Powered by Blogger.
Home » , » CATATAN PENSIUNNAN 80 : MENABUR HARAPAN, MENUAI GAIRAH

CATATAN PENSIUNNAN 80 : MENABUR HARAPAN, MENUAI GAIRAH

Written By Suheryana Bae on Wednesday, July 1, 2026 | 5:58 AM


Ada kalanya semangat tidak lahir dari keberhasilan, melainkan dari tindakan sederhana. Kita mulai mengerjakan sesuatu walaupun tidak mengetahui hasil akhirnya, dan dari langkah pertama itulah harapan tumbuh. Kemudian harapan melahirkan gairah. Dan gairah membuat kita ingin terus belajar.

Barangkali itulah yang saya rasakan setelah pensiun.

Banyak orang membayangkan pensiun sebagai akhir sebuah perjalanan. Jam kerja selesai, jabatan berakhir, rutinitas menghilang. Sebagian orang menikmatinya sebagai waktu untuk beristirahat. Sebagian lagi merasa kehilangan arah karena tidak lagi memiliki tujuan dan pekerjaan.

Saya memilih jalan yang berbeda.

Saya belajar memelihara ayam kampung dan mengolah kebun. Sesekali tinggal di saung di tengah kebun, menikmati pagi bersama nyanyian burung, keceriaan ayam, tetesan embun di daun-daun pisang, dan cahaya matahari yang menyelinap di sela pepohonan. Di tempat sederhana itulah saya menemukan kembali sesuatu yang hampir terlupakan: gairah untuk belajar.

Pada awalnya saya tidak tahu banyak. Saya hanya memiliki keinginan untuk mencoba.

Lalu muncul pertanyaan demi pertanyaan. Bibit seperti apa yang menghasilkan ayam yang sehat? Mengapa sebagian tanaman tumbuh subur, sementara yang lain layu? Berapa kebutuhan pakan atau pupuk agar pertumbuhan optimal? Bagaimana membaca musim? Bagaimana meningkatkan produktivitas tanpa merusak keseimbangan alam?

Semakin banyak bertanya, semakin banyak yang harus dipelajari.

Saya mulai mencari referensi, belajar melalui YouTube, bertanya kepada orang yang berpengalaman, mengamati perilaku ayam, memperhatikan perubahan tanah setelah hujan, dan mencatat hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah saya anggap penting.

Ternyata alam adalah guru yang sabar. Alam tidak tergesa-gesa memberikan pelajaran. Alam mengajarkan bahwa benih yang baik belum tentu tumbuh jika tidak dirawat. Alam juga mengajarkan bahwa kesabaran sering kali lebih penting daripada kecerdasan, dan hasil panen tidak ditentukan oleh keinginan, melainkan oleh proses yang dijalani setiap hari.

Di situlah saya menyadari bahwa tindakan memiliki kekuatan yang luar biasa.

Ketika seseorang mulai bertindak, harapan akan datang. Harapan membuat pikiran menjadi hidup. Pikiran yang hidup melahirkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu mendorong seseorang untuk belajar. Dan belajar membuat hidup kembali memiliki arah.

Saya membayangkan seandainya setelah pensiun hanya duduk menikmati hari tanpa melakukan sesuatu yang baru. Mungkin hidup akan terasa  membosankan dan belum tentu lebih bermakna.

Justru karena memutuskan untuk beternak dan berkebun, saya memperoleh alasan untuk bangun di pagi hari dengan penuh gairah. Ada kandang yang harus dibersihkan, rumput liar yang perlu disiangi, atau bibit yang harus dipilih. Ada pula kegagalan yang harus dievaluasi dan keberhasilan kecil yang layak disyukuri.

Semuanya menghadirkan energi baru.

Saya kemudian memahami bahwa gairah hidup tidak datang dengan sendirinya. Gairah hidup lahir ketika manusia masih memiliki sesuatu untuk dipelajari, sesuatu untuk dikerjakan, dan sesuatu untuk diharapkan.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang tetap produktif hingga usia lanjut. Bukan semata-mata karena membutuhkan penghasilan, melainkan karena membutuhkan alasan untuk terus bertumbuh.

Uang hanyalah salah satu hasil dari kerja. Yang jauh lebih berharga adalah proses belajar itu sendiri. Ketika seekor ayam tumbuh sehat berkat perawatan yang benar, ada kepuasan yang tidak dapat dibeli. Ketika tanaman berbuah setelah berbulan-bulan dirawat, ada rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Saya semakin percaya bahwa manusia tidak diciptakan untuk berhenti bertumbuh. Selama masih ada rasa ingin tahu dan kemauan belajar, usia hanyalah angka.

Pensiun ternyata bukan akhir produktivitas. Justru pensiun membuka ruang untuk mempelajari hal-hal yang selama ini terabaikan karena kesibukan bekerja. Waktu yang dahulu habis di kantor kini berubah menjadi kesempatan untuk belajar dari alam.

Maka, jika ada yang bertanya apa manfaat terbesar dari beternak dan berkebun setelah pensiun, jawaban saya bukanlah panen, bukan pula keuntungan.

Manfaat terbesarnya adalah gairah.

Gairah untuk bangun pagi. Gairah untuk mencoba. Gairah untuk gagal lalu memperbaiki. Gairah untuk membaca, bertanya, dan memahami sesuatu yang kemarin belum saya ketahui.

Akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan sederhana. Harapan tidak tumbuh karena kita menunggu. Harapan tumbuh karena kita mulai menabur. Dan ketika harapan telah ditaburkan, perlahan-lahan berubah menjadi gairah yang membuat hidup terus bergerak.

Mungkin itulah sebabnya kita masih perlu belajar. Sebab selama masih ada yang ingin dipelajari, selalu ada alasan untuk menyambut pagi dengan penuh syukur.

0 comments :

Post a Comment