Saya mempunyai seorang model manusia yang luar biasa menarik. Ia bukan lulusan perguruan tinggi. Tidak dilahirkan dari keluarga berada. Tidak memiliki privilege yang membuat jalan hidupnya mudah.
Ia berasal dari keluarga miskin kelas bawah. Dalam perjalanan hidupnya, ia bahkan harus berhadapan dengan penyakit kronis dan masalah pada rahimnya.
Kini ia hidup jauh lebih berkecukupan dibandingkan kebanyakan orang di lingkungannya, bahkan dibandingkan teman-teman sekolahnya dahulu. Keadaan itu bukan warisan.
Ia menikah muda setelah memutuskan berhenti sekolah menengah karena ingin mengubah hidupnya. Tidak memiliki pendidikan tinggi, pengalaman, atau kepastian tentang jalan yang akan ditempuh. Yang ia miliki hanyalah tekad untuk keluar dari keadaan yang serba terbatas.
Parasnya cantik. Ia bintang sekolah pada masanya dan ternyata juga seorang pekerja keras. Ada sesuatu dalam dirinya yang secara teoritis sulit dijelaskan.
Ia tidak pernah benar-benar menyerah.
Tentu saja ia pernah lelah, menangis pilu, lari dari pasangan karena kekerasan dalam rumah tangga, dan merasa hampir tidak sanggup melanjutkan hidup. Ada saat ketika menyerah tampak sebagai pilihan yang paling masuk akal.
Ia juga menghadapi persoalan kesehatan yang tidak sederhana—masalah pada rahim yang memengaruhi tubuh, pikiran, dan seluruh kehidupannya. Namun ia selalu bangkit. Bekerja lagi. Bertahan lagi.
Di kepalanya tidak ada konsep psikologi yang rumit. Tidak ada teori tentang resilience, growth mindset, atau self-efficacy. Ia tidak pernah membaca buku tentang bagaimana manusia menghadapi kesulitan. Namun secara naluriah ia menjalani kehidupan yang penuh tantangan.
Ada sesuatu yang terus mendorongnya.
Keinginan memiliki kehidupan yang lebih baik. Harapan agar anak-anaknya kelak tidak mengalami kesulitan yang sama. Atau mungkin hanya keyakinan sederhana bahwa kehidupan harus dijalani sebaik mungkin selama masih diberi kesempatan.
Dari luar ia tampak berdiri kokoh, bahkan sedikit angkuh. Sisi gelap kehidupannya hanya ia ceritakan kepada sahabat sejati.
Ia konsisten bergerak, bekerja, bertahan, dan bertanggung jawab atas hidupnya. Mencari alternatif ketika jalan biasa tertutup. Menghadapi kesulitan dan menjalani persoalan kesehatan tanpa berlarut-larut memikirkannya. Ketika terjatuh, ia segera bangkit.
Ia tidak selalu tegar. Kadang-kadang ia memeluk ketakutan dan mengeluh. Tetapi ia tetap bergerak.
Hasilnya menakjubkan.
Kehidupannya sekarang jauh lebih baik dibandingkan rata-rata orang sekampung, bahkan dibandingkan rata-rata teman sekolah menengahnya. Bukan kehidupan yang sempurna. Tetapi secara keseluruhan, ia berhasil membangun kehidupan yang jauh lebih baik.
Di sinilah ditemukan sesuatu yang penting.
Kehidupan tidak bermula dari titik awal yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga berada, mendapat pendidikan terbaik, memiliki jaringan luas, tubuh yang sehat, dan berbagai kesempatan. Ada pula yang memulai dengan kemiskinan, pendidikan terbatas, kesehatan yang buruk, dan hampir tidak punya pilihan.
Ada yang menikah muda karena keadaan, lalu harus mengambil keputusan besar sebelum benar-benar siap. Ada yang meninggalkan sekolah bukan karena tidak mampu belajar, melainkan karena ingin segera mengubah nasib. Ada yang harus membangun kehidupan sambil menghadapi persoalan tubuhnya sendiri.
Namun pengalamannya menunjukkan bahwa keadaan awal bukanlah seluruh cerita kehidupan. Masih ada cara seseorang merespons keadaan tersebut.
Dalam psikologi, kemampuan untuk tetap bertahan dan menyesuaikan diri di bawah tekanan hidup disebut resiliensi. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah takut, sedih, kecewa, atau hampir menyerah. Justru sebaliknya. Orang yang tangguh merasakan semua itu, tetapi tidak membiarkan perasaan tersebut menjadi akhir perjalanannya.
Saya kira itulah yang terjadi pada dirinya.
Ia bukan manusia tanpa kelemahan. Ia hanya memiliki kemampuan untuk bertahan dan berkembang.
Ada perbedaan besar antara orang yang tidak pernah jatuh dan orang yang selalu bangun setelah jatuh.
Kita sering mengagumi orang sukses setelah melihat hasil akhirnya—rumahnya, pekerjaannya, atau keluarganya. Kita jarang melihat berapa kali ia hampir menyerah, berapa kali kecewa, dan berapa kali harus memulai kembali.
Kita juga jarang melihat harga yang dibayar secara fisik dan psikis: kecemasan menghadapi penyakit, ketakutan ketika mengambil keputusan sulit, kesepian ketika memilih jalan yang berbeda, atau keputusasaan ketika dikhianati.
Orang-orang yang bertahan biasanya tidak punya kemewahan untuk menunggu keadaan menjadi sempurna. Mereka bergerak sesuai kondisi yang ada, berpikir sekemampuan mereka, dan mengambil keputusan berdasarkan pengalaman maupun intuisi.
Kadang-kadang mereka salah. Kadang-kadang gagal. Tetapi pengalaman dari kesalahan dan kegagalan itu menjadi pengetahuan baru untuk mencoba lagi.
Karena itu, berpikir saja tidak cukup. Harapan saja juga tidak cukup. Perlu keberanian untuk bertindak.
Kadang-kadang keberanian itu sederhana, bangun pagi dan mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Mencari jalan lain ketika jalan pertama gagal. Berdamai dengan segala kesulitan dan tetap bersikap bahwa kehidupan belum selesai.
Inilah pelajaran terpenting dari orang yang mampu bertahan.
Ia tidak selalu memahami akan sampai ke mana. Tidak punya peta kehidupan. Tidak punya referensi. Tetapi memiliki keyakinan sederhana bahwa selama masih ada kehidupan, masih ada kemungkinan.
Dalam biografi banyak tokoh besar, kita menemukan pola yang sama. Keberhasilan jarang lahir dari satu lompatan besar, melainkan dari akumulasi langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Maka pertanyaan yang lebih menarik bukan siapa yang paling pintar, paling kaya, atau paling beruntung, melainkan siapa yang mampu bertahan.
Hidup bukan perlombaan dengan garis start yang sama. Kita semua membawa beban yang berbeda. Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang mungkin bukan seberapa tinggi ia melompat, melainkan seberapa jauh ia mampu berjalan dari tempat ia memulai.
Kalau diringkas, pelajaran pentingnya adalah: jangan mudah menyerah, berpikir jernih, berani bertindak, belajar dari pengalaman, dan bangkit setiap kali terjatuh.
Sesekali beristirahat ketika tubuh memberi alarm kelelahan. Tetapi jangan berhenti hanya karena kehidupan tidak sesuai dengan keinginan.
Terkadang, yang membedakan kehidupan seseorang bukanlah siapa yang paling banyak memiliki modal, melainkan siapa yang tetap bergerak dengan modal yang dimilikinya.
Terus bergerak.
Karena terus bergerak, mereka menemukan jalan.
Dan karena tidak berhenti, suatu hari tiba jua pada kehidupan yang dahulu hanya impian.

0 comments :
Post a Comment