Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 96 : DI TEMPAT TERPENCIL MENGGEMBLENG DIRI

Catatan Pensiunan 96 : DI TEMPAT TERPENCIL MENGGEMBLENG DIRI

Written By Suheryana Bae on Sunday, August 9, 2026 | 8:38 PM

DRAFT

Ada masa dalam kehidupan ketika seseorang harus menerima kenyataan yang tidak pernah diharapkannya.

Saya pernah mengalaminya.

Suatu ketika, saya dipanggil pimpinan. Saya diberi tahu bahwa saya harus pindah tugas. Dari posisi sebagai sekretaris di sebuah instansi, saya dipindahkan menjadi camat di sebuah wilayah yang cukup terpencil.

Terus terang, saya sedih.

Bukan karena menjadi camat adalah pekerjaan yang rendah. Sama sekali bukan. Menjadi camat justru sebuah tanggung jawab yang penting. Tetapi perpindahan itu berarti meninggalkan lingkungan kerja yang sudah akrab, rutinitas yang sudah terbentuk, hubungan dengan banyak orang, dan kenyamanan kehidupan keluarga.

Saya harus pindah kantor. Bahkan harus tinggal di rumah dinas bersama istri.

Jaraknya cukup jauh. Kondisi jalan pada waktu itu buruk, berlubang dan banyak bagian yang rusak berat. Untuk sampai ke sana dari rumah membutuhkan perjalanan sekitar empat atau lima jam. Agar bisa memimpin apel pagi pukul 07.30, saya harus berangkat sekitar pukul dua dini hari.

Semua itu terasa seperti sebuah guncangan.

Saya tidak tahu persis apa yang menjadi pertimbangan pimpinan. Mungkin ada kepentingan organisasi. Mungkin ada dinamika politik kantor. Mungkin ada orang lain yang dianggap lebih tepat menempati posisi yang saya tinggalkan. Dalam birokrasi, hal-hal semacam itu bukan sesuatu yang selalu bisa kita pahami.

Yang jelas, keputusan sudah dibuat.

Dan saya tidak bisa menolaknya.

Pada titik seperti itu, seseorang mempunyai dua pilihan. Meratapi keadaan atau mencari cara agar keadaan yang tidak menyenangkan itu tidak menghancurkan dirinya.

Saya memilih yang kedua.

Entah mengapa, pada masa itu saya teringat pada Sutan Sjahrir.

Sjahrir adalah seorang intelektual dan pejuang kemerdekaan yang pernah mengalami pembuangan oleh pemerintah kolonial Belanda. Ia pernah ditempatkan di Boven Digul, sebuah tempat pengasingan yang jauh dari pusat kehidupan politik. Kemudian ia juga diasingkan ke Banda Neira.

Saya membayangkan betapa berat keadaan yang harus dihadapinya. Jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari kehidupan normal, terbatas dalam banyak hal, dan tidak memiliki kebebasan seperti manusia pada umumnya.

Tetapi Sjahrir tidak membiarkan keterasingan geografis menjadi keterasingan intelektual.

Ia tetap membaca. Tetap berpikir. Tetap menulis. Tetap berdiskusi. Tetap mengembangkan gagasan. Tubuhnya mungkin berada jauh dari pusat kekuasaan, tetapi pikirannya tidak pernah ikut diasingkan.

Dari sanalah saya menemukan sebuah pelajaran sederhana: keadaan boleh membatasi ruang gerak kita, tetapi tidak boleh menentukan seluruh kehidupan kita.

Saya kemudian berkata kepada diri sendiri: saya tidak mau mati.

Bukan mati secara fisik.

Saya tidak mau mati sebagai manusia yang kehilangan semangat hanya karena sebuah keputusan pimpinan. Saya tidak mau kehilangan rasa ingin tahu. Tidak mau berhenti belajar. Tidak mau berhenti membaca. Tidak mau berhenti menulis. Tidak mau membiarkan jabatan menentukan seluruh identitas saya.

Saya memang dipindahkan.

Tetapi saya tidak ingin kehilangan diri saya.

Maka saya mencoba melihat tempat baru itu dengan cara yang berbeda. Kalau saya tidak bisa mengubah keputusan pimpinan, setidaknya saya masih bisa mengubah cara saya menghadapinya.

Saya mulai memperkuat keyakinan bahwa kehidupan tidak berhenti pada satu jabatan.

Selama ini, tanpa sadar, seseorang yang bekerja dalam birokrasi bisa terlalu mudah mengidentifikasikan dirinya dengan institusi. Nama jabatan, ruangan kerja, fasilitas, relasi, kewenangan, dan penghormatan dari orang lain perlahan menjadi bagian dari identitas diri.

Ketika semua itu berubah, kita bisa merasa seolah-olah sebagian dari diri kita ikut hilang.

Padahal tidak.

Jabatan adalah sesuatu yang kita miliki untuk sementara. Ia bukan keseluruhan diri kita.

Saya mulai bertanya kepada diri sendiri: kalau jabatan ini hilang, siapa saya?

Pertanyaan itu ternyata penting.

Saya masih memiliki pikiran. Masih memiliki pengalaman. Masih memiliki kemampuan membaca dan belajar. Masih bisa menulis. Masih bisa berkomunikasi dengan orang lain. Masih bisa membangun persahabatan. Masih bisa mengembangkan diri.

Dengan kesadaran itu, saya mulai membangun kembali kedirian saya.

Saya membaca lebih banyak. Buku-buku yang sebelumnya hanya menjadi penghuni rak mulai saya buka. Saya menulis lebih intens. Saya menuangkan pikiran yang selama ini sering tertahan oleh kesibukan birokrasi.

Saya juga mulai menggunakan media sosial untuk berbagi gagasan dan menyapa kembali sahabat-sahabat lama.

Perlahan saya menemukan sesuatu yang selama ini mungkin tertutup oleh jabatan: ternyata diri saya jauh lebih luas daripada pekerjaan yang saya jalani.

Tempat tugas yang semula saya anggap sebagai keterasingan akhirnya berubah menjadi ruang belajar.

Saya belajar tentang kesunyian. Belajar tentang kesabaran. Belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Belajar memahami masyarakat dari dekat. Belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.

Dan yang paling penting, saya belajar tentang diri sendiri.

Saya menyadari bahwa manusia tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi kepadanya. Tetapi manusia masih mempunyai ruang untuk memilih respons terhadap apa yang terjadi.

Di situlah letak kemerdekaan yang sesungguhnya.

Saya tidak bisa menentukan keputusan pimpinan. Tidak bisa mengubah jalan yang rusak. Tidak bisa memperpendek jarak perjalanan. Tidak bisa memaksa keadaan kembali seperti semula.

Tetapi saya bisa menentukan apakah saya akan menjalani semua itu dengan keluhan atau dengan tekad.

Saya memilih tekad.

Saya memilih untuk tetap tumbuh.

Waktu kemudian membuktikan bahwa keputusan yang awalnya terasa menyakitkan tidak selalu membawa kita ke tempat yang buruk.

Setelah melalui masa itu dengan belajar dan berkarya, datang sebuah kesempatan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya mendapatkan tawaran untuk menduduki posisi yang lebih tinggi.

Bukan karena saya meminta belas kasihan.

Bukan karena saya meratapi nasib.

Barangkali justru karena selama berada di tempat yang saya anggap sebagai "pembuangan" itu, saya terus mengembangkan diri.

Di kemudian hari saya memahami bahwa kehidupan kadang-kadang mempunyai cara yang aneh untuk mengajari kita. Sebuah pintu yang tertutup bisa memaksa kita mencari pintu lain. Sebuah perpindahan yang awalnya terasa sebagai kemunduran bisa menjadi jalan menuju pertumbuhan.

Karena itu, sekarang ketika saya melihat kembali peristiwa tersebut, saya tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang harus disesali.

Saya justru berterima kasih.

Bukan kepada keputusan yang membuat saya sedih, tetapi kepada proses yang dipaksakan oleh keputusan itu. Sebab dari sanalah saya belajar bahwa harga diri seseorang tidak boleh sepenuhnya dititipkan kepada jabatan.

Sjahrir mengajarkan saya sesuatu yang sederhana tetapi mendalam: seseorang bisa ditempatkan jauh dari pusat kekuasaan, tetapi pikirannya tetap bisa merdeka.

Saya tentu bukan Sjahrir. Pengalaman saya juga tidak sebanding dengan penderitaan pengasingan yang dialaminya. Tetapi saya menemukan sebuah kesamaan kecil: ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan, kita tetap mempunyai pilihan untuk menentukan siapa diri kita.

Kini saya sudah pensiun.

Jabatan-jabatan itu sudah menjadi masa lalu. Ruang kerja, meja kantor, kendaraan dinas, rapat, apel pagi, dan berbagai fasilitas yang dahulu melekat pada pekerjaan perlahan tinggal kenangan.

Tetapi satu hal masih saya bawa sampai hari ini: keyakinan bahwa manusia tidak boleh berhenti tumbuh hanya karena keadaan berubah.

Dulu, ketika dipindahkan menjadi camat di wilayah terpencil, saya berkata kepada diri sendiri: saya tidak mau mati.

Sekarang saya memahami maksud kalimat itu dengan lebih baik.

Saya tidak mau mati sebelum tubuh benar-benar mati.

Saya tidak mau berhenti berpikir. Tidak mau berhenti belajar. Tidak mau berhenti membaca. Tidak mau berhenti menulis. Tidak mau berhenti bertanya. Tidak mau berhenti menjadi manusia yang ingin memahami kehidupan.

Sebab yang paling berbahaya bukanlah kehilangan jabatan.

Yang paling berbahaya adalah ketika seseorang masih hidup, tetapi semangatnya sudah mati.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya bawa dari perjalanan panjang itu: ketika sebuah keadaan menutup satu pintu, jangan sibuk meratapi pintu yang tertutup. Periksa diri sendiri. Mungkin masih ada jendela yang bisa dibuka.

Saya pernah dipindahkan.

Tetapi saya tidak kehilangan diri.

Saya pernah dijauhkan dari pusat kekuasaan.

Tetapi saya justru menemukan pusat kekuatan di dalam diri sendiri.

Dan dari sana saya belajar: selama manusia masih mau belajar dan bertumbuh, tidak ada tempat yang benar-benar bisa mengasingkannya.

0 comments :

Post a Comment