan. Sprei tempat tidur diganti agar tamu merasa lebih nyaman.

Semua dilakukan dengan sukacita, tanpa merasa terbebani. Ada kebahagiaan tersendiri ketika dapat menyambut tamu dengan baik. Kehadiran tamu dianggap membawa keberkahan. 

Sejak kecil, saya melihat bagaimana orang tua memperlakukan tamu dengan penuh hormat. Mereka berusaha memberikan yang terbaik, meskipun terkadang harus menyisihkan sesuatu yang sebenarnya dapat dinikmati bersama keluarga.

Tradisi tersebut memiliki banyak sisi baik. Memuliakan tamu merupakan wujud keramahan, kepedulian, dan penghormatan kepada sesama manusia. Kebiasaan itu mempererat hubungan sosial, menjaga kehangatan, dan memelihara harmoni kehidupan bermasyarakat. Persahabatan dan persaudaraan tumbuh subur ketika seseorang merasa diterima dan dihargai.

Namun, seiring bertambahnya usia, saya mulai melihat tradisi ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Sering kita jumpai rumah yang mendadak tampak lebih rapi ketika akan kedatangan tamu. Perabotan terbaik dikeluarkan, makanan istimewa. Sementara itu, dalam keseharian, keluarga hidup jauh lebih sederhana.

Mengapa yang terbaik sering kali disimpan untuk orang lain? Mengapa piring yang bagus lebih sering digunakan untuk tamu daripada untuk keluarga sendiri? Mengapa makanan istimewa terasa lebih layak disajikan kepada orang lain daripada kepada mereka yang setiap hari hidup bersama kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan berarti kita harus berhenti memuliakan tamu. Sama sekali bukan. Tamu tetap layak dihormati dan disambut dengan baik. Keramahan tetap merupakan nilai yang harus dijaga. Namun, ada satu hal yang selama ini kurang mendapat perhatian, yaitu memuliakan diri sendiri dan keluarga.

Kadang-kadang, kita begitu sibuk memberikan penghargaan kepada orang lain hingga lupa memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Kita menunggu tamu datang untuk membersihkan rumah, padahal keluarga yang tinggal di dalamnya berhak menikmati rumah yang bersih dan nyaman. Kita menunggu tamu datang untuk mengeluarkan peralatan makan yang bagus, padahal keluarga sendiri juga pantas menikmati keindahan yang sama. Ketika ada tamu adalah momen untuk menyajikan makanan terbaik, padahal orang-orang yang kita cintai juga layak mendapatkan perhatian.

Ada sesuatu yang menarik dalam cara sebagian orang memperlakukan barang-barang miliknya. Mereka merasa sayang menggunakan barang terbaik untuk kebutuhan sehari-hari. Semuanya disimpan untuk kesempatan istimewa. Sehingga, cangkir, gelas, peralatan makan, dan perlengkapan tidur terbaik hanya menjadi koleksi yang tersimpan rapi di lemari.

Padahal, hidup sesungguhnya berlangsung hari ini. Bukan pada acara yang belum tentu terjadi, bukan pula hanya ketika tamu berkunjung.

Memuliakan diri bukan berarti hidup berlebihan atau memanjakan diri tanpa batas. Memuliakan diri berarti mengakui bahwa kita juga berharga. Kesehatan, kenyamanan, kebersihan, dan ketenangan hidup bukanlah sesuatu yang harus menunggu kehadiran orang lain.

Rumah yang bersih dan tertata bukan hanya untuk menyenangkan tamu, melainkan juga untuk dinikmati bersama keluarga. Makanan yang baik bukan hanya untuk menjamu orang lain, tetapi terutama untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Tempat tidur yang nyaman bukan semata-mata disediakan bagi tamu, melainkan juga layak dinikmati oleh penghuninya sendiri.

Keluarga adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita. Mereka hadir bukan sesekali, melainkan setiap hari. Mereka turut mengalami suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, kesehatan dan sakit. Bukankah mereka juga layak mendapatkan perhatian terbaik dari kita?

Mungkin sudah saatnya kita memandang kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang istimewa. Tidak semua hal baik harus menunggu momen khusus. Tidak semua penghargaan harus diberikan kepada orang lain dengan mengabaikan diri sendiri dan keluarga.

Tetap memuliakan tamu ketika mereka datang, ramah dan penuh penghormatan. Namun, jangan lupa memuliakan diri sendiri dan keluarga yang setiap hari hadir dalam kehidupan kita.

Sebab, menghargai diri sendiri bukan berarti mengurangi penghargaan kepada orang lain. Justru, ketika kita mampu menghargai diri sendiri dan memperhatikan keluarga dengan baik, kita sedang membangun kehidupan yang lebih seimbang. Rumah yang memberikan perhatian dan kenyamanan kepada penghuninya akan selalu memiliki cukup kehangatan untuk menyambut siapa pun yang datang.


0 comments :

Post a Comment