Papillon pernah berkata, "Aku ingin hidup dalam setiap situasi." Menurut seorang mantan penyiar BBC, itulah sejatinya makna dari *survival*. Sebuah tekad yang terdengar mahahebat, dan barangkali sedikit pongah. Tapi, memang demikianlah Papillon. Ia adalah lambang dari kedegilan manusia yang menolak menyerah pada keadaan. Sepanjang hidupnya, berkelahi dengan algojo penjara, dikurung di ruang bawah tanah yang pengap, hingga dipukuli gada-gada sampai pingsan. Tubuhnya pernah dibelenggu sedemikian rupa sehingga untuk makan pun ia tidak bisa menggunakan tangan. Ia dipaksa makan sambil merayap seperti binatang, mondar-mandir di seputar ruang tahanan yang sempit, dan merenungi kegelapan. Namun, di balik segala penderitaan fisik, Papillon selalu punya satu hal yang tidak bisa dirampas oleh jeruji besi, yakni semangat hidup yang menyala-nyala.
Melihat penderitaan yang dialami Papillon, ada baiknya kalau kita sejenak merenungkan kata-kata sastrawan Iwan Simatupang. Beliau pernah berujar bahwa kalau penderitaan itu abadi, maka sesungguhnya tidak ada lagi penderitaan. Karena sesuatu yang abadi, yang terus-menerus hadir tanpa jeda, lambat laun akan terasa biasa. Ia akan melebur menjadi bagian dari keseharian dan kehilangan pengaruhnya untuk menyiksa. Kalimat ini memang sebuah satire yang tajam, sebuah cara sinis untuk menertawakan kemalangan. Namun, di balik ironi tersebut, tersimpan sebuah kebenaran psikologis tentang adaptasi manusia terhadap rasa sakit.
Benar atau tidaknya perkataan Iwan Simatupang, toh hidup pada akhirnya memang selalu memerlukan keberanian. Menariknya, dalam bentang realitas yang kita hadapi sehari-hari, berani hidup boleh jadi sama sulitnya dengan berani mati. Bahkan, sering kali memilih untuk terus melangkah di tengah badai membutuhkan nyali yang jauh lebih besar. Situasi yang kita hadapi mungkin tidak mengenakan, penuh tekanan, dan mengecewakan. Tapi di situlah letak kuncinya, bahwa keberanian menghadapi ketidakenakan sejatinya adalah definisi dari keberanian itu sendiri. Keberanian bukan tentang ketiadaan rasa takut atau penderitaan, melainkan tentang keputusan untuk tetap tegak berdiri meski badai menghantam.
Morris West meminjam metafora Salamander terkait kemampuan adaptasi luar biasa ini. Dalam berbagai mitologi dan literatur, Salamander digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kepribadian fleksibel dan mampu bertahan hidup dalam situasi ekstrem apa pun. Bisa berada dan tetap hidup, baik di dalam api, air, udara, maupun daratan. Tidak mengeluh ketika harus berada di bentangan Gurun Sahara yang membakar, rimbunnya hutan belantara, padang pasir yang sunyi, atau daerah gersang yang mematikan. Fleksibilitas ini juga berlaku dalam spektrum sosial; seseorang tetap menjadi dirinya yang utuh baik saat berada di desa, kota besar, hotel mewah, gubuk, kompleks elite, maupun di tengah kampung kumuh.
Mestinya, kita belajar dari keteguhan ini dan mulai menikmati setiap proses kehidupan. Mencontoh perjuangan Papillon bukan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai bahan bakar untuk menempa mental kita sendiri. Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dengan merutuki nasib. Ketika kita mampu meniru kelenturan salamander, kita tidak akan lagi rapuh oleh perubahan zaman atau rontok karena ujian. Kita akan belajar untuk terus hidup, tumbuh, dan berkembang dalam setiap situasi yang Mahapencipta hidangkan di hadapan kita.

0 comments :
Post a Comment