Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 107 : RITUAL PAGI

Catatan Pensiunan 107 : RITUAL PAGI

Written By Suheryana Bae on Wednesday, September 9, 2026 | 6:04 AM

DRAF

Bangun pukul 04.30. Shalat Subuh. Membaca Al-Qur'an. Setelah itu, biasanya datang godaan yang paling sederhana: mengantuk.

Mata mulai lenyep-lenyep. Kelopak terasa berat. Tubuh seperti meminta kembali ke tempat tidur. Kalau kemudian menonton televisi sambil tiduran sebentar saja, hampir bisa dipastikan tertidur.

Dulu saya menganggap tidur setelah Subuh adalah hal biasa. Bukankah tidur itu istirahat? Bukankah tubuh membutuhkan tidur?

Tetapi pengalaman mengajarkan sesuatu yang berbeda. Tidur pagi setelah bangun justru sering membuat badan tidak menjadi lebih segar. Bangun kembali malah terasa pusing, pikiran seperti berkabut, malas bergerak, dan tidak bersemangat melakukan apa-apa.

Ternyata pengalaman seperti itu bukan sesuatu yang aneh.

Dalam ilmu tidur dikenal istilah sleep inertia, yaitu keadaan ketika otak dan tubuh belum sepenuhnya beralih dari tidur menuju kondisi terjaga. Setelah bangun, kemampuan berpikir, perhatian, kewaspadaan, dan respons tubuh untuk sementara dapat menurun. Seseorang bisa merasa mengantuk, bingung, lamban, atau seperti belum benar-benar hadir. Kondisi ini dapat terjadi bahkan setelah tidur malam yang cukup, dan biasanya berangsur-angsur menghilang setelah tubuh benar-benar terjaga.

Itu menjelaskan pengalaman sederhana saya. Rasanya memang seperti sudah bangun, tetapi belum sepenuhnya sadar. Tubuh berada di antara tidur dan bangun.

Karena itu sekarang saya mulai memahami bahwa persoalannya bukan semata-mata kurang tidur. Bisa jadi tubuh memang masih ingin tidur, tetapi tidur kembali pada waktu yang tidak tepat justru membuat proses bangun menjadi lebih berat.

Maka saya menemukan cara sederhana: jangan melawan kantuk dengan kemalasan. Lawan kantuk dengan bergerak.

Begitu rasa mengantuk datang, saya harus segera mencari pekerjaan kecil. Tidak perlu pekerjaan besar. Jalan pagi beberapa putaran sudah cukup. Menyapu halaman juga boleh. Pergi ke kandang, memberi makan ayam, membersihkan tempatnya, memeriksa tanaman di kebun, atau sekadar berjalan keluar rumah.

Yang penting tubuh bergerak.

Kadang-kadang masalah sebenarnya bukan tidak mempunyai kegiatan. Kegiatannya terlalu banyak. Yang sulit adalah memulai.

Inilah salah satu tantangan hidup setelah pensiun. Ketika masih bekerja, pagi memiliki struktur yang jelas. Ada jam masuk kantor, ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada orang yang menunggu, ada tanggung jawab yang memaksa kita bergerak.

Setelah pensiun, semua itu hilang.

Kita menjadi pemilik waktu sepenuhnya.

Tetapi kebebasan semacam itu mempunyai konsekuensi. Tidak ada lagi yang memaksa kita bangun, bergerak, bekerja, atau keluar rumah. Kalau tidak hati-hati, kebebasan dapat berubah menjadi kemalasan.

Karena itu saya membutuhkan ritual.

Ritual bukan berarti sesuatu yang rumit. Ritual adalah rangkaian kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang-ulang sehingga tubuh dan pikiran mengenal ritmenya.

Bangun. Shalat. Membaca Al-Qur'an. Kemudian bergerak.

Saya merasa urutan itu penting.

Setelah ibadah dan membaca Al-Qur'an, saya tidak perlu langsung melakukan pekerjaan intelektual yang berat. Membaca buku, misalnya, mungkin bukan pilihan terbaik ketika mata sedang berat. Bukannya tercerahkan, malah bisa tertidur.

Maka pagi hari sebaiknya dimulai dengan mengaktifkan tubuh terlebih dahulu.

Saya bisa keluar rumah. Membawa tablet. Berjalan sambil mendengarkan podcast yang baik. Atau mendengarkan musik yang indah. Tidak harus mengejar sesuatu. Tidak harus menghasilkan uang. Tidak harus menyelesaikan pekerjaan besar.

Cukup hadir bersama pagi.

Udara pagi. Cahaya yang perlahan muncul. Suara burung. Halaman rumah. Pepohonan. Ayam-ayam di kandang. Jalan yang mulai hidup. Semua itu sebenarnya sudah cukup menjadi alasan untuk bangun dan bergerak.

Setelah tubuh terasa benar-benar terjaga, barulah membaca.

Saya kira inilah salah satu keuntungan menjadi pensiunan. Kita memiliki kesempatan untuk menyusun kembali ritme kehidupan sesuai dengan kebutuhan tubuh dan jiwa sendiri.

Tidak perlu terburu-buru.

Tidak perlu mengejar dunia sejak mata terbuka.

Tetapi juga jangan terlalu cepat menyerah kepada kasur.

Sebab ada perbedaan antara istirahat dan menyerah kepada rasa malas.

Istirahat membuat tubuh pulih. Sedangkan terlalu lama berbaring ketika sebenarnya sudah waktunya bangun kadang justru membuat tubuh semakin berat.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa tidur setelah Subuh selalu buruk. Tubuh setiap orang berbeda. Kalau seseorang memang kurang tidur pada malam hari, tentu kebutuhan tidurnya harus diperhatikan. Bahkan penelitian tentang tidur menunjukkan bahwa tidur singkat dapat bermanfaat dalam keadaan tertentu. Persoalannya adalah bagaimana dan kapan tidur itu dilakukan, karena bangun dari tidur yang lebih dalam dapat menimbulkan sleep inertia yang membuat seseorang untuk sementara merasa lebih buruk daripada sebelum tidur.

Bagi saya, persoalannya sederhana: saya sudah tidur cukup pada malam hari, sudah bangun untuk beribadah, tetapi kemudian muncul kantuk. Kalau saya ikuti begitu saja, sering kali pagi menjadi kehilangan momentumnya.

Maka saya memilih bergerak.

Barangkali memang begitu hukum sederhana kehidupan. Tubuh yang ingin hidup harus digerakkan. Pikiran yang ingin jernih harus diberi rangsangan. Jiwa yang ingin tenang harus diberi ruang.

Pagi adalah pintu masuk menuju hari.

Kalau pintu itu dibuka dengan malas, mungkin seluruh hari terasa berat. Tetapi kalau dibuka dengan ibadah, gerakan kecil, udara segar, dan kesadaran bahwa hari ini masih merupakan pemberian Tuhan, rasanya kehidupan menjadi berbeda.

Tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa.

Cukup bangun.

Bergerak.

Menikmati pagi.

Kemudian menjalani hari.

Bagi seorang pensiunan, mungkin itulah salah satu bentuk disiplin yang paling sederhana: jangan biarkan rasa kantuk mengambil alih pagi.

Sebab usia boleh bertambah, pekerjaan boleh berkurang, tetapi kehidupan tetap membutuhkan gerak.

Dan selama pagi masih datang, sebenarnya Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk memulai lagi.

0 comments :

Post a Comment