Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 100 : Puncak Perjuangan

Catatan Pensiunan 100 : Puncak Perjuangan

Written By Suheryana Bae on Wednesday, August 19, 2026 | 6:33 AM


Seiring bertambahnya usia, fungsi tubuh perlahan mengalami berbagai penurunan. Sedikit demi sedikit. Mengangkat sesuatu yang dahulu terasa ringan, sekarang membutuhkan tenaga ekstra. Yang dulu dapat dilakukan berjam-jam, kini hanya sanggup beberapa puluh menit.

Ketika masih muda, rasanya begitu mengasyikkan menantang kemampuan tubuh. Berolahraga, latihan bela diri, berjalan jauh, bermain di bawah hujan, panas-panasan, dan tidur larut malam. Sebuah petualangan. Ingin membuktikan, sampai di mana batas kemampuan tubuh.

Di masa muda, tubuh terasa seperti sahabat yang bisa diandalkan. Didorong sedikit, ia melesat. Dipaksa, masih mampu mengimbangi. Bahkan setelah kelelahan, tubuh seperti memiliki kemampuan misterius untuk memulihkan dirinya sendiri.

Tetapi sang waktu mempunyai hukum yang tidak dapat ditawar.

Perlahan kemampuan fisik berkurang dan semakin berkurang. Napas tersengal dalam perjalanan panjang. Di malam hari selonjoran untuk merasakan lutut yang nyeri. Mata tidak setajam dulu, pendengaran berkurang. Bahkan di tengah malam terbangun dan kesulitan untuk tidur.

Bersamaan dengan itu, beberapa penyakit mulai hinggap. Datang bertahap. Darah tinggi, kolesterol, asam urat, atau berbagai keluhan lain. Tubuh yang dulu begitu perkasa akhirnya mulai menunjukkan bahwa ia memiliki keterbatasan.

Pada titik tertentu, kita mulai menyadari bahwa dokter dan obat pun tidak selalu dapat menyelesaikan semua persoalan kesehatan. Bukan karena dokter kurang up to date atau obat tidak berguna. Tetapi ada perkara yang memang berada di luar kemampuan manusia; waktu, penuaan, dan hukum alam yang melekat pada kehidupan.

Dukun dan tukang urut, bagaimanapun hebatnya, pada akhirnya harus menyerah dan mengakui kekuasaan sang waktu.

Barangkali persoalan terbesar pada usia senja bukan lagi bagaimana mengalahkan penyakit, melainkan bagaimana hidup berdampingan dengan penyakit.

Berdamai dengan penyakit bukan berarti putus asa dan menerima kekalahan. Bukan pula berarti berhenti berobat, berhenti menjaga tubuh, atau membiarkan diri tenggelam dalam keluhan. Berdamai berarti menerima kenyataan bahwa tubuh kita tidak lagi seperti dahulu.

Sesuatu yang sangat penting dalam penerimaan itu adalah berhenti memusuhi kenyataan.

Ketika tubuh sakit, kita berobat. Ketika harus minum obat, kita memotivasi diri. Kita juga mengurangi makanan tertentu sesuai anjuran dokter. Mengatur istirahat, pola hidup, dan asupan makanan. Tetapi setelah semua itu dilakukan, kehidupan tidak boleh berhenti hanya karena tubuh tidak lagi sempurna.

Perjuangan memasuki babak yang berbeda.

Pada masa muda, perjuangan mungkin berarti menaklukkan dunia. Mengejar pendidikan, pekerjaan, jabatan, penghasilan, keluarga, dan berbagai cita-cita. Kita berlari mengejar masa depan.

Pada usia senja, puncak perjuangan bukan lagi menaklukkan dunia, melainkan menerima diri sendiri dan segenap kondisinya.

Menerima tubuh yang berubah, penurunan kemampuan, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua keinginan dapat diwujudkan. Mengikhlaskan sebagian orang yang dahulu mengajari kehidupan atau membersamai langkah, mendahului menghadap Mahapencipta. Dan menerima bahwa pada akhirnya perjalanan setiap manusia akan sampai pada titik yang sama, kembali kepada Sang Pencipta.

Namun selama masih bernapas, gairah mesti tetap dijaga. Bahkan mungkin harus dinyalakan lebih kuat. Gairah hidup perlu dipelihara dengan menciptakan aktivitas yang menyenangkan dan bermakna. Membaca, menulis, berkebun, berjalan kaki, bercengkerama dengan keluarga, bertemu sahabat, belajar sesuatu yang baru, beribadah, atau sekadar menikmati kesegaran udara pagi dengan secangkir teh panas, bala-bala, dan ubi rebus.

Kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar di penghujung hari.

Kadang-kadang hal-hal sederhana membuat kehidupan terasa utuh. Melihat tanaman bertumbuh, mendengar kicauan burung, memperhatikan cucu bermain riang. Menyelesaikan beberapa halaman buku, menulis satu paragraf, jalan pagi seputar kompleks, atau menghafal satu dua ayat kitab suci.

Kebahagiaan pada usia senja bukan seberapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan seberapa dalam kita mensyukuri apa yang ada.

Karena itu, jangan biarkan penyakit mengendalikan kehidupan kita. Percakapan tidak hanya tentang obat, rumah sakit, hasil pemeriksaan, dan keluhan tubuh. Ada hal lain yang menggairahkan untuk dibahas.

Kita masih mempunyai pikiran untuk membaca, hati untuk mencintai, tangan untuk berkarya, kaki untuk bergerak, dan qolbu untuk mendekat kepada Mahapencipta.

Mungkin inilah puncak perjuangan manusia pada usia senja. Bukan memperpanjang hidup dengan segala cara, melainkan mengisi kehidupan dengan kesadaran, ketenangan, dan kebermaknaan.

Kita tidak tahu berapa lama lagi waktu yang tersisa. Tetapi kita masih memiliki hari ini.

Maka semestinya jalani hari ini sebaik-baiknya.

Jangan menyerah kepada penyakit. Jangan pula berperang melawan kenyataan yang memang tidak mungkin dikalahkan. Berdamailah dengan tubuh, berdamailah dengan usia, berdamailah dengan kehidupan.

Sebab menyerah kepada kehidupan berarti ambruk dan kesempatan pun berakhir. Tetapi menerima kehidupan dengan ikhlas berarti tetap berdiri, meskipun perlahan, sampai suatu hari Sang Pemilik Kehidupan memanggil kita pulang.

Dan ketika saat itu tiba, semoga kita mencapai prestasi sebagai manusia yang telah menyelesaikan perjuangannya dengan tenang, sehingga dapat menerima, bersyukur, dan ikhlas kembali ke haribaan Mahapencipta.

0 comments :

Post a Comment