Powered by Blogger.
Home » » Catatan 93 : Menjadi Manusia Biasa

Catatan 93 : Menjadi Manusia Biasa

Written By Suheryana Bae on Thursday, August 6, 2026 | 6:33 AM

FINISHING DRAFT 

Secara duniawi, berhenti menjadi pejabat tidaklah mudah.  Maka setelah purna tugas di eksekutif, beberapa orang mangajukan diri untuk menjadi anggota legislatif atau kepala desa/kepala daerah. Jika kesempatan itu tertutup, dicari jalan lain agar tetap berada di lingkaran kekuasaan. Seolah-olah hidup tanpa jabatan adalah kehidupan yang kehilangan makna.

Barangkali jawabannya sederhana. Jabatan memang menawarkan banyak previlege. Penghormatan, protokol, ajudan, sopir pribadi yang mengantar ke mana saja, dan sekretaris yang mengatur agenda, serta berbagai fasilitas dari anggaran negara. Telepon dari pejabat cepat direspon, pintu-pintu selalu terbuka, banyak orang mendekat, meskipun belum tentu disertai ketulusan.

Semua itu perlahan membentuk sebuah identitas. Seseorang tidak lagi melihat dirinya sebagai manusia, melainkan sebagai jabatan yang disandangnya. Tetapi, ketika masa tugas selesai, yang hilang bukan hanya kekuasaan, tetapi juga perasaan penting dan bermakna. Karena itulah banyak orang mengalami kegelisahan. Mereka tidak sedang kehilangan pekerjaan, melainkan kehilangan panggung.

Padahal setiap jabatan hanya titipan. Ada batas waktu dan akan berakhir. Kalau menyadari, yang abadi bukanlah kursinya, melainkan kualitas kemanusiaan. Sayangnya, tidak semua orang mempersiapkan diri menghadapi ketika semua atribut itu harus dilepaskan.

Sebenarnya kita bisa melihat masa pensiun sebagai kesempatan yang jarang dimiliki ketika masih aktif bekerja. Kesempatan untuk berjalan ke arah yang berbeda. Bukan lagi mengejar kedudukan, melainkan mengejar kedalaman hidup. Bukan lagi sibuk mengatur orang lain, melainkan belajar mengatur diri sendiri.

Di usia senja, pertanyaan terpenting bukan lagi, "Jabatan apa yang masih bisa kita raih?" Pertanyaannya berubah menjadi, "Manusia seperti apa yang ingin kita tinggalkan dalam benak orang-orang?"

Menjadi manusia biasa ternyata tidak mudah. Kita tidak lagi dipanggil karena jabatan, tetapi karena nama asli. Tidak lagi dikunjungi karena kepentingan, melainkan karena persahabatan. Tidak lagi dihormati karena kekuasaan, melainkan karena kebijaksanaan atau kemanusiaan. Semua itu tidak dapat diperoleh melalui surat keputusan atau hasil pemilihan umum melainkan tumbuh dari karakter yang dibangun sepanjang hidup.

Saya bersyukur telah pensiun. Pada awalnya membayangkan masa pensiun harus tetap dipenuhi berbagai pencapaian. Bertani, berkebun, dan beternak saya jalani dengan semangat itu. Namun perlahan saya belajar bahwa kehidupan tidak selalu harus diukur dengan produktivitas atau status. Ada kenikmatan yang jauh lebih tenang yaitu bangun di pagi hari sebebasnya, menyapu halaman, memberi makan ayam, membaca, merenung, beribadah, dan berbincang dengan tetangga tanpa sekat jabatan.

Di usia seperti sekarang, saya merasa tidak perlu lagi membuktikan diri kepada siapapun. Dunia sudah cukup riuh dengan orang-orang yang ingin menjadi penting. 

Bukankah pada akhirnya kita semua akan berjalan ke arah yang sama? Ke sebuah tempat yang tidak lagi menanyakan berapa lama kita menjadi pejabat, berapa banyak pengikut, atau berapa besar rumah jabatan yang pernah kita tempati. Yang akan ditanyakan adalah bagaimana kita memperlakukan sesama manusia, seberapa jujur kita menjalankan amanah, dan seberapa dekat kita kepada Mahapencipta.

Karena itu, baiknya sesekali  kita bertanya kepada diri sendiri: " kapan kita berhenti menjadi pejabat, lalu mulai belajar menjadi manusia biasa?"


0 comments :

Post a Comment