Catatan Pensiunan 105
KESADARAN EALA
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Alexandra Eala. Ia masih sangat muda, tetapi hidupnya telah memperlihatkan satu pelajaran penting: keberhasilan tidak lahir dalam satu pertandingan. Ia tumbuh dari latihan yang panjang, kekalahan yang berulang, disiplin yang membosankan, keberanian menghadapi lawan yang lebih kuat, dan keyakinan bahwa perjuangan hari ini suatu saat akan menemukan maknanya.
Eala mulai bermain tenis sejak usia empat tahun. Ia kemudian menempuh jalan panjang sebagai atlet junior sebelum masuk ke dunia tenis profesional. Ia berlatih di Rafael Nadal Academy di Mallorca dan perlahan membangun dirinya melalui pertandingan demi pertandingan. Pada 2025, ia membuat terobosan besar dengan mencapai semifinal Miami Open dan menjadi petenis Filipina pertama yang masuk 100 besar dunia. Tahun 2026 menjadi tahun yang bahkan lebih penting: ia mencapai babak keempat Wimbledon, mengalahkan sejumlah pemain papan atas, memenangkan gelar WTA pertamanya di Washington, dan menembus peringkat 20 besar dunia.
Namun perjalanan itu tidak selalu berakhir dengan kemenangan.
Pada US Open 2026, Eala berhasil melewati dua pertandingan pertama. Pada babak ketiga ia berhadapan dengan Iva Jovic. Pertandingan berlangsung lebih dari tiga jam dan sangat ketat. Eala sempat memenangkan set kedua, tetapi akhirnya kalah 7-5, 3-6, 7-5. Ia tersingkir.
Bagi sebagian orang, kekalahan itu mungkin dianggap sebagai kegagalan. Tetapi bagi Eala, pertandingan tersebut adalah bagian dari perjalanan. Beberapa hari sebelumnya, ketika mengalahkan Oleksandra Oliynykova, ia mengatakan bahwa kunci permainannya adalah kesabaran dan konsistensi fokus.
Saya melihat ada kesadaran penting di sana: kita tidak selalu dapat menentukan hasil, tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita menjalani perjuangan.
Inilah yang sering dilupakan manusia ketika mengejar keberhasilan. Kita terlalu sibuk menghitung hasil sehingga lupa menikmati proses. Kita menganggap perjuangan hanya bernilai apabila menghasilkan kemenangan. Padahal, kehidupan tidak bekerja sesederhana itu.
Ada orang yang bekerja keras bertahun-tahun tetapi tidak memperoleh jabatan yang diinginkan. Ada yang membangun usaha dengan penuh kesungguhan tetapi akhirnya gagal. Ada yang belajar dengan tekun tetapi tidak mendapatkan kesempatan. Ada pula yang telah memberikan seluruh kemampuan terbaiknya, tetapi keberuntungan ternyata berpihak kepada orang lain.
Apakah perjuangan mereka menjadi sia-sia?
Tidak.
Sebab perjuangan tidak hanya menghasilkan sesuatu di luar diri kita. Ia juga membentuk sesuatu di dalam diri kita. Disiplin, keberanian, ketahanan mental, kesabaran, kemampuan menerima kekalahan, dan kemampuan untuk bangkit kembali adalah hasil yang sering tidak terlihat.
Psikolog Angela Duckworth menyebut salah satu kualitas penting itu sebagai grit: perpaduan antara hasrat terhadap tujuan jangka panjang dan kegigihan untuk terus berjalan meskipun menghadapi kesulitan. Dalam penelitiannya, Duckworth menunjukkan bahwa bakat bukan satu-satunya penentu pencapaian; ketekunan dan kemampuan bertahan menghadapi hambatan juga memainkan peranan penting.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya lebih penting daripada sekadar kegigihan: harapan.
Kerja keras tanpa harapan akan berubah menjadi beban. Perjuangan tanpa keyakinan akan mudah menjadi kelelahan. Manusia membutuhkan alasan untuk percaya bahwa apa yang dilakukannya hari ini masih memiliki arti bagi hari esok.
Karena itu, optimisme bukan sekadar berpikir positif. Optimisme adalah keberanian untuk tetap percaya bahwa kemungkinan baik masih terbuka, meskipun kenyataan belum menunjukkan hasil yang kita inginkan.
Kita memang tidak boleh memastikan bahwa kerja keras pasti menghasilkan keberhasilan. Kenyataannya tidak demikian. Banyak orang bekerja keras dan tetap gagal. Banyak orang berkorban tetapi tidak memperoleh apa yang diharapkan. Nasib, kesempatan, lingkungan, kesehatan, keadaan sosial, bahkan kebetulan, ikut memainkan peran.
Tetapi tanpa kerja keras, kemungkinan keberhasilan menjadi jauh lebih kecil.
Maka tugas kita bukan memastikan kemenangan. Tugas kita adalah memberikan usaha terbaik pada wilayah yang masih berada dalam kendali kita.
Bagi seorang petenis, wilayah itu adalah latihan, kebugaran, strategi, konsentrasi, keberanian memukul bola, dan kemampuan mengendalikan emosi. Hasil pertandingan berada di luar kendali sepenuhnya.
Begitu pula dalam kehidupan.
Kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang menilai kita. Tidak dapat memastikan usaha kita dihargai. Tidak dapat menentukan berapa lama usia kita. Tidak dapat mengatur semua keadaan. Bahkan setelah melakukan yang terbaik, kita masih mungkin mengalami kegagalan.
Tetapi kita dapat memilih untuk tetap belajar. Tetap bekerja. Tetap berbuat baik. Tetap menjaga tubuh. Tetap membangun hubungan. Tetap membaca. Tetap beribadah. Tetap memperbaiki diri.
Di usia senja, kesadaran ini terasa semakin penting.
Dulu kita mungkin mengejar keberhasilan dengan ukuran yang besar: jabatan, kekayaan, prestasi, pengaruh, dan pengakuan. Sekarang ukuran itu perlahan berubah. Keberhasilan mungkin menjadi lebih sederhana: masih mampu bangun pagi dengan rasa syukur, tubuh masih bisa bergerak, pikiran masih ingin belajar, hati masih mampu mencintai, dan hidup masih memiliki sesuatu yang layak diperjuangkan.
Kita tidak lagi harus memenangkan semua pertandingan.
Cukup memilih pertandingan yang memang layak dimainkan.
Dan ketika kalah, kita tidak perlu menganggap hidup selesai. Kekalahan hanyalah satu bagian dari perjalanan. Seperti Eala yang kalah dalam pertandingan panjang di US Open, seseorang dapat meninggalkan lapangan dengan kepala tegak karena telah memberikan apa yang mampu diberikannya.
Barangkali inilah kesadaran yang paling penting: hidup bukan hanya tentang menang, tetapi tentang tetap memiliki harapan untuk memainkan pertandingan berikutnya.
Selama masih ada harapan, masih ada kemungkinan.
Selama masih ada kemungkinan, perjuangan belum selesai.
Dan selama manusia masih memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan, sesungguhnya ia masih hidup.

0 comments :
Post a Comment