Powered by Blogger.
Home » » KATARSIS 10 : MENIKMATI PROSES

KATARSIS 10 : MENIKMATI PROSES

Written By Suheryana Bae on Thursday, June 25, 2026 | 5:33 PM


Seperti rumput hidup manusia 

Seperti bunga padang yang mulia, kata kitab suci. 

Lalu dalam realita, rerumputan yang kuning digaring matahari, 

akan tumbuh subur di musim hujan.

Cemara tak pernah kehabisan daun,  kendati angin tak bosan-bosannya meluruhkannya. 

Jadi tak patut meratap jika nasib terpuruk ke dalam kekecewaan sesekali. 

(Ashadi Siregar) 

Hidup yang dijalani manusia, sejatinya, adalah satu rangkaian proses berkesinambungan  — tumbuh, layu, tumbuh lagi. Kekeringan bukan akhir dari rerumputan, melainkan fase yang akan dilewati sebelum kesuburan datang kembali. Begitu pula kegagalan dalam hidup manusia, bukan titik akhir, melainkan satu fase dalam siklus yang lebih besar.

Yang mesti dijalani dalam hidup, pada dasarnya sederhana, bercita-cita kemudian bekerja keras untuk mewujudkannya. Namun dalam perjalanan menuju cita-cita, kegagalan mungkin hadir, sesekali atau bahkan berkali-kali. Bukan sesuatu yang perlu diratapi, karena kegagalan akan selalu menyertai manusia sepanjang hidup di planet bumi. Kegagalan dan keberhasilan adalah pasangan tidak terpisahkan — seperti dua sisi mata uang. 

Kalimat ini bukan penghiburan semata, tetapi adalah kebenaran yang sangat mendasar tentang bagaimana segala pencapaian diraih. Tidak ada penemuan besar lahir dari percobaan pertama yang langsung berhasil. Tidak ada keterampilan yang dikuasai tanpa melalui banyak kesalahan di sepanjang prosesnya. Kegagalan bukan lawan dari keberhasilan, melainkan bahan baku yang membentuk keberhasilan.

Hidup sesungguhnya hanyalah sebuah proses. Tidak lebih dari itu. Tidak ada yang lain. Keberhasilan adalah bagian dari proses. Kegagalan pun bagian dari proses. Keduanya bukan dua jalan yang berbeda, melainkan dua momen yang sama-sama menyusun satu perjalanan utuh. Maka tidak ada alasan untuk bersedih berlebihan ketika dalam proses itu kita mengalami kegagalan, karena kegagalan memang bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan sejarah kehidupan.

Yang menjadi pembeda antara satu orang dengan orang lain bukanlah seberapa sering mengalami kegagalan, melainkan bagaimana bersikap di dalam proses. Sebagian orang hanya berfokus pada hasil akhir — mereka cemas sepanjang perjalanan, kemudian membandingkan posisi mereka dengan orang lain, dan baru merasa tenang ketika tujuan akhirnya tercapai. Namun ketenangan semacam itu biasanya berumur pendek, karena setelah satu tujuan tercapai, akan muncul tujuan baru yang menuntut kecemasan yang sama.

Sebagian orang yang lain memilih cara berbeda. Mereka tetap memiliki cita-cita, tetap bekerja keras untuk mewujudkannya, tetapi menghayati setiap langkah perjalanan — termasuk langkah-langkah yang terasa berat, lambat, atau bahkan gagal. Mereka tidak menunggu hasil akhir untuk merasa hidup ini bermakna, karena proses itu sendiri adalah  makna, terlepas dari apa pun hasil yang akan didapat.

Orang-orang seperti inilah yang akhirnya memperoleh ketenteraman hidup dan kebahagiaan. Bukan kebahagiaan yang bergantung pada pencapaian eksternal yang bisa datang dan pergi, melainkan kebahagiaan yang lahir dari kemampuan untuk menerima setiap fase kehidupan dengan lapang dada — fase yang subur maupun fase yang kering, fase berhasil maupun fase gagal.

Penting untuk diingat, bahwa orang yang berhasil secara lahiriah belum tentu menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya. Banyak orang mencapai cita-cita, namun tetap merasa kosong dan tidak puas, karena sepanjang perjalanan tidak pernah benar-benar menikmatinya. Sebaliknya, orang yang mampu menikmati proses — menerima kegagalan sebagai bagian wajar dari perjalanan, dan tetap bersyukur di setiap langkah yang dilalui — itulah orang yang sesungguhnya berbahagia.

Seperti rerumputan yang kembali tumbuh subur setelah masa kering, dan cemara yang tetap berdiri kokoh meski daunnya terus berguguran, manusia pun dirancang untuk terus bertumbuh melalui siklus jatuh dan bangkit. Yang membedakan adalah, apakah kita memilih untuk meratap sepanjang musim kering, atau memilih menikmati setiap fase, sambil percaya bahwa musim hujan akan selalu datang pada waktunya.

0 comments :

Post a Comment