Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 106 : KESADARAN EALA

Catatan Pensiunan 106 : KESADARAN EALA

Written By Suheryana Bae on Monday, September 7, 2026 | 6:48 AM


Alexandra Eala masih sangat muda, tetapi hidupnya mengajarkan satu hal penting, bahwa keberhasilan tidak lahir dalam satu pertandingan. Keberhasilan melewati latihan yang panjang, kekalahan berulang, disiplin yang membosankan, keberanian menghadapi lawan yang lebih kuat, dan keyakinan bahwa perjuangan hari ini suatu saat akan menemukan makna.

Eala bermain tenis sejak usia empat tahun. Kemudian menempuh jalan panjang sebagai atlet junior sebelum masuk ke dunia tenis profesional. Berlatih di Rafael Nadal Academy di Mallorca dan perlahan membangun dirinya melalui pertandingan demi pertandingan. Pada 2025, ia membuat terobosan besar dengan mencapai semifinal Miami Open dan menjadi petenis Filipina pertama yang masuk 100 besar dunia. Tahun 2026 menjadi tahun yang bahkan lebih penting. Ia mencapai babak keempat Wimbledon, mengalahkan sejumlah pemain papan atas, memenangkan gelar WTA pertamanya di Washington, dan menembus peringkat 20 besar dunia.

Namun, perjalanan tidak selalu berakhir dengan kemenangan.

Pada US Open 2026, Eala berhasil melewati dua pertandingan pertama. Pada babak ketiga, ia berhadapan dengan Iva Jovic. Pertandingan berlangsung lebih dari tiga jam dan sangat ketat. Eala sempat memenangkan set kedua, tetapi akhirnya kalah 7-5, 3-6, 7-5, yang membuatnya tersingkir.

Bagi sebagian orang, kekalahan itu mungkin dianggap sebagai kegagalan. Tetapi bagi Eala, pertandingan tersebut adalah bagian dari perjalanan. Beberapa hari sebelumnya, ketika mengalahkan Oleksandra Oliynykova, ia mengatakan bahwa kunci permainannya adalah kesabaran, konsistensi, dan fokus.

Kita melihat ada kesadaran penting di sana, bahwa kita tidak dapat menentukan hasil, tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita menjalani proses.

Hal ini sering dilupakan orang ketika mengejar keberhasilan. Terlalu sibuk menghitung hasil sehingga lupa menikmati proses. Kita menganggap perjuangan hanya bernilai apabila menghasilkan kemenangan. Padahal, rumus kehidupan tidak bekerja sesederhana itu.

Ada orang yang bekerja keras bertahun-tahun, tetapi tidak memperoleh jabatan yang diinginkan. Pebisnis pemula membangun usaha dengan penuh kesungguhan, tetapi akhirnya gagal. Mahasiswa belajar dengan tekun, tetapi tidak mendapatkan kesempatan terbaik. Ada pula orang yang memberikan seluruh kemampuan terbaiknya, tetapi keberuntungan ternyata berpihak kepada orang lain.

Apakah perjuangan mereka sia-sia?

Tentu tidak.

Sebab perjuangan tidak hanya menghasilkan sesuatu, tetapi juga membentuk sesuatu di dalam diri kita. Disiplin, keberanian, ketahanan mental, kesabaran, kemampuan menerima kekalahan, dan kemampuan untuk bangkit kembali adalah hasil yang sering tidak kita sadari.

Psikolog Angela Duckworth menyebut salah satu kualitas penting itu sebagai grit, perpaduan antara hasrat terhadap tujuan jangka panjang dan kegigihan untuk terus berproses meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Bahwa bakat bukan satu-satunya penentu pencapaian. Di dalamnya ada ketekunan dan kemampuan bertahan menghadapi hambatan.

Tetapi ada satu hal yang lebih penting daripada sekadar kegigihan, yakni harapan.

Kerja keras tanpa harapan akan berubah menjadi beban. Perjuangan tanpa keyakinan hanya berakhir dengan kelelahan. Manusia membutuhkan alasan untuk percaya bahwa apa yang dilakukannya hari ini menghasilkan sesuatu yang terbaik di hari esok.

Pastinya, optimisme bukan sekadar berpikir positif, tetapi juga keberanian untuk tetap percaya bahwa kemungkinan baik masih terbuka.

Kita memang tidak dapat memastikan bahwa kerja keras pasti berujung keberhasilan. Kenyataannya tidak demikian. Banyak orang bekerja keras dan tetap gagal. Berkorban tetapi tidak memperoleh apa yang diharapkan. Nasib baik, kesempatan, lingkungan, kesehatan, keadaan sosial, bahkan keberuntungan, ikut memainkan peran.

Tetapi tanpa kerja keras, kemungkinan keberhasilan menjadi jauh lebih kecil.

Maka tugas kita adalah melakukan usaha terbaik pada wilayah yang masih berada dalam kendali. Bukan memastikan kemenangan.

Bagi seorang petenis, wilayah itu adalah latihan, kebugaran, strategi, konsentrasi, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan mengendalikan emosi.

Begitu pula dalam kehidupan.

Kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang menilai kita, menentukan berapa panjang usia, atau mengatur semua keadaan. Bahkan setelah melakukan yang terbaik, kita masih mungkin mengalami kegagalan.

Tetapi kita dapat memilih untuk tetap belajar, bekerja, berbuat baik, menjaga tubuh, membangun hubungan, membaca, beribadah, dan selalu memperbaiki diri.

Di usia senja, kesadaran ini semakin penting.

Dulu kita mungkin mengejar keberhasilan dengan ukuran di atas rata-rata, menyangkut jabatan, kekayaan, prestasi, pengaruh, dan pengakuan. Sekarang ukuran itu perlahan berubah. Keberhasilan mungkin menjadi sesederhana bangun pagi dengan rasa syukur, kebugaran fisik, motivasi belajar, kesempatan mencintai, dan memiliki sesuatu yang layak diperjuangkan.

Kita tidak harus memenangkan semua pertandingan. Cukup memilih pertandingan yang memang layak dimainkan.

Dan ketika kalah, tidak berarti kiamat. Kekalahan hanyalah bagian dari perjalanan. Seperti Eala yang kalah di sebuah pertandingan, meninggalkan lapangan dengan kepala tegak karena telah mengerahkan kemampuan terbaik.

Hidup bukan hanya tentang menang, tetapi tentang memiliki harapan untuk memainkan pertandingan berikutnya.

Selama masih ada harapan, masih ada kemungkinan. Selama masih ada kemungkinan, perjuangan belum selesai.

Dan selama manusia masih memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan, sesungguhnya ia masih hidup.

0 comments :

Post a Comment