Powered by Blogger.
Home » » KATARSIS 5 : PENDIDIKAN VERSUS KEMAMPUAN

KATARSIS 5 : PENDIDIKAN VERSUS KEMAMPUAN

Written By Suheryana Bae on Friday, June 12, 2026 | 8:47 PM


Lembaran koran *Kompas* tahun 1987 tergeletak di meja belajar, menampilkan hasil wawancara dengan para manajer. Di sana tertulis jelas sebuah realitas bahwa para pengusaha rupanya jauh lebih menghargai kemampuan ketimbang selembar ijazah. Menjadi seorang manajer adalah buah dari kapasitas diri, bukan sekadar deretan gelar.

Para pelajar dan mahasiswa setiap hari datang ke kampus, mencatat, menghafal teori, dan bertaruh nasib pada lembar ujian demi sebuah target yang mulia: lulus dengan nilai tinggi dan membawa pulang ijazah. 

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan formal saja tidak pernah cukup. Dunia nyata, terutama dunia usaha yang dinamis, menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar transkrip nilai. Dunia kerja membutuhkan kombinasi antara basis pendidikan dan kemampuan praktis.

Ijazah yang kita rayakan dengan toga dan kebanggaan orang tua, pada hakikatnya hanyalah sebuah tiket masuk. Seperti karcis menonton bola. Ia memberi akses untuk melangkah melewati pintu gerbang dan duduk di dalam stadion, tetapi sama sekali tidak menjamin apakah kita akan mendapat kesenangan dan pembelajaran dari pertandingan berkualitas, atau hanya membuang-buang waktu. Juga tidak menjamin apakah kita mendapat tempat strategis atau justru tidak dapat menonton dengan jelas.

Ijazah mencerminkan ketekunan menyelesaikan masa studi, tetapi tidak pernah menunjukkan peran yang signifikan terhadap seberapa jauh karier dapat kita capai. Keberhasilan karier dibentuk oleh keputusan-keputusan penting, kemampuan memecahkan masalah, dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain—hal-hal yang sayangnya jarang diujikan dalam ujian akhir semester.

Oleh karena itu, sungguh sebuah kekeliruan besar jika mengurung diri hanya dalam batas-batas kurikulum formal kampus. Menjadi pelajar atau mahasiswa menuntut untuk menjadi pembelajar yang ekstra keras di luar kelas. Mengandalkan dosen dan perpustakaan saja akan membuat kita gagap saat berada di tengah masyarakat. Kita harus berani memperkaya diri dengan referensi-referensi alternatif yang baik, membaca buku-buku kelas dunia, dan melatih kerja profesional sejak dini. Melibatkan diri dalam berbagai kursus keterampilan, pelatihan kepemimpinan, atau bahkan sekadar belajar mengelola organisasi adalah laboratorium yang sesungguhnya. Di sanalah kemampuan komunikasi, negosiasi, dan ketahanan mental kita diuji dan ditempa.

Catatan ini menjadi pengingat, jangan pernah cepat puas dengan zona nyaman pembelajaran formal. Indeks prestasi yang sempurna memang indah dipandang di atas kertas, tetapi ia akan menjadi usang jika tidak dibersamai oleh karakter dan keahlian. Di luar sana, tantangan zaman bergulir lebih cepat daripada pembaruan kurikulum kampus. Menghadapi masa depan bukan tentang seberapa tebal map ijazah yang dibawa saat melamar pekerjaan, melainkan tentang seberapa siap tangan dan pikiran kita menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Pendidikan memberi fondasi, tetapi kemampuanlah yang membangun seluruh arsitektur kesuksesan. Jangan biarkan diri terpenjara di dalam ruangan. Melangkah keluar, asah bakat, latih keterampilan, teruslah belajar. Jadilah lebih besar dari sekadar nilai yang tertulis di ijazah.

0 comments :

Post a Comment