Hari-hari dipenuhi gairah untuk belajar. Waktu terasa kurang ketika diisi dengan membaca buku, mengikuti diskusi, dan merenungkan berbagai persoalan tentang manusia dan kehidupan. Semakin banyak yang saya pelajari, semakin banyak pula pertanyaan yang bermunculan. Apa sebenarnya tujuan hidup? Mengapa manusia harus menderita? Ke mana manusia pergi setelah kematian? Apakah keadilan yang mutlak benar-benar ada?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiran. Sebagian memperoleh jawaban, tetapi lebih banyak lagi yang justru melahirkan pertanyaan baru.
Di dekat tempat tinggal saya tinggal seorang perempuan tua. Kehidupannya sangat sederhana. Hartanya tidak banyak, pendidikannya rendah, dan hampir tidak pernah membaca buku filsafat maupun psikologi. Namun, wajahnya selalu memancarkan ketenangan. Ia bangun pagi, bekerja seperlunya, menerima kehidupan apa adanya, bersyukur atas makanan yang tersedia, dan beristirahat dengan hati yang tenteram.
Suatu hari saya bertanya, "Mengapa Ibu tampak begitu tenang menjalani hidup?"
Ia tersenyum, seolah pertanyaan itu tidak terlalu penting.
"Aku tidak tahu banyak," katanya pelan. "Yang kutahu hanyalah bekerja dengan jujur, berbuat baik kepada sesama, bersyukur atas rezeki yang ada, dan menyerahkan hal-hal yang tidak kupahami kepada Gusti Allah."
Jawaban itu sederhana, tetapi justru menimbulkan pertanyaan yang lebih besar.
Apakah pengetahuan benar-benar membuat manusia lebih bahagia?
Pertanyaan itu ternyata bukan hal baru. Sejak dahulu, manusia bergulat dengan hubungan antara pengetahuan dan kebahagiaan.
Di satu sisi, tidak dapat disangkal bahwa pengetahuan telah mengubah wajah dunia. Manusia menemukan api, menciptakan roda, mengenal tulisan, mengembangkan ilmu kedokteran, membangun teknologi, hingga mampu menjelajah angkasa. Berkat ilmu pengetahuan, penyakit yang dahulu mematikan kini dapat diobati. Komunikasi menjadi sangat mudah. Jarak seolah menyusut. Harapan hidup meningkat. Peradaban berkembang melalui kemampuan manusia untuk belajar.
Karena itu, tidaklah bijaksana jika kita memandang pengetahuan sebagai penyebab penderitaan. Justru pengetahuan merupakan salah satu karunia terbesar yang dianugerahkan kepada manusia.
Namun, kemajuan peradaban juga menghadirkan kenyataan yang menarik. Semakin luas cakrawala pengetahuan seseorang, semakin luas pula wilayah ketidaktahuannya. Setiap jawaban membuka pintu bagi pertanyaan baru. Setiap penemuan melahirkan misteri berikutnya. Manusia menjadi semakin memahami alam semesta, tetapi sekaligus semakin menyadari betapa luasnya hal-hal yang belum dipahami.
Barangkali di sinilah kegelisahan sering bermula.
Orang yang berpikir mendalam lebih akrab dengan keraguan daripada kepastian. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena memahami bahwa kenyataan jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.
Akan tetapi, keraguan tidak selalu buruk. Keraguan dapat menjadi tanda bahwa seseorang masih terus belajar. Keraguan menghindarkan manusia dari kesombongan intelektual, yaitu perasaan seolah-olah dirinya telah mengetahui segala sesuatu.
Karena itu, pengetahuan memerlukan pasangan yang tidak kalah penting, yaitu kebijaksanaan.
Pengetahuan memperluas pikiran, sedangkan kebijaksanaan menuntun cara menggunakan pengetahuan. Pengetahuan membuat manusia mampu mengubah dunia, tetapi kebijaksanaan mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan dengan tenang.
Psikolog humanistik Carl Ransom Rogers berpendapat bahwa setiap manusia memiliki dorongan alami untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh. Pertumbuhan itu tidak hanya diukur dari banyaknya informasi yang dimiliki, melainkan juga dari kemampuan menerima diri sendiri, terbuka terhadap pengalaman, dan hidup secara autentik. Pengetahuan yang tidak disertai kematangan batin dapat berubah menjadi kecemasan. Sebaliknya, pengetahuan yang dipadukan dengan penerimaan diri akan melahirkan ketenangan.
Kini saya mengerti bahwa saya dan ibu tetangga sebenarnya sedang menempuh jalan yang sama. Saya mencari melalui buku dan pemikiran. Ia menemukan kedamaian melalui kesederhanaan hidup, rasa syukur, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Tidak ada yang lebih tinggi, dan tidak ada yang lebih rendah. Kami hanya menempuh jalan yang berbeda untuk memahami kehidupan.
Pelajarannya adalah bahwa kebahagiaan bukanlah milik mereka yang tidak tahu, tetapi juga bukan semata-mata milik mereka yang mengetahui banyak hal. Kebahagiaan lebih mungkin hadir pada mereka yang terus belajar tanpa kehilangan rasa syukur, terus berpikir tanpa kehilangan ketenangan, serta terus mencari kebenaran tanpa kehilangan kerendahan hati.
Ilmu pengetahuan akan terus membawa manusia memajukan peradaban. Namun, kebijaksanaanlah yang menjaga agar kemajuan itu tetap memanusiakan manusia.
Semakin banyak belajar, kita semakin menyadari bahwa tidak semua pertanyaan harus segera dijawab. Ada saatnya akal bekerja sekuat tenaga. Ada saatnya hati menerima dengan ikhlas. Dan ada saatnya manusia mengakui dengan rendah hati bahwa sebagian jawaban hanya diketahui oleh Mahapencipta.
Mungkin di situlah pengetahuan menemukan makna tertingginya: bukan ketika membuat manusia merasa paling tahu, melainkan ketika membimbingnya menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih rendah hati, dan lebih menghargai kehidupan.

0 comments :
Post a Comment