Powered by Blogger.
Home » » RENUNGAN SPIRITUAL 9 : MEMILIH ARAH

RENUNGAN SPIRITUAL 9 : MEMILIH ARAH

Written By Suheryana Bae on Tuesday, July 21, 2026 | 11:15 AM


PERLU KOREKSI SEKALI LAGI

Kita tahu bahwa kematian itu pasti. Bahwa ada hari perhitungan dan kehidupan setelah kematian adalah kehidupan abadi; sementara dunia hanya sementara. Kita tahu semua itu dan secara kognitif meyakininya. Tapi hati kita merespons lebih lambat dari pengetahuan.

Hati kita masih tertambat pada dunia.

Inilah ironi terbesar manusia beriman, pengetahuan tidak diikuti dengan keyakinan. Kita betah, sangat mencintai dan menikmati dunia. Persoalannya, selama hasrat duniawi menguasai, selama kenikmatan dunia masih lebih berkuasa daripada janji akhirat, selama itu pula kita akan kesulitan berkhidmat pada kehidupan kekal di kemudian hari.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyampaikan perumpamaan mengenai hal ini. Bahwa dunia dan akhirat laksana Timur dan Barat—dua arah yang tidak mungkin dipertemukan pada titik yang sama. Makin jauh melangkah ke Timur, makin jauh jarak kita dari Barat. Sehingga bagaimana mungkin orang yang berjalan ke Timur akan menemukan Barat.

Sebuah peringatan logis tentang konsekuensi dari pilihan hidup. Ketika orientasi utama kita adalah dunia, langkah-langkah kita sehari-hari mengumpulkan, menikmati, dan mempertahankan dunia, maka kita sedang berjalan ke Timur. Mustahil akan sampai ke Barat. Kita tidak akan menemukan kebahagiaan akhirat—bukan karena akhirat tidak ada, tetapi karena kita tidak pernah benar-benar mengarahkan diri ke sana.

Al-Ghazali juga mengibaratkan dunia dan akhirat seperti dua sisi timbangan. Ketika satu sisi naik, sisi lain akan turun. Bagi orang awam, tentu bukan ajakan untuk meninggalkan dunia sepenuhnya—suatu hal yang tidak mungkin. Hanya mengingatkan bahwa ada tarik-menarik di antara keduanya. Setiap tambahan intensitas cinta pada dunia mengandung konsekuensi berkurangnya kesiapan untuk kehidupan akhirat. Waktu yang kita habiskan untuk mengejar dunia sebenarnya adalah waktu yang sama yang dapat digunakan untuk persiapan berpulang ke alam keabadian.

Lalu mengapa kita tetap saja lebih mencintai dunia? Bukankah kita sudah tahu? Inilah yang disebut Al-Ghazali sebagai penyakit hati. Pengetahuan di kepala tidak menembus kesadaran di hati. Kita tahu bahwa dunia fana, tetapi kita bertindak seolah-olah dunia kekal. Kita tahu bahwa akhirat lebih baik dan lebih kekal, tetapi kita menunda-nunda menjalankan ibadah.

Sesungguhnya orang yang berjalan ke timur tidak akan pernah menemukan barat. Tidak ada jalan pintas, tidak ada kompromi. Arah menentukan tujuan. Selama kita masih mengikatkan hati dengan cinta dunia sepenuhnya—menjadikan dunia sebagai tujuan akhir—sebenarnya kita sedang memilih arah ke Timur dan mengabaikan arah Barat; memilih dunia dan mengabaikan kebahagiaan akhirat.

Pertanyaannya adalah ke arah mana kita benar-benar melangkah. Karena pada akhirnya, kita tidak akan sampai ke tempat yang tidak pernah kita tuju.


0 comments :

Post a Comment