FINISHING DRAFT
Kesenangan hidup hadir dalam berbagai bentuk. Sejak kecil kita mengenal berbagai permainan. Anak-anak berlari, bermain bola, bersepeda, perang-perangan, tertawa tanpa memikirkan hari esok. Dunia sederhana, yang penting menyenangkan.
Hidup tanpa kegembiraan juga bukan kehidupan yang sehat. Manusia membutuhkan rekreasi, humor, permainan, pertemanan, seni, perjalanan, dan berbagai bentuk kesenangan untuk membuat hidup tidak terasa seperti beban.
Johan Huizinga, sejarawan Belanda, melihat manusia sebagai Homo Ludens, manusia yang bermain. Permainan bukan sesuatu yang remeh, ia berhubungan dengan kebudayaan manusia. Bahkan permainan mengandung aturan, disiplin, kompetisi, keindahan, kreativitas, dan kesungguhan.
Persoalannya bukan pada bermain, tetapi ketika hidup secara keseluruhan berubah menjadi permainan.
Ketika sepanjang hidup sibuk mencari kesenangan. Di masa muda mengejar kesenangan, bekerja untuk mengejar kesenangan, bahkan uang digunakan semata untuk kesenangan. Hari-hari penuh dengan aktivitas, tetapi ketika malam tiba dan semuanya selesai, muncul pertanyaan: apa sebenarnya yang sudah dilakukan dalam hidup ini?
Pertanyaan semacam itu datang di usia senja.
Bukan karena kesenangan itu tidak berguna, tetapi karena manusia pada akhirnya membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rasa senang. Kita membutuhkan rasa berarti, hidup yang bermakna.
Ada perbedaan antara hidup yang menyenangkan dan hidup yang bermakna.
Hidup yang menyenangkan membuat kita merasa nyaman, sementara hidup yang bermakna membuat kita merasa berguna.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru kehidupan yang baik adalah kehidupan yang mampu mempertemukan keduanya. Kita boleh tertawa, tetapi juga perlu memiliki sesuatu yang diperjuangkan. Kita boleh berlibur, tetapi juga memiliki tempat untuk kembali dan orang-orang yang membutuhkan kehadiran kita. Boleh menikmati hasil kerja, tetapi juga perlu bertanya apakah pekerjaan kita memberikan manfaat bagi orang lain.
Barangkali inilah salah satu persoalan manusia modern. Banyak hal yang mestinya merupakan sarana berubah menjadi tujuan.
Uang yang semula diperlukan untuk hidup akhirnya dikejar demi uang itu sendiri. Teknologi yang semula dibuat untuk memudahkan kehidupan justru membuat kita sulit melepaskan diri. Hiburan yang semula menjadi jeda dari kehidupan akhirnya menjadi kehidupan itu sendiri.
Kita menonton satu video, kemudian video berikutnya. Membuka satu informasi, kemudian informasi lain. Mengikuti kehidupan orang lain sampai lupa menjalani kehidupan sendiri.
Kita merasa sedang mengisi waktu, padahal sedang menyia-nyiakan waktu.
Sibuk mencari hiburan sampai tidak sempat mengenal diri sendiri.
Karena itu, menjadi dewasa sesungguhnya bukan berarti kehilangan kemampuan bermain. Sebaliknya, kita perlu mempertahankan kegembiraan masa kanak-kanak, tetapi menambahkan kedalaman sebagai orang dewasa.
Anak kecil bermain karena dunia terasa menyenangkan. Orang dewasa yang matang bermain sambil tetap memahami tanggung jawab yang melekat pada dirinya.
Seorang petani mungkin menikmati pekerjaannya. Tangan kotor oleh tanah, tubuh berkeringat, tetapi ia bahagia melihat tanaman tumbuh. Seorang guru mungkin lelah mengajar, tetapi merasa hidupnya berarti ketika melihat muridnya berkembang. Seorang penulis tidak menjadi kaya dari tulisannya, tetapi merasa puas ketika tulisannya menginspirasi. Seorang ayah atau ibu mungkin tidak mendapatkan penghargaan apa pun karena merawat keluarganya, tetapi justru di situlah letak makna hidupnya.
Bekerja serius, tetapi tidak kehilangan kegembiraan. Fight and have fun.
Hidup yang matang bukan hidup yang terus-menerus serius. Terlalu serius bisa membuat manusia kehilangan spontanitas, humor, kreativitas, dan kemampuan menikmati kehidupan. Sebuah permainan dapat memiliki kesungguhan yang sangat dalam, karena bermain tidak berarti tidak serius.
Yang diperlukan adalah keseimbangan.
Ada waktu bermain dan ada waktu bekerja. Ada waktu tertawa dan ada waktu merenung. Ada waktu mengejar kesenangan dan ada waktu memberikan sesuatu kepada kehidupan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah: “Apakah saya bahagia?” Tetapi: “Untuk apa kebahagiaan itu digunakan?”
Jika kebahagiaan hanya berhenti pada diri sendiri, maka menjadi konsumsi. Tetapi jika kebahagiaan membuat kita lebih ringan membantu orang lain, lebih sabar menghadapi kehidupan, lebih dekat dengan keluarga, lebih peduli terhadap lingkungan, dan lebih bersyukur, maka kesenangan berubah menjadi sesuatu yang bermakna.
Tidak harus menjadi tokoh besar untuk menjalani kehidupan yang berarti.
Tidak semua orang harus membangun perusahaan, menulis buku, menjadi pejabat, menemukan sesuatu yang besar, atau dikenang sejarah. Kadang-kadang makna hidup tersembunyi sesederhana merawat pasangan, mendidik anak, menjaga persahabatan, menolong tetangga, merawat tanaman, memberi makan hewan, membaca, belajar, beribadah, atau sekadar menjadi manusia yang tidak menyusahkan orang lain.
Pada usia tertentu, kita mulai menyadari bahwa hidup ternyata bukan perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya kesenangan.
Hidup lebih mirip perjalanan untuk menemukan apa yang layak dilakukan dengan waktu yang terbatas.
Kesenangan tetap diperlukan. Bahkan semakin tua, semakin perlu menikmati hal-hal kecil. Secangkir kopi, udara pagi, percakapan dengan kawan, bergurau dengan anak cucu, membaca beberapa halaman buku, berjalan pelan, melihat tanaman tumbuh.
Tetapi di balik semua kesenangan itu hendaknya ada sesuatu yang lebih dalam, kesadaran bahwa keberadaan kita mempunyai arti.
Sebab pada akhirnya, yang membuat manusia puas bukan hanya karena bersenang-senang, melainkan karena ia merasa pernah memberikan sesuatu, walaupun hanya sedikit.
Kehadiran saat orang membutuhkan bantuan, menebar ilmu, menanam untuk lingkungan yang sehat, dan berada di tengah keluarga.
Di saat itu kesenangan berhenti menjadi sekadar permainan, dan berubah menjadi kehidupan.
Sebuah kedewasaan hakiki, ketika bermain seperti anak-anak, tetapi hidup dengan kesadaran manusia dewasa—menikmati dunia tanpa lupa memberi arti kepada dunia.

0 comments :
Post a Comment