Semakin bertambah usia, semakin menyadari bahwa hidup bukan lagi tentang mengejar sebanyak mungkin, melainkan tentang menerima secukupnya. Dulu, ketika masih aktif bekerja, selalu ada target yang ingin dicapai, ada jabatan yang harus dipertanggungjawabkan, ada prestasi yang ingin diraih, dan ada berbagai harapan yang terus dikejar.
Kinii semuanya berubah. Entahlah bagi orang lain, karena setiap orang tentu memiliki visi dan tujuan hidup yang berbeda. Namun bagi saya, memasuki usia lanjut justru menghadirkan kesadaran bahwa kehidupan ini dipenuhi berbagai keterbatasan.
Keterbatasan pertama adalah kekuasaan. Ketika masih bekerja di pemerintahan, paling tidak saya memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, memberi arahan, atau menyelesaikan berbagai persoalan. Ada posisi yang melekat sehingga setiap perkataan memiliki pengaruh.
Begitu masa pensiun datang, semua itu berakhir. Jabatan ditinggalkan, wewenang kembali kepada institusi. Tidak ada lagi bawahan, tidak juga bos besar. Tidak ada surat yang harus ditandatangani dan tidak ada keputusan penting yang harus dibuat.
Pada awalnya, perubahan itu terasa aneh. Namun setelah dijalani, saya justru merasakan sebuah kebebasan. Tidak lagi dibebani tanggung jawab administratif, tidak lagi dihantui telepon dari atasan sewaktu-waktu, dan tidak lagi memikirkan berbagai persoalan birokrasi. Hidup menjadi lebih ringan.
Keterbatasan kedua adalah finansial. Pensiun membuat sebagian sumber penghasilan ikut berhenti. Tunjangan jabatan, honor kegiatan, perjalanan dinas, dan berbagai fasilitas lain perlahan menjadi kenangan. Yang tersisa hanyalah penghasilan yang relatif terbatas.
Kondisi ini mengajarkan kita untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Banyak hal yang dahulu dianggap penting ternyata sesungguhnya tidak terlalu diperlukan. Hidup sederhana bukanlah kemunduran, tetapi kesempatan untuk belajar menikmati apa yang ada dan mensyukuri apa yang dimiliki.
Keterbatasan ketiga adalah ambisi duniawi. Pada usia seperti sekarang, rasanya tidak lagi ada ambisi mengejar jabatan yang lebih tinggi, mengumpulkan kekayaan tanpa batas, atau mencari popularitas. Semua itu memiliki waktunya sendiri. Ketika masa itu telah berlalu, tidak ada gunanya memaksakan diri untuk mengejarnya kembali.
Waktu yang tersisa jauh lebih berharga daripada ambisi yang tidak ada ujungnya. Perhatian perlahan bergeser dari mengejar dunia menuju memaknai kehidupan, serta mensyukuri segala karunia Sang Mahapencipta.
Keterbatasan berikutnya adalah kemampuan fisik. Tubuh tidak lagi sekuat dahulu. Tenaga berkurang, kesehatan perlu lebih diperhatikan, dan aktivitas harus disesuaikan dengan kemampuan. Kita harus menerima bahwa usia memang membawa perubahan.
Akan tetapi, menerima keterbatasan bukan berarti menyerah kepada keadaan, justru penerimaan itulah yang membuat hidup menjadi lebih damai. Kita berhenti memaksa diri menjadi seperti ketika berusia empat puluh tahun. Kita belajar menghargai tubuh yang telah bekerja keras selama puluhan tahun dan merawatnya dengan penuh rasa syukur.
Dari semua keterbatasan itu, saya justru menemukan sesuatu yang tidak pernah terbayang sebelumnya, yaitu kebahagiaan dalam kesederhanaan.
Kini hidup lebih banyak berfokus pada diri sendiri dan keluarga. Waktu terasa lebih lapang. Dapat bercanda dengan binatang peliharaan, menikmati udara segar di kebun, merasakan hangatnya sinar matahari pagi, mendengar suara burung, atau sekadar memperhatikan pepohonan yang terus bertumbuh.
Saya memiliki waktu untuk membaca buku-buku yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan di rak. Ada kesempatan untuk menulis, merenung, memperdalam spiritualitas, beribadah dengan lebih tenang, dan berusaha mendekat kepada Allah. Dapat berolahraga ringan, berbincang tanpa arah dengan teman, menonton film, atau bahkan tidak melakukan apa-apa tanpa merasa bersalah.
Dulu saya mungkin menganggap semua itu sebagai kegiatan yang biasa saja. Kini menyadari bahwa justru di sanalah kebahagiaan bersembunyi.
Ternyata kebahagiaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kesederhanaan juga dapat ditemukan dalam hal-hal kecil yang kita nikmati dengan penuh kesadaran. Dalam secangkir kopi hangat, dalam angin yang berembus pelan, dalam tawa cucu, dalam ayam yang berkeliaran di halaman, dalam pohon yang mulai berbuah, atau dalam doa yang dipanjatkan dengan penuh harap.
Mungkin inilah hikmah bertambahnya usia. Allah perlahan mengurangi berbagai kesibukan dunia agar kita memiliki lebih banyak waktu untuk kembali kepada-Nya. Apa yang semula kita anggap sebagai kehilangan ternyata dapat menjadi jalan menuju kedamaian.
Barangkali, inilah cara Allah mengajarkan bahwa kebahagiaan bukanlah tentang memiliki lebih banyak, melainkan tentang mensyukuri apa yang kita miliki.
Karena itu, saya memilih tetap berharap. Bukan lagi berharap menjadi orang yang paling berhasil atau paling dikenal, melainkan berharap dapat menjalani sisa usia dengan sehat, bermanfaat, dan husnul khatimah. Saya percaya bahwa harapan yang dipelihara akan memengaruhi cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Para psikolog menyebutnya sebagai Efek Pygmalion: keyakinan yang positif sering kali melahirkan kenyataan yang positif pula.
Semoga demikian pula dengan hari-hari yang masih tersisa. Semoga kita mampu menemukan kebahagiaan, bukan setelah semua keinginan terpenuhi, melainkan di tengah segala keterbatasan yang Allah berikan. Sebab, sering kali bukan hidup yang harus diubah, melainkan cara kita memandang hidup.

0 comments :
Post a Comment