Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 104 : Membatasi Permainan

Catatan Pensiunan 104 : Membatasi Permainan

Written By Suheryana Bae on Friday, September 4, 2026 | 4:20 PM

FINISHING DRAFT

Waktu ternyata tidak sepanjang yang pernah kita bayangkan.

Ketika masih muda, hari esok terasa begitu panjang. Kesempatan seolah tidak terbatas. Gagal hari ini, masih ada hari esok. Belum berhasil tahun ini, masih ada tahun depan.

Tetapi usia menyadarkan tentang sesuatu yang berbeda: bahwa kesempatan sebenarnya terbatas. Tidak berarti kehidupan akan segera berakhir, tetapi ruang untuk mencoba, mengejar, dan mengulang semakin sempit. Karena itu, pada usia senja, kita perlu lebih selektif menentukan apa yang layak dilakukan.

Johan Huizinga dalam Homo Ludens melihat manusia sebagai makhluk yang bermain. Bermain bukan sekadar aktivitas anak-anak atau hiburan untuk mengisi waktu luang. Permainan mempunyai aturan, batas, tujuan, bahkan kesungguhan. Unsur bermain mempunyai hubungan erat dengan lahir dan berkembangnya kebudayaan manusia.

Kalau kehidupan adalah sebuah permainan, maka sepanjang hidup kita sebenarnya telah memainkan banyak permainan.

Ketika kecil, kita bermain untuk bersenang-senang. Ketika remaja, kita bermain dalam pergaulan dan persahabatan. Ketika dewasa, kita bermain dalam arena pendidikan, pekerjaan, karier, jabatan, uang, kekuasaan, prestasi, popularitas, dan berbagai bentuk pencapaian.

Sebagian permainan memang perlu dimainkan.

Kita harus bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, belajar, berusaha, berkompetisi, dan mencapai sesuatu. Semua ini bagian dari kehidupan.

Namun, terkadang kita lupa bahwa permainan itu memiliki batas. Kita terus bermain meskipun permainan itu sebenarnya sudah tidak lagi diperlukan.

Orang yang memiliki kecukupan ekonomi tidak berhenti mengejar kekayaan. Pensiunan masih berkompetisi mengejar jabatan. Ada pula orang yang masih membutuhkan tepuk tangan. Dalam kehidupannya yang tenang, masih ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Bukan karena benar-benar membutuhkan semua itu, tetapi hanya karena belum tahu bagaimana cara berhenti bermain.

Usia senja memberikan kesempatan untuk melihat permainan kehidupan dari jarak yang lebih jauh. Kita mulai membedakan mana yang penting dan mana yang hanya membuat kita sibuk.

Tidak semua perlombaan harus diikuti. Tidak semua berita harus diikuti. Beberapa pendapat orang tidak harus dihiraukan, dan tidak semua kesenangan harus kita kejar.

Di satu sisi, ada permainan yang menyenangkan tetapi tidak memberikan apa-apa. Di sisi lain, ada kegiatan sederhana yang mungkin tidak dianggap sebagai permainan, tetapi justru memberikan kedamaian dan makna.

Membaca buku, berjalan pagi, bersenda gurau dengan keluarga, merawat tanaman, beternak, menulis, belajar sesuatu yang baru, dan beribadah dengan lebih khusyuk.

Semua itu terlihat sederhana. Tetapi bukankah kehidupan pada akhirnya memang kembali kepada hal-hal sederhana?

Di usia muda, kita mencari kehidupan yang besar. Di usia senja, kita mulai memahami nilai kehidupan yang sederhana.

Dahulu mungkin kita ingin dikenal banyak orang. Sekarang cukup dihargai oleh orang-orang yang dekat dengan kita.

Dahulu ingin pergi sejauh mungkin. Sekarang secangkir kopi di pagi hari, udara yang segar, dan percakapan bersama orang yang disayangi sudah cukup memberikan kebahagiaan.

Kita tidak berhenti bermain, tetapi memilih permainan yang layak dan sesuai.

Permainan mempunyai aturan dan batas, berlangsung dalam ruang dan waktu tertentu. Ada saat untuk memulai dan ada saat untuk selesai.

Kehidupan juga demikian.

Ada permainan yang memang menjadi bagian dari masa muda dan harus selesai ketika waktunya tiba.

Karier, jabatan, kekuatan fisik, dan ambisi mestinya memiliki batas waktu. Bahkan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain pun seharusnya mempunyai batas.

Kesulitan terbesar manusia bukan ketika kehilangan sesuatu, tetapi ketika tidak mampu melepaskan sesuatu saat waktunya tiba.

Karena itu, ketika menjadi tua sebenarnya bukan berarti berhenti bekerja, melainkan kesempatan untuk mengganti permainan.

Dulu kita bermain dalam arena pekerjaan dan karier. Sekarang kita memilih arena yang lebih dekat dengan kehidupan, yakni keluarga, persahabatan, ilmu pengetahuan, spiritualitas, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan.

Permainan ini mungkin tidak menghasilkan uang atau jabatan, tetapi menghasilkan ketenteraman. Inilah bentuk kemenangan yang lebih masuk akal.

Kita tidak perlu memenangkan seluruh dunia. Cukup memenangkan diri sendiri dalam pertarungan melawan keserakahan, kesombongan, kemarahan, dan keinginan untuk selalu dipuji.

Tidak perlu menjadi penting bagi banyak orang, cukup menjadi berarti bagi beberapa orang yang hadir dalam kehidupan kita.

Tidak perlu meninggalkan sejarah heroik, cukup meninggalkan kebaikan dalam ingatan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan kehidupan kita.

Maka, semakin bertambah usia, semakin penting untuk bertanya kepada diri sendiri: permainan apa yang masih layak?

Pertanyaan itu penting karena waktu yang tersisa tidak sama dengan waktu yang telah berlalu.

Kita boleh tertawa, bepergian, menikmati makanan, membaca, bermain, bercanda, dan menikmati hidup, tetapi jangan sampai seluruh sisa kehidupan hanya digunakan untuk bermain.

Sebab ada saatnya kita berhenti mengejar kesenangan dan mulai mencari makna.

Mungkin inilah salah satu kebijaksanaan usia senja: bukan berhenti bermain, tetapi memilih permainan yang bermakna.

Karena waktu terbatas.

Kesempatan berkurang.

Dan tidak semua permainan layak menghabiskan sisa kehidupan kita.


0 comments :

Post a Comment