Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 109 : ORANG YANG TIDAK MENYERAH

Catatan Pensiunan 109 : ORANG YANG TIDAK MENYERAH

Written By Suheryana Bae on Thursday, September 10, 2026 | 8:48 AM

DRAFT

ORANG-ORANG YANG BERTAHAN

Saya mempunyai seorang model manusia yang menarik untuk saya renungkan. Ia bukan orang kuliahan. Tidak memiliki pendidikan akademik yang tinggi. Tidak lahir dari keluarga berada. Tidak memiliki privilege yang membuat jalan hidupnya lebih mudah. Ia berasal dari keluarga miskin kelas bawah. Bahkan, dalam perjalanan hidupnya, ia harus berhadapan dengan penyakit kronis dan masalah pada rahimnya.

Namun, ia cukup berada dibandingkan kebanyakan orang di lingkungannya. Keadaan itu bukan sesuatu yang ia terima begitu saja sejak awal. Ia menikah pada usia muda dan memutuskan berhenti dari sekolah menengah karena ingin mengubah kehidupannya. Ia ingin keluar dari keadaan yang membatasi dirinya, meskipun pada saat itu ia belum mempunyai pendidikan, pengalaman, atau kepastian tentang jalan yang akan ditempuh.

Tetapi ia cantik, pekerja keras, dan mempunyai sesuatu yang tidak mudah dijelaskan dengan teori.

Ia tidak pernah benar-benar menyerah.

Tentu saja pernah lelah. Pernah menangis. Pernah merasa hampir tidak sanggup melanjutkan hidup. Pernah berada pada keadaan ketika menyerah tampaknya menjadi pilihan yang paling masuk akal. Pernah pula harus menghadapi persoalan kesehatan yang tidak sederhana, termasuk masalah pada rahim yang memengaruhi tubuh, pikiran, dan kehidupannya. Tetapi setelah itu ia bangkit lagi. Bergerak lagi. Bekerja lagi. Memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Tidak ada konsep psikologi yang rumit dalam kepalanya. Tidak ada teori tentang resilience, growth mindset, atau self-efficacy. Ia mungkin tidak pernah membaca buku tentang bagaimana manusia menghadapi kesulitan. Tetapi dalam kehidupan nyata, ia menjalankannya.

Ada sesuatu yang terus mendorongnya.

Mungkin keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Mungkin keinginan agar anak-anaknya mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Mungkin harapan agar keturunannya kelak tidak mengalami kesulitan yang sama. Atau mungkin hanya keyakinan sederhana bahwa kehidupan harus dijalani sebaik mungkin selama masih diberi kesempatan.

Ia tidak banyak berbicara tentang semua itu.

Ia hanya bergerak.

Bekerja ketika harus bekerja. Mencari jalan ketika jalan yang biasa tertutup. Menghadapi kesulitan ketika kesulitan datang. Menjalani persoalan kesehatan tanpa selalu mengetahui bagaimana akhirnya. Jatuh, kemudian bangun. Tidak selalu dengan gagah. Tidak selalu dengan keyakinan penuh. Kadang-kadang dengan ketakutan. Kadang-kadang sambil mengeluh. Tetapi tetap bergerak.

Saya melihat hasilnya.

Kehidupannya sekarang jauh lebih baik dibandingkan rata-rata orang sekampungnya. Bahkan dibandingkan sebagian teman sekolah menengahnya. Bukan kehidupan yang sempurna. Tidak kaya raya. Tidak bebas dari masalah. Tubuhnya pun pernah memaksanya menghadapi batas-batas yang tidak dapat ia abaikan. Tetapi secara keseluruhan, ia berhasil membangun kehidupan yang lebih baik daripada titik awal yang dimilikinya.

Di situlah saya menemukan sesuatu yang penting.

Kehidupan tidak selalu memberikan titik awal yang sama kepada setiap orang. Ada yang lahir dalam keluarga berada, mendapatkan pendidikan terbaik, mempunyai jaringan yang luas, tubuh yang sehat, dan kesempatan yang banyak. Ada pula yang memulai kehidupan dengan kemiskinan, pendidikan terbatas, kesehatan yang buruk, dan hampir tidak mempunyai pilihan.

Ada orang yang menikah muda karena keadaan, lalu harus mengambil keputusan besar sebelum benar-benar siap. Ada yang meninggalkan sekolah bukan karena tidak mampu belajar, melainkan karena ingin segera mengubah nasib. Ada yang harus membangun kehidupan sambil menghadapi persoalan tubuhnya sendiri.

Karena itu, berbicara tentang keberhasilan hanya dari sudut kemampuan pribadi kadang-kadang tidak adil. Keberuntungan, keluarga, lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan kesempatan mempunyai peranan besar.

Tetapi pengalaman orang ini menunjukkan bahwa keadaan awal bukanlah seluruh cerita.

Masih ada cara seseorang merespons keadaan.

Dalam psikologi, kemampuan untuk tetap bertahan dan menyesuaikan diri ketika menghadapi tekanan hidup sering disebut resilience. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah merasa takut, sedih, kecewa, atau hampir menyerah. Justru sebaliknya. Orang yang tangguh dapat merasakan semua itu, tetapi tidak membiarkan perasaan tersebut menjadi akhir dari perjalanannya.

Saya kira itulah yang terjadi pada dirinya.

Ia bukan manusia tanpa kelemahan. Ia hanya mempunyai kemampuan untuk kembali bergerak setelah berhenti.

Ada perbedaan besar antara orang yang tidak pernah jatuh dan orang yang selalu bangun setelah jatuh.

Kita sering mengagumi orang-orang sukses setelah melihat hasil akhirnya. Kita melihat rumahnya, pekerjaannya, keluarganya, kehidupannya. Tetapi kita sering tidak melihat berapa kali ia hampir menyerah. Berapa kali ia kecewa. Berapa kali ia harus memulai kembali. Berapa banyak keputusan sulit yang harus dibuat ketika tidak ada seorang pun yang memberikan kepastian bahwa usahanya akan berhasil.

Kita juga sering tidak melihat harga yang harus dibayar oleh tubuh dan pikirannya. Tidak melihat kecemasan ketika menghadapi penyakit. Tidak melihat ketakutan ketika harus mengambil keputusan besar pada usia muda. Tidak melihat kesepian ketika seseorang memilih jalan yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya.

Orang-orang yang bertahan biasanya tidak memiliki kemewahan untuk menunggu keadaan menjadi sempurna.

Mereka bergerak dengan apa yang ada.

Mereka berpikir dengan kemampuan yang mereka miliki. Mereka mengambil keputusan dengan informasi yang tersedia. Kadang-kadang salah. Kadang-kadang gagal. Tetapi pengalaman dari kegagalan itu menjadi pengetahuan baru untuk mencoba lagi.

Karena itu, saya semakin percaya bahwa berpikir saja tidak cukup. Harapan saja juga tidak cukup.

Harapan perlu diikuti tindakan.

Dan tindakan membutuhkan keberanian.

Tidak harus keberanian besar. Kadang-kadang hanya keberanian untuk bangun pagi dan mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Keberanian untuk mencoba sekali lagi. Keberanian untuk mencari jalan lain ketika jalan pertama gagal. Keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa tubuh sedang tidak baik-baik saja, tetapi kehidupan tetap harus dijalani. Keberanian untuk mengatakan, “Saya belum selesai.”

Mungkin inilah pelajaran terbesar dari orang-orang yang bertahan.

Mereka tidak selalu tahu akan sampai ke mana. Mereka tidak mempunyai peta kehidupan yang lengkap. Mereka tidak memiliki teori yang menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan. Tetapi mereka mempunyai satu keyakinan sederhana: selama masih ada kehidupan, masih ada kemungkinan.

Dalam biografi banyak tokoh besar, kita menemukan pola yang sama. Keberhasilan mereka sering bukan hasil dari satu lompatan besar, melainkan akumulasi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus ketika orang lain mungkin sudah berhenti.

Maka saya tidak terlalu tertarik lagi pada pertanyaan siapa yang paling pintar, paling kaya, atau paling beruntung.

Saya lebih tertarik pada siapa yang mampu bertahan.

Sebab hidup bukan perlombaan dengan garis awal yang sama. Kita semua membawa beban yang berbeda. Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang mungkin bukan seberapa tinggi ia melompat, melainkan seberapa jauh ia mampu berjalan dari tempat ia memulai.

Orang yang saya jadikan model itu mengajarkan kepada saya sesuatu yang sederhana: jangan mudah menyerah.

Berpikir.

Berani bertindak.

Kalau gagal, belajar.

Kalau jatuh, bangun.

Kalau lelah, beristirahat.

Kalau tubuh memberi tanda bahwa ada yang harus diperhatikan, jangan mengabaikannya.

Tetapi jangan berhenti hanya karena kehidupan sedang tidak sesuai dengan keinginan.

Sebab terkadang, yang membedakan kehidupan seseorang bukanlah siapa yang paling banyak mempunyai modal, tetapi siapa yang tetap bergerak ketika modal yang dimilikinya hampir tidak ada.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak membutuhkan teori yang terlalu rumit untuk memahami kehidupan.

Ada orang-orang yang hanya tahu satu cara untuk menghadapi hidup:

bertahan.

Dan karena mereka bertahan, mereka terus bergerak.

Karena terus bergerak, mereka menemukan jalan.

Dan karena tidak berhenti, suatu hari mereka tiba pada kehidupan yang dahulu hanya mereka harapkan.


0 comments :

Post a Comment