1. Man's Search for Meaning — Viktor Frankl. Kesaksian seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi, sekaligus fondasi logoterapi: manusia bisa bertahan dari penderitaan apa pun selama ia menemukan makna di baliknya.
2. Man and His Symbols — Carl Jung. Pengantar paling ramah ke dunia bawah sadar, arketipe, dan simbol — cara Jung membaca mimpi dan mitos sebagai bahasa jiwa.
3. On Becoming a Person — Carl Rogers. Buku yang menjelaskan mengapa penerimaan tanpa syarat, baik dari orang lain maupun diri sendiri, adalah syarat pertumbuhan psikologis yang sehat.
4. Sapiens — Yuval Noah Harari. Sejarah manusia dibaca ulang lewat lensa mitos bersama — uang, agama, bangsa — sebagai fiksi yang mengikat jutaan orang asing untuk bekerja sama.
5. Humankind — Rutger Bregman. Argumen yang menantang asumsi bahwa manusia pada dasarnya egois, dengan bukti historis bahwa kerja sama justru lebih sering menang daripada kekerasan.
6. The Denial of Death— Ernest Becker. Buku berat tapi penting: bagaimana ketakutan tak sadar akan kematian membentuk hampir semua perilaku dan institusi manusia.
7. Sang Nabi— Kahlil Gibran. Prosa liris tentang cinta, pekerjaan, kebebasan, dan kesedihan — filsafat yang dibungkus bahasa puisi.
8. Existentialism Is a Humanism — Jean-Paul Sartre. Pengantar singkat tapi padat ke gagasan bahwa manusia dihukum untuk bebas, dan karenanya bertanggung jawab penuh atas dirinya.
9. The Varieties of Religious Experience — William James. Kajian klasik tentang pengalaman spiritual sebagai fenomena psikologis, ditulis tanpa menghakimi keyakinan siapa pun.
10. Api Sejarah atau esai-esai Emha Ainun Nadjib — perpaduan khas pemikiran Jawa, sufisme, dan kritik sosial yang jarang ditemukan di buku non-fiksi

0 comments :
Post a Comment