Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 136 : MEMANFAATKAN KETERBATASAN

Catatan Pensiunan 136 : MEMANFAATKAN KETERBATASAN

Written By Suheryana Bae on Wednesday, November 4, 2026 | 8:10 PM

Draft

Dalam keterbatasan, saya memilih untuk tidak boleh apatis.

Kadang ruang gerak hidup kita terbatas, karaena usia, kesehatan, atau kondisi. Bukan karena kita tidak berbuat, tapi karena keadaan memang hanya memberi kita kamar halaman rumah, dan waktu yang terasa lambat. Di titik seperti itu, godaan terbesar adalah diam, putus asa atau apatis. 

Tetapi saya belajar bahwa kebaikan tidak harus dalam kondisi lapang. Di rumah ada Qur'an, dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk memulai hari dengan cahaya. Menyempatkan diri membacanya, satu dua ayat secara teratur. Dibaca berulang sehingga hapal, dibaca juga terjemahannya agar tahu maknanya. Sesekali juga membaca tafsir, sehingga pemahaman lebih komprehensif. Saat dunia di luar terasa bising dan tidak pasti, satu halaman Qur'an memberikan ketenangan dan harapan agar terjadi perbaikan diri dengan referensi teruji. 

Secara fisik, kesehatan dan kebugaran berkuran. Duduk terlalu lama, berpikir terlalu jauh, membuat fisik terasa tidak nyaman. Saya menyadari, keinginan bertumbuh dan berkemang membutuhkan dukungan fisik yang prima. Maka olahraga bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban yang secara berkesinambungan mesti dilakukan. Tidak perlu tempat khusus atau fasilitas memadai; yang penting bergerak, berkeringat, dan bersemangat.

Alhamdulillah, di rumah ada perpustakaan kecil. Koleksi bukunya hanya ratusan saja, tapi di sanalah saya belajar segala hal-hal. Satu atau dua halaman setiap hari. Kadang hanya satu paragraf yang benar-benar saya pahami, tapi paragraf itu menetap di kepala dan membantu saya berpikir. Buku-buku, yang dibaca semenjak kecil memberi kontribusi luar biasa pada cara memandang dunia, memilih jalan hidup, dan dalam perjuangan meniti karier.  

Sekarang ini kita hidup di zaman dihgital. Internet adlah jendela yang meningkatkan wawasan, memperluas cakrawalan berpikir, dan menyelaraskan hidup kita dengan perkembangan zaman. Secara pribadi, saya memanfaatkannya untuk menonton podcast yang orang-orang bermartabat dan cerdas, mendengarkan orang-orang yang berpikir jernih, yang menginspirasi dan mengajak berpikir. 

Bermodal internet pula, saya belajar berbagi pengalaman dan referensi. Berharap menjadi amal kebaikan untuk tiket memasuki alam keabadian yang menyenangkan.

Ternyata begitulah cara keterbatasan mengajari kita. Ia tidak melumpuhkan, ia menyaring. Ia membuat kita jujur tentang apa yang benar-benar kita miliki dan apa yang bisa kita lakukan hari ini. Tidak perlu menunggu sempurna untuk berbuat baik. Cukup lakukan apa yang ada di depan mata, sesuai kondisi dan kemampuan. Membaca satu ayat, menggerakkan tubuh beberapa menit, membuka satu halaman buku, mendengarkan satu kebaikan, membagikan satu pemikiran.


Hidup tetap berjalan, bahkan dalam ruang yang sempit sekalipun.

0 comments :

Post a Comment