DRAFT
Seiring bertambahnya usia, fungsi tubuh perlahan mengalami berbagai penurunan. Tidak sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit. Yang dahulu terasa ringan, sekarang mulai membutuhkan tenaga. Yang dulu dapat dilakukan berjam-jam, kini mungkin hanya sanggup beberapa puluh menit.
Ketika masih muda, rasanya begitu mengasyikkan menantang kemampuan tubuh. Berolahraga, latihan bela diri, berjalan jauh, bermain di bawah hujan, berpanas-panasan, tidur larut malam, semuanya seperti sebuah petualangan. Ada rasa penasaran: sampai di mana batas kemampuan tubuh ini? Seberapa jauh tubuh mampu bertahan?
Pada masa itu, tubuh terasa seperti sahabat yang selalu bisa diandalkan. Didorong sedikit, ia mengikuti. Dipaksa lebih keras, ia masih mampu bangkit. Bahkan setelah kelelahan, tubuh seperti memiliki kemampuan ajaib untuk memulihkan dirinya sendiri.
Tetapi waktu mempunyai hukum yang tidak dapat ditawar.
Perlahan kemampuan fisik berkurang. Semakin berkurang. Dan semakin berkurang. Napas tidak lagi sepanjang dahulu. Lutut mulai memberikan tanda. Pinggang kadang terasa ngilu. Mata tidak setajam dulu. Pendengaran mulai berkurang. Tidur pun tidak selalu senyenyak masa muda.
Bersamaan dengan itu, beberapa penyakit mulai hinggap. Satu per satu, kemudian mungkin datang bersama-sama. Ada darah tinggi, gula, kolesterol, asam urat, jantung, atau berbagai keluhan lain yang dahulu tidak pernah terpikirkan. Tubuh yang dulu begitu perkasa akhirnya mulai menunjukkan bahwa ia memiliki batas.
Pada titik tertentu, kita mulai menyadari bahwa dokter dan obat pun tidak selalu mampu menyelesaikan semua persoalan kesehatan. Bukan karena dokter tidak hebat atau obat tidak berguna. Justru keduanya tetap penting. Tetapi ada perkara yang memang berada di luar kemampuan manusia: waktu, penuaan dan hukum alam yang melekat pada kehidupan.
Dukun dan tukang urut pun, bagaimana pun hebatnya, pada akhirnya harus menyerah dan mengakui kekuasaan sang waktu.
Maka barangkali persoalan terbesar pada usia senja bukan lagi bagaimana mengalahkan penyakit, melainkan bagaimana hidup berdampingan dengannya.
Berdamai dengan penyakit bukan berarti menyerah kepada penyakit. Bukan pula berarti berhenti berobat, berhenti menjaga tubuh, atau membiarkan diri tenggelam dalam keluhan. Berdamai berarti menerima kenyataan bahwa tubuh kita tidak lagi seperti dahulu.
Ada sesuatu yang sangat penting dalam penerimaan itu: kita berhenti memusuhi kenyataan.
Ketika tubuh sakit, kita berobat. Ketika harus minum obat, kita minum. Ketika harus mengurangi makanan tertentu, kita mengurangi. Ketika tubuh meminta istirahat, kita memberinya kesempatan untuk beristirahat. Tetapi setelah semua itu dilakukan, kehidupan tidak boleh berhenti hanya karena tubuh tidak lagi sempurna.
Justru di sinilah perjuangan memasuki babak yang berbeda.
Pada masa muda, perjuangan mungkin berarti menaklukkan dunia. Mengejar pendidikan, pekerjaan, jabatan, penghasilan, keluarga, dan berbagai cita-cita. Kita berlari mengejar masa depan seolah-olah waktu akan selalu tersedia.
Pada usia senja, puncak perjuangan itu mungkin justru bukan lagi menaklukkan dunia, melainkan menerima diri sendiri.
Menerima tubuh yang berubah. Menerima kemampuan yang menurun. Menerima kenyataan bahwa tidak semua keinginan dapat diwujudkan. Menerima bahwa sebagian orang yang dahulu berjalan bersama kita kini telah lebih dahulu meninggalkan dunia. Dan menerima bahwa pada akhirnya perjalanan setiap manusia akan sampai pada titik yang sama: kembali kepada Sang Pencipta.
Namun menerima bukan berarti pasrah tanpa daya.
Selama masih diberi kesempatan hidup, api semangat mesti tetap dijaga. Bahkan mungkin harus dinyalakan lebih kuat. Gairah hidup perlu dipelihara dengan menciptakan aktivitas yang menyenangkan dan bermakna. Membaca, menulis, berkebun, berjalan kaki, bercengkerama dengan keluarga, bertemu sahabat, belajar sesuatu yang baru, beribadah, atau sekadar menikmati pagi dengan secangkir kopi dan udara yang segar.
Kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk merasa hidup.
Kadang-kadang justru hal-hal sederhana yang membuat kehidupan terasa utuh. Melihat tanaman tumbuh. Mendengar suara burung. Menyaksikan cucu tertawa. Menyelesaikan beberapa halaman buku. Menulis satu paragraf. Berjalan di halaman rumah. Atau duduk diam setelah salat, merasakan betapa panjang perjalanan yang telah dilalui.
Kebahagiaan pada usia senja bukan lagi soal seberapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan seberapa dalam kita mampu mensyukuri apa yang masih ada.
Karena itu, jangan biarkan penyakit mengambil seluruh perhatian kita. Jangan sampai hidup hanya menjadi percakapan tentang obat, rumah sakit, hasil pemeriksaan, dan keluhan tubuh. Penyakit memang bagian dari kehidupan, tetapi ia bukan keseluruhan kehidupan.
Kita masih mempunyai pikiran untuk membaca, hati untuk mencintai, tangan untuk berkarya, kaki untuk bergerak sejauh yang mampu, dan jiwa untuk mendekat kepada Tuhan.
Mungkin inilah puncak perjuangan manusia pada usia senja: bukan memperpanjang hidup dengan segala cara, melainkan mengisi sisa kehidupan dengan kesadaran, ketenangan, dan kebermaknaan.
Kita tidak tahu berapa lama lagi waktu yang tersisa. Tetapi kita masih memiliki hari ini.
Maka jalani hari ini sebaik-baiknya.
Jangan menyerah kepada penyakit. Jangan pula berperang melawan kenyataan yang memang tidak mungkin dikalahkan. Berdamailah dengan tubuh, berdamailah dengan usia, berdamailah dengan kehidupan.
Sebab menyerah kepada kehidupan berarti ambruk sebelum waktunya. Tetapi menerima kehidupan dengan ikhlas berarti tetap berdiri, meskipun perlahan, sampai suatu hari Tuhan memanggil kita pulang.
Dan ketika saat itu tiba, semoga kita tidak pulang sebagai manusia yang kalah, melainkan sebagai manusia yang telah menyelesaikan perjuangannya dengan tenang: menerima, bersyukur, mencintai, dan ikhlas kembali ke haribaan Mahapencipta.

0 comments :
Post a Comment