DRAFT
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mencari makna hidup pada sesuatu yang besar. Kita membayangkan hidup yang bermakna harus diisi dengan prestasi, karya besar, perjalanan jauh, jabatan, kekayaan, atau sesuatu yang kelak bisa dikenang orang lain.
Padahal, mungkin kita terlalu banyak menuntut kehidupan.
Pagi ini saya punya sebuah tujuan yang sangat sederhana, pergi ke Pangandaran untuk menyelesaikan urusan pajak kendaraan bermotor. Tidak ada agenda penting lainnya. Tidak ada pertemuan dengan pejabat. Tidak ada acara istimewa. Perjalanan yang, kalau dihitung dari tempat berangkat, membutuhkan waktu sekitar dua jam.
Tetapi justru perjalanan sederhana itu terasa menggairahkan.
Ada sesuatu yang berubah ketika kita memiliki tujuan. Begitu kendaraan mulai bergerak, dunia seperti kembali memiliki warna. Jalan yang selama ini biasa saja tiba-tiba menjadi menarik. Pepohonan, sawah, rumah-rumah penduduk, kendaraan yang berpapasan, tikungan, tanjakan, dan hamparan pemandangan sepanjang perjalanan menjadi bagian dari sebuah pengalaman.
Tujuannya memang sederhana, membayar pajak kendaraan. Tetapi perjalanan untuk sampai tujuan mengandung banyak hal.
Pemandangan yang menyegarkan, perjalanan yang menguji ketahanan fisik, situasi di jalan yang menuntut kewaspadaan dan keberanian, kesempatan untuk mengamati lalu lalqng kehidupan; bahkan ada ruang bagi imajinasi untuk mengembara.
Perjalanan menarik bukan semata-mata tempat yang dituju, karena perjalanan itu sendiri sudah menjadi pengalaman.
Mungkin begitulah kehidupan.
Kita sering mengira kehidupan berarti kalau memiliki tujuan besar. Kita harus mempunyai proyek besar, pekerjaan besar, penghasilan besar, atau cita-cita besar. Akibatnya, ketika semua tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan—terutama setelah pensiun—hari-hari terasa kosong.
Padahal, yang mungkin kita perlukan bukan tujuan yang besar, melainkan alasan untuk bergerak.
Ketika seseorang berhenti bekerja, sebagian besar tujuan yang selama puluhan tahun membuatnya bangun di pagi hari, tiba-tiba menghilang. Tidak ada lagi apel pagi, briefing staf, target pekerjaan, perjalanan dinas, atau persoalan kantor yang harus diselesaikan.
Hari menjadi terasa panjang, dan bagi sebagian orang terasa melelahkan.
Karena itu, setelah berhenti bekerja, kita membutuhkan tujuan-tujuan kecil. Mengantar istri ke pasar, menemui teman, membersihkan halaman, merawat tanaman, membaca buku, mengunjungi keluarga, memperbaiki sesuatu yang rusak, berjalan pagi, atau sekadar menyelesaikan sebuah urusan yang selama ini tertunda.
Semuanya tampak sederhana.
Tetapi jangan remehkan sesuatu yang sederhana. Kesederhanaa bisa menjadi alasan untuk bangun pagi karena ada sesuatu yang harus dilakukan. Dan ketika kita masih mempunyai sesuatu untuk dilakukan, kita terhubung dengan kehidupan.
Hal ini tidak kita sadari. Bahwa Makna hidup tidak selalu berada di ujung perjalanan, melainkan tumbuh di dalam perjalanan.
Dalam perjalanan ke suatu, ada begitu banyak hal kecil yang sebenarnya tidak berkaitan dengan urusan utama. Kita harus memperhatikan kondisi jalan, menentukan kapan harus berhenti, menyesuaikan kecepatan, membaca situasi lalu lintas, dan menikmati pemandangan.
#######
Semua itu membuat saya merasa hadir.
Dan bukankah salah satu persoalan manusia modern adalah kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir?
Kita sering berada di suatu tempat, tetapi pikiran kita berada di tempat lain. Sedang makan, memikirkan pekerjaan. Sedang bersama keluarga, memikirkan urusan kantor. Sedang berlibur, memikirkan pesan yang belum dibalas. Bahkan ketika sudah pensiun, pikiran masih sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah berlalu.
Perjalanan sederhana memberi kesempatan untuk kembali kepada saat ini.
Kita melihat jalan yang sedang dilalui. Mendengar suara kendaraan. Merasakan angin. Melihat pepohonan. Menyadari tubuh masih mampu bergerak. Dan tiba-tiba kita menyadari sesuatu yang sering kita lupakan: ternyata hidup masih berlangsung.
Mungkin karena itu manusia membutuhkan aktivitas.
Bukan semata-mata untuk menghasilkan uang. Bukan pula selalu untuk mencapai prestasi. Aktivitas memberi struktur kepada waktu. Ia membuat hari memiliki bentuk. Ia memberikan alasan untuk bergerak, berpikir, berinteraksi, dan merasakan sesuatu.
Dalam psikologi, manusia memang membutuhkan rasa memiliki tujuan dan rasa mampu melakukan sesuatu. Kita ingin merasa bahwa keberadaan kita masih mempunyai hubungan dengan dunia. Ketika seseorang tidak lagi memiliki aktivitas yang berarti, ia mudah merasa dirinya tidak dibutuhkan.
Karena itu, setelah pensiun, jangan terlalu cepat mengatakan, "Saya sudah tidak punya pekerjaan."
Mungkin pekerjaan memang sudah selesai.
Tetapi kehidupan belum selesai.
Ada banyak hal yang masih bisa dilakukan.
Tidak harus besar. Tidak harus menghasilkan uang. Tidak harus mendapat penghargaan. Bahkan tidak harus diketahui orang lain.
Yang penting, lakukan sesuatu.
Pergilah ke suatu tempat. Rawatlah tanaman. Bacalah buku. Temui sahabat lama. Belajar sesuatu yang baru. Berjalanlah. Menulis. Beribadah dengan lebih tenang. Membantu orang lain. Atau, kalau ada urusan pajak kendaraan yang harus diselesaikan, pergilah ke Pangandaran.
Sebab kadang-kadang kita tidak membutuhkan petualangan besar untuk merasakan bahwa hidup ini menarik.
Kita hanya perlu keluar dari kamar, menyalakan kendaraan, menentukan tujuan, lalu berangkat.
Perjalanan dua jam pun cukup untuk mengingatkan bahwa tubuh masih mampu bergerak, mata masih bisa menikmati pemandangan, pikiran masih bisa berkelana, dan hati masih bisa merasa gembira.
Mungkin memang sesederhana itu.
Hidup yang bermakna tidak selalu menunggu kita melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang ia datang ketika kita bersedia melakukan sesuatu yang biasa dengan kesadaran yang luar biasa.
Maka, jangan terlalu lama duduk menunggu kehidupan menjadi menarik.
Berbuatlah sesuatu.
Sebab ketika kita bergerak menuju sebuah tujuan, sekecil apa pun tujuan itu, kehidupan perlahan mendapatkan kembali maknanya.
Seperti perjalanan sederhana menuju Pangandaran.
Tujuannya hanya membayar pajak.
Tetapi perjalanan itu mengingatkan saya bahwa selama masih ada tujuan, sekecil apa pun, selalu ada alasan untuk berangkat.
Dan selama kita masih mau berangkat, sesungguhnya kita masih sedang menjalani kehidupan.

0 comments :
Post a Comment