Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 31 : ZAMAN KELIMPAHAN ZAMAN KEMUDAHAN

Catatan Pensiunan 31 : ZAMAN KELIMPAHAN ZAMAN KEMUDAHAN

Written By Suheryana Bae on Sunday, October 25, 2026 | 6:14 PM

 DRAFT

Dulu, dapur adalah medan juang. Ibu saya harus bangun jauh sebelum subuh, menyalakan tungku, dan berdebat dengan asap yang tak mau kompromi. Kayu bakar dan hawu adalah jantung kehidupan, tapi juga sumber kerepotan. Menanak nasi butuh kesabaran tingkat dewa; mengatur api agar nasi matang sempurna tanpa hangus di bagian bawah adalah sebuah seni. Belum lagi jika hujan turun dan kayu bakar basah, seisi rumah bisa dipenuhi asap tebal yang membuat mata perih. Sekarang, semuanya berubah total. Menanak nasi adalah urusan tiga menit: cuci beras, masukkan ke magic com, tekan tombol, dan tunggu 45 menit. Beras menjelma menjadi nasi hangat yang pulen, tanpa drama asap dan tanpa tangan kotor. Pengen air panas tinggal ambil dari magic jar. Selamat tinggal tungku, selamat tinggal kayu bakar, selamat tinggal hawu. Zaman telah berputar, membawa kita ke satu titik di mana kemudahan adalah sebuah keniscayaan, bukan lagi kemewahan.


Kemudahan ini bukan hanya soal urusan perut. Ingatkah Anda ketika harus melakukan perjalanan jauh? Dulu, perjalanan dari Ciamis menuju Brebes, misalnya, adalah petualangan yang menguras energi. Kita harus berhenti di persimpangan, bertanya pada orang lokal—paling tidak lima sampai sepuluh kali—hanya untuk memastikan tidak salah jalur. Rasanya deg-degan, takut nyasar di tengah kota yang tidak dikenal. Sekarang, kita hanya perlu memasang ponsel di dashboard, mengetik nama kota tujuan, dan biarkan suara dari GPS memandu setiap tikungan. Bahkan estimasi waktu tempuh dan kondisi lalu lintas sudah terpampang jelas. Selamat tinggal ribet, selamat tinggal nyasar. Kita bisa melaju dengan tenang, menikmati perjalanan, atau sekadar mendengarkan lagu favorit tanpa cemas kehilangan arah.


Belanja pun tak kalah mudahnya. Dulu, untuk mendapatkan barang berkualitas dengan harga miring, kita harus rela berdesakan di pasar, menawar hingga tenggorokan kering. Sekarang, buka aplikasi, pilih barang yang diinginkan, klik, dan tunggu tiga hari. Barang akan tiba di alamat, bahkan untuk alat pertanian dan ternak yang dulu hanya bisa didapat di toko khusus. Semua tersedia dalam genggaman. Kita hidup di zaman kelimpahan, di mana harga barang relatif murah dan akses begitu terbuka. Namun, di balik semua kemudahan ini, ada satu hal yang sering kita lupakan: bahwa kemudahan adalah hasil dari kreativitas dan kerja keras manusia. Aplikasi yang memandu kita, magic com yang menanak nasi, hingga marketplace yang mengantar barang, semuanya lahir dari ide-ide cemerlang yang tak pernah berhenti berkembang.


Di zaman yang serba mudah ini, siapa pun bisa berkarya. Belajar bahasa asing? Cukup buka kanal edukasi di internet, dan guru-guru terbaik dunia seolah hadir di ruang tamu kita. Pekerjaan rutin kantor pun kini bisa diselesaikan dengan lebih efisien berkat bantuan teknologi. Tidak ada lagi alasan untuk tertinggal, asalkan kita mau beradaptasi dan terus belajar. Kemudahan ini adalah kanvas kosong; kita bisa menggunakannya untuk sekadar bersantai, atau justru melompat lebih jauh, menciptakan peluang dari berbagai aplikasi yang ada. Mari kita renungkan sejenak: betapa beruntungnya kita hidup di masa ini. Kemudahan dan kelimpahan bukan berarti kita menjadi malas, melainkan kesempatan untuk tumbuh lebih baik, lebih produktif, dan lebih inspiratif. Selamat menikmati zaman, dan selamat berkarya!

0 comments :

Post a Comment