Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 88 : MERAIH KEMERDEKAAN

CATATAN PENSIUNAN 88 : MERAIH KEMERDEKAAN

Written By Suheryana Bae on Wednesday, July 22, 2026 | 9:58 AM


Dunia memiliki daya pikat yang luar biasa. Kehadirannya bukan sebagai musuh yang menakutkan, melainkan sebagai sahabat terbaik. Dunia menawarkan kenyamanan, kemewahan, prestise, dan pengakuan. Semuanya tampak indah dan masuk akal. Karena itulah dunia menjadi candu. Sang penggoda selalu hadir dengan wajah yang mempesona.

Ketika hidup sebenarnya cukup dengan rumah sederhana, muncul keinginan memiliki rumah yang lebih besar lengkap dengan taman dan kolam renang. Sepeda sebenarnya sudah memadai untuk transportasi harian, tetapi muncul hasrat memiliki Camry terbaru, BMW, atau BYD. Pendapatan sebenarnya telah mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi muncul keinginan memperoleh lebih banyak lagi agar dapat bepergian ke berbagai negara atau menghadiri pesta kaum borjuis.

Keinginan tidak pernah berhenti. Satu tercapai, lahirlah keinginan berikutnya. Demikian siklusnya.

Banyak orang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengejar sesuatu yang terus bergerak. Saat berhasil meraih suatu jabatan, muncul keinginan mengejar jabatan yang lebih tinggi. Setelah harta dan aset terkumpul, target kembali dinaikkan. Setelah memperoleh satu penghargaan, segera muncul kebutuhan akan pengakuan yang lebih luas. Orang bekerja tanpa mengenal lelah, tetapi tidak pernah benar-benar sampai di garis akhir.

Dalam kenyataannya, kebutuhan manusia tidak sebanyak yang dibayangkan. Yang tidak terbatas adalah hasrat untuk memiliki yang memperbesar sesuatu yang kecil sehingga terasa sangat penting. Membuat kita percaya bahwa kebahagiaan hanya tinggal satu langkah lagi. Padahal setiap kali melangkah, garis akhirnya justru semakin menjauh.

Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati manusia laksana cermin. Jika dipenuhi kecintaan kepada dunia, pantulan cahaya kebenaran menjadi kabur. Dunia bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi, melainkan hanyalah sarana, bukan tujuan. Ketika sarana berubah menjadi tujuan, manusia kehilangan kebebasannya. Ia bekerja bukan lagi karena kebutuhan, melainkan karena dikendalikan oleh keinginannya sendiri.

Para filsuf Stoa mengajarkan hal yang serupa. Kebahagiaan tidak lahir dari banyaknya barang yang dimiliki, melainkan dari kemampuan membatasi keinginan. Orang yang mampu berkata, "Cukup," sesungguhnya lebih kaya daripada orang yang terus berkata, "Kurang." Kekayaan terbesar bukan terletak pada besarnya aset, melainkan pada kemampuan menikmati apa yang telah dimiliki.

Di usia senja, ritme hidup melambat. Kita mulai melihat bahwa banyak hal yang dahulu dianggap penting ternyata tidak sepenting yang kita kira. Hari-hari yang sederhana justru menghadirkan ketenangan yang tidak dapat dibeli. Menyatu dengan ternak peliharaan, berjalan di kebun, membaca beberapa halaman buku, mengobrol bersama keluarga, atau duduk menikmati secangkir kopi di teras rumah menghadirkan rasa syukur yang dahulu tersembunyi di balik kesibukan.

Mengapa kita begitu tergesa-gesa? Mengapa merasa harus selalu lebih tinggi, lebih besar, dan lebih banyak? Bukankah sebagian besar yang kita perlukan untuk hidup ternyata sangat sederhana?

Bukan berarti cita-cita itu salah. Bekerja keras juga bukan sebuah kesalahan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kita menjadi budak dari keinginan yang tidak pernah selesai. Keinginan memang diperlukan agar manusia berkembang. Namun, jika tidak dikendalikan, ia berubah menjadi rantai yang mengikat langkah kita sendiri.

Mencapai usia senja adalah kemewahan yang tidak dimiliki semua orang. Kita memperoleh kesempatan untuk memilih dan menikmati kebebasan. Tidak lagi harus membuktikan diri kepada siapa pun, sehingga dapat menentukan sendiri apa yang benar-benar penting. Kini saat yang tepat memindahkan pusat kebahagiaan dari luar ke dalam; dari memiliki menjadi mensyukuri, dari mengejar menjadi menikmati.

Barangkali inilah kebebasan yang sesungguhnya. Bukan bebas membeli apa saja, melainkan membebaskan diri dari hasrat untuk selalu membeli. Bukan bebas pergi ke mana saja, melainkan membebaskan diri dari angan-angan bahwa kita harus berada di tempat lain agar bahagia. Bukan bebas mengumpulkan aset tanpa batas, melainkan bebas mengatakan, "cukup."

Dunia akan selalu menggoda melalui iklan, media sosial, atau lingkungan yang gemar memamerkan kemewahan. Namun pengalaman mengajarkan satu kebijaksanaan; tidak semua yang menarik harus dimiliki, tidak semua kesempatan harus diambil, dan tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang penuh dengan kemewahan, melainkan kehidupan yang dipenuhi rasa cukup. Sebab, orang yang telah menemukan rasa cukup tidak lagi diperbudak dunia. Ia hidup di tengah dunia, bekerja, menikmati rezeki yang dianugerahkan Allah, tetapi hatinya tidak ditawan oleh gemerlap dunia.

Kemerdekaan tertinggi bukanlah memiliki segalanya, melainkan mampu mengendalikan keinginan, mensyukuri yang ada, dan menyederhanakan hasrat terhadap dunia. Di situlah letak kebahagiaan yang tenang, kebebasan yang sejati, dan kebijaksanaan yang perlahan diajarkan oleh pengalaman.


0 comments :

Post a Comment