Ketika kita masih kanak-kanak, definisi kegembiraan itu sungguh sederhana dan tidak neko-neko. Yang menggairahkan hidup adalah permainan. Titik. Tidak ada tuntutan target, tidak ada beban citra, apalagi urusan gengsi. Begitu matahari pagi menyingsing, kaki kecil kita sudah gelisah ingin segera melesat ke halaman. Entah itu gatrik yang membutuhkan ketangkasan memukul dan melompat, eleng-elengan yang melatih keseimbangan, atau hong-hongan yang membahana di gang-gang sempit. Bola plastik yang sudah penyok pun bisa menjadi harta karun yang mendatangkan tawa riang. Belum lagi sensasi menegangkan saat menonton misbar, layar tancap yang menjadi magnet kerumunan warga, atau gegap gempita mengikuti acara mauludan di pesantren. Di masa itu, gairah hidup bukanlah barang mahal. Ia hadir gratis, cukup dengan keringat yang bercucuran dan tawa lepas yang membahana.
Waktu pun berlalu, membawa kita ke gerbang remaja dan dewasa muda. Ghirah hidup mulai bergeser bentuk, meski tetap saja berpijak pada hal-hal yang membumi. Nongkrong di pinggir jalan jadi ritual wajib, sekadar duduk berjam-jam tanpa tujuan jelas sambil membicarakan hal-hal yang tidak penting namun terasa begitu mendesak. Menghadiri resital di Institut Seni memberi kita rasa intelektual yang baru tumbuh. Jalan-jalan di Braga, menikmati hiruk-pikuk kota dengan lampu-lampunya, seakan memberi energi tersendiri. Menonton Persib berlaga di stadion atau di layar kaca menjadi pelepasan emosi yang luar biasa; kita berteriak, bersorak, dan kadang mengumpat, semua dalam satu tarikan napas. Main kartu sampai larut malam, ngobrol ngalor ngidul tanpa arah yang jelas, atau mendengarkan radio sambil menikmati lagu-lagu hits saat itu, semuanya menjadi bahan bakar gairah. Hidup terasa penuh, tanpa perlu banyak biaya, tanpa perlu akal-akalan yang rumit.
Namun, kini, di usia yang tak lagi muda, pertanyaan besar itu muncul kembali. Mengapa hidup ini rasanya jadi begitu mumet? Mengapa gairah yang dulu meluap-luap kini seperti api yang kehabisan kayu bakar? Kita sering kali terjebak dalam pusaran rutinitas yang melelahkan, tuntutan pekerjaan yang tak ada habisnya, dan ekspektasi sosial yang membelenggu. Kita sibuk mengejar sesuatu yang entah apa, hingga lupa bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sudah kita miliki sejak dulu, hanya saja kita yang mengabaikannya.
Mungkin, jawabannya adalah kita perlu belajar untuk menyederhanakan kembali ghirah hidup ini. Kita tidak perlu terus-menerus berlari mengejar hal-hal yang besar dan megah. Kadang, hal-hal kecil dan sederhana justru mampu menghadirkan kembali secercah gairah yang sempat hilang. Cobalah sesekali berjalan kaki di pagi hari, menghirup udara segar, menyapa tetangga, dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih lambat. Nikmati obrolan ringan dengan pasangan atau kawan lama, tanpa perlu topik pembicaraan yang berat. Duduk santai di alun-alun kota, melihat anak-anak bermain, atau sekadar menonton televisi, mendengarkan podcast, atau menonton YouTube—semuanya bisa menjadi cara untuk kembali terhubung dengan kesederhanaan hidup.
Bagi yang menginginkan sentuhan yang lebih serius, kita bisa kembali kepada hal-hal yang menenangkan jiwa. Membaca buku, bukan untuk mengejar gelar atau jabatan, tetapi untuk menikmati kata demi kata yang mengalir. Beribadah di mesjid, mencari ketenangan dalam sujud dan doa. Menulis, menuangkan segala pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata. Atau menghafal qur'an, meresapi setiap makna dan keindahan bahasanya. Semua ini adalah bentuk-bentuk ghirah yang lebih dalam, yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberi makna.
Boleh jadi, tujuan dari semua ini memang tidak jelas. Tidak perlu ada target yang muluk-muluk. Yang penting adalah kita mengisi waktu dengan hal-hal yang menggairahkan, yang membuat hati kita kembali berdebar, yang membuat mata kita kembali berbinar. Hidup ini bukanlah tentang seberapa banyak yang bisa kita capai, tetapi tentang seberapa dalam kita bisa merasakan dan menikmati setiap momen yang ada.
Menyederhanakan ghirah hidup bukan berarti kita kehilangan semangat atau menjadi pribadi yang pasif. Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk menemukan kembali esensi dari kebahagiaan itu sendiri. Dengan kembali kepada hal-hal yang sederhana, kita membebaskan diri dari belenggu ekspektasi yang memberatkan. Kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, untuk tertawa, dan untuk bersyukur atas hal-hal kecil yang sering kita lupakan.
Mari kita ingat kembali bagaimana kita dulu bisa begitu bahagia hanya dengan permainan gatrik atau eleng-elengan. Mari kita ingat kembali bagaimana nongkrong di pinggir jalan atau menonton Persib bisa menjadi obat stres yang paling mujarab. Semua itu adalah pelajaran berharga bahwa gairah hidup tidak harus rumit. Ia bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana, asalkan kita mau membuka mata dan hati untuk menerimanya.
Pada akhirnya, hidup ini memang pilihan. Kita bisa memilih untuk terus menerus merasa mumet dengan segala kerumitan yang kita ciptakan sendiri, atau kita bisa memilih untuk kembali menyederhanakan segalanya. Jalan kaki pagi, ngobrol-ngobrol, main di alun-alun, nonton tv, mendengarkan podcast, atau menonton youtube. Yang seriusnya baca buku, ibadah di mesjid, menulis, atau menghapal qur'an. Semua itu adalah pilihan yang sama-sama sah untuk mengisi waktu dan hiburan yang menggairahkan. Yang terpenting adalah kita menemukan kembali apa yang membuat hati kita bernyanyi, apa yang membuat jiwa kita bersemangat. Mari kita sederhanakan ghirah hidup ini, dan temukan kembali kebahagiaan yang selama ini mungkin tersembunyi di balik kesederhanaan yang kita lupakan.

0 comments :
Post a Comment