Powered by Blogger.
Home » » RENUNGAN SPIRITUAL 1 : BERJARAK DARI DUNIA

RENUNGAN SPIRITUAL 1 : BERJARAK DARI DUNIA

Written By Suheryana Bae on Friday, July 3, 2026 | 6:47 AM


Kita sering berbohong pada diri sendiri. Kita berkata bahwa kita sudah tidak butuh dunia lagi. Pertanyaannya, benarkah? Atau hanya topeng agar terlihat bijak? Sebab selama masih ada iri melihat tetangga naik mobil, selama masih deg-degan ketika melihat like di medsos, selama masih memperbincangkan jabatan—pengakuan itu adalah dusta. Dunia masih melekat, hanya bersembunyi di balik kata-kata.

Inilah paradoks manusia, kita ingin zuhud, tapi masih terkagum-kagum pada keberhasilan orang. Kita terpesona pada popularitas, pada tumpukan harta, pada pengakuan digital. Menurut Al-Ghazali, dunia seperti air laut: semakin diminum, semakin haus.

Kemudian seiring pertambahan usia, ketika rambut memutih dan langkah semakin mendekat ke tanah merah, kita mempertanyakan tujuan hidup. Mengapa mengejar jabatan yang akan berganti, harta yang akan ditinggalkan, dan nama yang akan dilupakan? Muncullah hasrat baru, bukan lagi ingin menjadi bintang kehidupan, tapi ingin sehat, ingin tenang, ingin cukup. Inilah titik balik—kembali, meski perlahan, ke arah yang lebih hakiki.

Namun berjarak dari dunia bukan berarti membenci rezeki atau mengasingkan diri ke gua. Jalaluddin Rumi mengingatkan bahwa dunia adalah ladang untuk akhirat, bukan musuh yang harus ditiadakan. Masalahnya bukan pada dunia, tapi pada hubb al-dunya—cinta yang memperbudak. Cinta berlebih membuat kita buta, tidak lagi melihat berkah, melainkan kekurangan. Padahal jika direnungkan, apa yang kita miliki hari ini adalah kebaikan yang tak terhitung. Nafas yang kita hirup, matahari pagi, dan kekuatan fisik sudah lebih dari cukup.

Dari kesadaran itu lahir rasa syukur. Bukan syukur yang diucapkan di bibir semata, tapi syukur sebagai pilihan hidup, menerima kondisi apapun, pencapaian apapun, peran apapun, tanpa protes. Dengan syukur, kita tidak menuntut dunia berubah, tapi mengubah cara memandang dunia. Penghayatan syukur membuat kita mampu melihat hikmah di balik sakit, pelajaran di balik kegagalan, dan rahmat di balik kesederhanaan. Kita selalu menemukan alasan untuk berterima kasih.

Dengan syukur sebagai pijakan, bekerja pun berubah makna. Kita berusaha, tapi tidak terobsesi pada hasil. Kita berikhtiar, tapi tidak gelisah menanti validasi. Nilai sebuah usaha tidak diukur dari pujian, melainkan dari niat dan konsistensi. Kita bekerja untuk memberi, bukan untuk mendapat pujian. Kita menulis, mengajar, atau mengurus keluarga—semua itu cukup. Tidak perlu diumumkan atau diviralisasi. Hati yang tenang adalah imbalan tertinggi.

Kini saatnya bersikap bodo amat—tidak lagi menggantungkan harga diri pada penilaian orang lain. Itulah sikap tawakal; pasrah setelah usaha, tapi bukan fatalisme. Kita tetap berkarya, tapi hasilnya kita serahkan kepada Maha Pencipta. Kita lepaskan kecemasan akan penilaian, karena yang paling tahu isi hati kita hanyalah Dia. Pencapaian orang lain bukan lagi ancaman, melainkan tontonan biasa. Kita tidak iri, karena fokus mensyukuri kehidupan sendiri.

Keputusan mengambil jarak dari dunia adalah perjalanan panjang, tidak terjadi dalam semalam. Kita mungkin sesekali tergoda, sesekali iri, mendambakan pengakuan. Itu wajar. Yang penting adalah kita beranjak dari gemerlap ke ketenangan, dari ambisi ke penerimaan, dari keangkuhan ke kerendahan hati. Di ujung usia, ketika langkah semakin lambat, semoga yang kita bawa bukan penyesalan, melainkan nikmatnya bersyukur. Sebab "cukup" adalah kekayaan sejati. Untuk itu, kita tak perlu menjadi bintang yang dipuja. Cukup menjadi diri yang sadar: segala yang fana akan berlalu, dan hanya kedekatan pada-Nya yang abadi.


0 comments :

Post a Comment