BEDAH BUKU HOMO LUDENS — JOHAN HUIZINGA
Manusia yang Bermain dan Lahirnya Kebudayaan
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang menjadi pintu masuk pemikiran Johan Huizinga dalam Homo Ludens: bagaimana kalau bermain ternyata bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang?
Selama ini kita cenderung memandang bermain sebagai sesuatu yang ringan. Anak-anak bermain karena belum mempunyai pekerjaan dan tanggung jawab. Orang dewasa bermain setelah pekerjaan selesai. Bermain dianggap sebagai hiburan, rekreasi, atau pelepas kepenatan.
Huizinga menawarkan pandangan yang jauh lebih radikal. Menurutnya, manusia bukan hanya Homo sapiens, manusia yang berpikir, tetapi juga Homo ludens, manusia yang bermain. Bahkan, bermain merupakan salah satu unsur penting yang membentuk kebudayaan.
Buku yang pertama kali terbit pada 1938 ini menarik karena Huizinga tidak memulai dari permainan anak-anak atau olahraga, melainkan melihat bagaimana unsur bermain masuk ke dalam berbagai bidang kehidupan manusia: hukum, perang, agama, seni, bahasa, sastra, politik, hingga kehidupan sosial.
Dengan kata lain, manusia tidak hanya bermain di dalam kebudayaan. Dalam banyak hal, kebudayaan itu sendiri tumbuh melalui permainan.
Apa sebenarnya yang dimaksud Huizinga dengan bermain?
Bermain bukan sekadar melakukan sesuatu yang menyenangkan. Permainan mempunyai ciri khas: ada ruang dan waktu tertentu, ada aturan, ada batas, ada ketidakpastian, ada kompetisi, dan ada kesadaran bahwa orang yang bermain sedang memasuki sebuah dunia yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.
Lihat saja pertandingan sepak bola.
Dua puluh dua orang mengejar sebuah bola selama sembilan puluh menit. Mereka berlari, berkeringat, kadang jatuh dan bahkan menangis. Penonton berteriak dari tribun. Ada wasit, aturan, kartu, pelanggaran, kemenangan dan kekalahan.
Jika dilihat dari luar, semuanya seperti permainan yang tidak memiliki manfaat langsung bagi kehidupan.
Tetapi justru di dalam permainan itu muncul disiplin, kehormatan, strategi, solidaritas, kompetisi, identitas kelompok, bahkan emosi yang sangat kuat.
Permainan ternyata tidak selalu ringan.
Ia dapat dimainkan dengan kesungguhan luar biasa.
Di sinilah salah satu gagasan menarik Huizinga: bermain tidak sama dengan tidak serius.
Orang dapat bermain dengan sangat serius.
Seorang anak yang sedang bermain mungkin terlihat sederhana bagi orang dewasa. Tetapi bagi anak itu, dunianya sedang berlangsung sungguh-sungguh. Ia memiliki aturan, lawan, tujuan dan kehormatan yang harus dipertahankan.
Hal yang sama terjadi dalam kehidupan orang dewasa.
Politik, misalnya, memiliki aturan, simbol, ritual, kompetisi, panggung, bahkan bahasa tertentu. Pengadilan memiliki prosedur dan aturan permainan. Diplomasi mempunyai tata cara. Dunia akademik memiliki tradisi, pengakuan, kompetisi dan penghargaan.
Dalam semua itu terdapat unsur play.
Namun di sinilah Huizinga juga menyampaikan kegelisahan yang penting.
Ketika unsur bermain menjadi terlalu dominan dan kehilangan hubungan dengan nilai-nilai yang lebih tinggi, kebudayaan dapat mengalami kemunduran. Permainan yang seharusnya menjadi bagian dari kebudayaan dapat berubah menjadi sekadar perebutan kemenangan.
Orang tidak lagi bermain untuk menciptakan sesuatu yang indah, tetapi hanya ingin menang.
Tidak lagi mencari kebenaran, tetapi ingin mengalahkan lawan.
Tidak lagi bekerja untuk kepentingan bersama, tetapi untuk mendapatkan status.
Di titik inilah gagasan Huizinga menjadi sangat relevan dengan kehidupan modern.
Kita hidup dalam masyarakat yang semakin kompetitif. Banyak hal berubah menjadi pertandingan. Siapa paling kaya, paling terkenal, paling banyak pengikut, paling tinggi jabatannya, paling besar rumahnya, paling mahal mobilnya.
Media sosial bahkan membuat kehidupan sehari-hari terasa seperti arena pertandingan tanpa akhir.
Jumlah followers menjadi angka. Like menjadi penghargaan. Komentar menjadi penilaian. Foto perjalanan menjadi pertunjukan. Kehidupan pribadi menjadi panggung.
Kita tidak lagi hanya menikmati kehidupan.
Kita mempertontonkan kehidupan.
Dan tanpa sadar kita mulai hidup berdasarkan penilaian penonton.
Di sinilah Homo Ludens menjadi buku yang menarik untuk dibaca kembali pada zaman sekarang.
Huizinga membantu kita memahami bahwa bermain memang merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Kita membutuhkan permainan, humor, seni, olahraga, kompetisi dan rekreasi. Hidup yang seluruhnya serius juga bukan kehidupan yang sehat.
Tetapi permainan membutuhkan batas.
Ada saatnya bermain dan ada saatnya berhenti bermain.
Ada saatnya mengejar kemenangan dan ada saatnya bertanya apakah kemenangan itu memang layak diperjuangkan.
Ada saatnya menikmati hidup dan ada saatnya memberikan sesuatu kepada kehidupan.
Menurut saya, inilah bagian paling menarik dari Homo Ludens ketika dibaca dari perspektif kehidupan manusia yang semakin tua.
Ketika masih muda, kita mungkin menikmati permainan kehidupan. Mengejar pendidikan, pekerjaan, jabatan, uang, rumah, kendaraan, penghargaan, dan pengakuan. Semua itu tidak salah. Bahkan sebagian diperlukan untuk membangun kehidupan.
Tetapi setelah melewati perjalanan yang panjang, muncul pertanyaan lain: setelah semua permainan itu selesai, apa yang tersisa?
Jabatan berakhir.
Uang dapat habis.
Popularitas menurun.
Kekuatan fisik berkurang.
Orang-orang yang dahulu mengejar kita mungkin sudah tidak lagi mengingat nama kita.
Pada saat itu, manusia dipaksa melihat kehidupan dari jarak yang lebih jauh.
Ternyata tidak semua kemenangan penting.
Tidak semua kekalahan berarti kegagalan.
Dan tidak semua kesenangan menghasilkan kebahagiaan.
Kita kemudian mulai mencari sesuatu yang lebih dalam: makna.
Dalam konteks ini, Homo Ludens bukan hanya buku tentang permainan. Ia dapat dibaca sebagai buku tentang manusia dan kebudayaan, sekaligus sebagai cermin untuk melihat bagaimana kita menjalani kehidupan.
Kita membutuhkan kemampuan bermain seperti anak-anak, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan untuk mengetahui kapan sebuah permainan harus dihentikan.
Barangkali manusia yang matang bukan manusia yang berhenti bermain.
Manusia yang matang adalah manusia yang tahu permainan mana yang layak dimainkan.
Tidak semua perlombaan harus diikuti.
Tidak semua kompetisi harus dimenangkan.
Tidak semua provokasi harus dijawab.
Tidak semua panggung harus kita masuki.
Pada usia tertentu, kemampuan mengatakan “tidak” terhadap permainan yang tidak bermakna justru merupakan bentuk kebebasan.
Kita dapat memilih bermain dengan keluarga, bercanda dengan teman, merawat tanaman, membaca buku, menulis, berjalan pagi, memelihara hewan, menikmati secangkir kopi, atau melakukan pekerjaan sederhana yang membuat hati tenteram.
Permainan menjadi indah ketika tidak kehilangan kemanusiaannya.
Dan kehidupan menjadi bermakna ketika kesenangan tidak berhenti pada kesenangan itu sendiri.
Mungkin itulah pelajaran penting yang dapat kita bawa pulang dari Homo Ludens: manusia memang makhluk yang bermain, tetapi kehidupan tidak boleh berhenti sebagai permainan.
Kita bermain untuk menikmati kehidupan, tetapi kita hidup untuk sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesenangan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “Apa yang ingin saya menangkan?”
Melainkan:
“Permainan apa yang layak saya mainkan dengan sisa waktu kehidupan saya?”
Sebab waktu adalah permainan yang tidak pernah bisa diulang.
Dan pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan arena.

0 comments :
Post a Comment