Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 94 : HIDUP BERMAKNA SESEDERHANA PERJALANAN CIAMIS-PANGANDARAN

Catatan Pensiunan 94 : HIDUP BERMAKNA SESEDERHANA PERJALANAN CIAMIS-PANGANDARAN

Written By Suheryana Bae on Friday, August 7, 2026 | 9:28 PM


Kadang-kadang kita terlalu sibuk mencari makna hidup pada sesuatu yang besar. Kita membayangkan hidup yang bermakna harus diisi dengan prestasi, karya besar, perjalanan jauh, jabatan, kekayaan, atau sesuatu yang kelak bisa dikenang orang lain.

Pagi ini saya mengalami sesuatu yang sederhana, tetapi justru membuat saya berpikir tentang hal itu. Saya punya tujuan pergi ke Pangandaran untuk menyelesaikan urusan pajak kendaraan bermotor. Tidak ada agenda penting lainnya. Tidak ada pertemuan dengan pejabat. Tidak ada acara istimewa. Hanya sebuah urusan rutin yang harus diselesaikan.

Tetapi justru perjalanan sederhana itu terasa menggairahkan.

Ada perspektif lain ketika kita memiliki tujuan. Begitu kendaraan mulai bergerak, dunia seperti terlihat lebih berwarna. Jalan yang selama ini biasa saja tiba-tiba menjadi menarik. Pepohonan, sawah, rumah penduduk, kendaraan yang berpapasan, tikungan, tanjakan, dan hamparan pemandangan sepanjang perjalanan menjadi bagian dari sebuah pengalaman.

Tujuannya memang sederhana yakni membayar pajak kendaraan. Tetapi perjalanan sekitar dua jam untuk sampai ke tujuan ternyata cukup mengesankan.

Ada ketahanan fisik yang diuji, pemandangan indah, situasi di jalan yang menuntut kewaspadaan dan keberanian, kesempatan mengamati lalu-lalang kehidupan. Bahkan ada ruang bagi imajinasi untuk mengembara.

Saya kemudian berpikir, perjalanan menarik bukan semata-mata karena tempat yang dituju. Perjalanan itu sendiri merupakan pengalaman.

Mungkin begitulah kehidupan.

Kita sering mengira kehidupan akan terasa berarti kalau memiliki tujuan besar. Kita harus mempunyai proyek besar, pekerjaan besar, penghasilan besar, atau cita-cita besar. Akibatnya, ketika semua itu tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan—terutama setelah pensiun—hari-hari terasa kosong.

Padahal, yang mungkin kita perlukan bukan tujuan yang besar, melainkan alasan untuk bergerak.

Ketika seseorang berhenti bekerja, sebagian besar tujuan yang selama puluhan tahun membuatnya bangun setiap pagi tiba-tiba menghilang. Tidak ada lagi apel pagi, briefing staf, target pekerjaan, perjalanan dinas, atau tugas kantor yang harus diselesaikan.

Hari menjadi terasa panjang. Dan bagi sebagian orang, panjangnya hari justru melelahkan.

Karena itu, setelah berhenti bekerja, kita membutuhkan tujuan-tujuan kecil. Mengantar istri ke pasar, menemui teman, membersihkan halaman, merawat tanaman, membaca buku, mengunjungi keluarga, memperbaiki sesuatu yang rusak, berjalan pagi, atau sekadar menyelesaikan urusan yang selama ini tertunda.

Semuanya tampak sederhana. Tetapi jangan meremehkan sesuatu yang sederhana. Kesederhanaan dapat menjadi alasan untuk bangun pagi karena ada sesuatu yang harus dilakukan. Dari sanalah kita tetap terhubung dengan kehidupan.

Hal yang sering tidak kita sadari adalah bahwa makna hidup tidak selalu berada di ujung perjalanan. Justru sering tumbuh di sepanjang perjalanan.

Dalam perjalanan menuju suatu tempat, ada banyak hal kecil yang tidak berkaitan langsung dengan tujuan utama. Kita harus memperhatikan kondisi jalan, menentukan kapan harus berhenti, menyesuaikan kecepatan, membaca situasi lalu lintas, dan menikmati pemandangan. Semua itu membuat kita hadir dalam sebuah momen.

Bukankah salah satu persoalan manusia modern adalah kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir?

Kita sering berada di suatu tempat, tetapi pikiran kita berada di tempat lain. Sedang makan, memikirkan pekerjaan. Sedang bersama keluarga, memikirkan urusan kantor. Sedang berlibur, memikirkan pesan yang belum dibalas. Bahkan setelah pensiun, pikiran masih sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah berlalu.

Perjalanan sederhana memberi kesempatan untuk kembali ke saat ini di sini.

Kita melihat jalan yang sedang dilalui. Mendengar suara kendaraan. Merasakan angin. Menikmati pepohonan. Menyadari tubuh masih mampu bergerak. Dan tiba-tiba kita memahami sesuatu yang sering kita lupakan, bahwa ternyata kita masih menjalani kehidupan.

Mungkin karena itu manusia membutuhkan aktivitas.

Bukan semata-mata untuk menghasilkan uang, dan bukan pula selalu untuk mengejar prestasi. Aktivitas memberi struktur kepada waktu. Membuat hari memiliki bentuk, sekaligus memberi alasan untuk bergerak, berpikir, berinteraksi, dan merasakan sesuatu.

Secara psikologis, manusia membutuhkan tujuan dan perasaan bahwa dirinya masih mampu melakukan sesuatu. Kita ingin merasa terhubung dengan dunia. Ketika aktivitas yang bermakna hilang, seseorang merasa kehilangan arah.

Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan, "Saya sudah tidak punya pekerjaan."

Mungkin pekerjaan memang sudah selesai. Tetapi kehidupan belum selesai.

Masih banyak yang bisa dilakukan. Tidak harus besar, menghasilkan uang, mendapat penghargaan, atau diketahui orang lain. Merawat tanaman, membaca buku, menemui sahabat lama, belajar sesuatu yang baru, berjalan, menulis, membantu orang lain, atau beribadah dengan lebih tenang, semuanya dapat menjadi bagian dari kehidupan yang bermakna.

Kadang-kadang kita tidak membutuhkan petualangan besar untuk merasakan bahwa hidup ini menarik. Kita hanya perlu keluar dari kamar, menyalakan kendaraan, menentukan tujuan, lalu berangkat.

Perjalanan dua jam pun cukup untuk mengingatkan bahwa tubuh masih mampu bergerak, mata masih bisa menikmati pemandangan, pikiran masih bisa berkelana, dan hati masih mampu merasakan kegembiraan.

Sesederhana itu.

Hidup yang bermakna tidak selalu menunggu kita melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang ia hadir ketika kita bersedia melakukan sesuatu yang biasa dengan kesadaran yang luar biasa.

Maka, berbuatlah sesuatu.

Sebab ketika kita bergerak menuju sebuah tujuan, sekecil apa pun tujuan itu, kehidupan perlahan mendapatkan kembali maknanya.

Perjalanan ke Pangandaran mengingatkan saya bahwa selama masih ada tujuan, selalu ada alasan untuk berangkat. Dan selama kita masih mau berangkat, sesungguhnya kita masih sedang menjalani kehidupan.

0 comments :

Post a Comment