Bangun pukul 04.30. Shalat Subuh. Membaca Al-Qur’an. Setelah itu, biasanya datang godaan yang paling sederhana, ngantuk.
Mata mulai terasa berat. Kelopak mengantuk. Tubuh mengajak kembali ke tempat tidur. Kalau kemudian menonton televisi sambil rebahan, hampir bisa dipastikan akan tertidur lagi.
Dulu saya beranggapan tidur di pagi hari adalah hal biasa. Bukankah tidur itu istirahat? Bukankah tubuh membutuhkan tidur?
Tetapi berdasarkan pengalaman, tidur pagi justru membuat badan lemas, tidak bergairah, pusing, pikiran seperti berkabut, malas bergerak, dan tidak bersemangat melakukan apa pun.
Setelah mencari tahu, ternyata pengalaman seperti itu bukan sesuatu yang aneh.
Dalam ilmu tidur dikenal istilah sleep inertia, yaitu keadaan ketika otak dan tubuh belum sepenuhnya beralih dari tidur menuju kondisi terjaga. Kemampuan berpikir, perhatian, kewaspadaan, dan respons tubuh untuk sementara menurun. Kita merasa mengantuk, bingung, lamban, atau seperti belum benar-benar terjaga. Kondisi ini dapat terjadi bahkan setelah tidur malam yang cukup, dan biasanya berangsur-angsur menghilang.
Inilah pengalaman sederhana yang saya rasakan. Rasanya memang seperti sudah bangun, tetapi belum sepenuhnya sadar. Tubuh berada di antara tidur dan bangun.
Persoalannya bukan semata-mata kurang tidur. Bisa jadi tubuh memang masih ingin tidur, tetapi tidur kembali pada waktu yang tidak tepat justru membuat proses bangun menjadi lebih berat.
Maka jangan melawan kantuk dengan kemalasan. Lawanlah dengan bergerak.
Begitu rasa mengantuk datang, kita harus segera mencari aktivitas fisik. Tidak perlu pekerjaan besar. Jalan pagi beberapa putaran, menyapu halaman, pergi ke kandang, membersihkan gudang, menyirami tanaman, atau sekadar berjalan keluar rumah.
Yang penting tubuh bergerak.
Kadang-kadang masalah sebenarnya bukan tidak mempunyai kegiatan, melainkan kesulitan untuk memulainya.
Inilah salah satu tantangan hidup setelah pensiun. Ketika masih bekerja, kehidupan terstruktur. Ada jam masuk kantor, pekerjaan yang harus diselesaikan, menerima tamu, atau tanggung jawab yang memaksa kita bergerak.
Setelah pensiun, semua itu hilang. Kita menjadi pemilik waktu sepenuhnya.
Tetapi kebebasan semacam itu mempunyai konsekuensi. Tidak ada lagi yang memaksa bangun, bergerak, bekerja, atau keluar rumah. Kebebasan dapat berubah menjadi kemalasan.
Karena itu kita membutuhkan ritual. Rangkaian kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang-ulang sehingga tubuh dan pikiran mengenal ritmenya.
Bangun. Shalat. Membaca Al-Qur’an. Kemudian bergerak.
Saya merasa urutan itu penting.
Setelah ibadah Subuh dan membaca Al-Qur’an, tidak perlu langsung melakukan pekerjaan intelektual yang berat. Membaca buku, misalnya, bukan pilihan terbaik ketika mata sedang berat. Bukannya tercerahkan, malah mengantar tidur.
Maka pagi hari sebaiknya dimulai dengan mengaktifkan tubuh terlebih dahulu.
Keluar rumah. Membawa tablet. Berjalan sambil mendengarkan podcast yang baik. Atau mendengarkan musik yang indah. Tidak harus mengejar sesuatu dan tidak harus menghasilkan uang.
Cukup menikmati udara pagi, sinar matahari pagi, suara burung, halaman rumah, pepohonan, dan jalan yang mulai hidup. Semua itu cukup menjadi alasan untuk bangun dan bergerak.
Inilah salah satu keuntungan menjadi pensiunan. Kita memiliki kesempatan untuk menyusun kembali ritme kehidupan sesuai dengan kebutuhan tubuh dan hati nurani.
Tidak perlu tergesa-gesa. Tidak perlu mengejar dunia. Tetapi jangan juga terlalu cepat menyerah pada kemalasan.
Sebab ada perbedaan antara istirahat dan menyerah kepada rasa malas.
Istirahat membuat tubuh pulih. Sedangkan terlalu lama berbaring ketika sebenarnya sudah waktunya bangun kadang justru membuat tubuh semakin berat.
Boleh jadi tidur di pagi hari tidaklah buruk kalau seseorang kurang tidur pada malam hari. Kebutuhan tidur tetap harus diperhatikan. Bahkan penelitian tentang tidur menunjukkan bahwa tidur singkat dapat bermanfaat dalam keadaan tertentu. Persoalannya adalah bagaimana dan kapan tidur itu dilakukan, karena bangun dari tidur pada waktu yang kurang tepat dapat menimbulkan sleep inertia yang membuat seseorang untuk sementara merasa lebih buruk daripada sebelum tidur.
Persoalannya sederhana: kita sudah tidur cukup pada malam hari, sudah bangun untuk beribadah, tetapi kemudian muncul kantuk. Kalau kita ikuti begitu saja, sering kali pagi kehilangan momentumnya.
Maka sebaiknya kita bergerak.
Barangkali memang begitu hukum sederhana kehidupan. Tubuh yang ingin hidup harus digerakkan. Pikiran yang ingin jernih harus diberi rangsangan.
Pagi adalah pintu masuk menuju hari.
Kalau pintu itu dibuka dengan malas, mungkin seluruh hari terasa berat. Tetapi kalau dibuka dengan ibadah, gerakan kecil, udara segar, dan kesadaran bahwa hari ini adalah anugerah Mahapencipta, rasanya kehidupan menjadi berbeda.
Tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa.
Cukup bangun. Bergerak. Menikmati pagi. Kemudian menjalani hari.
Bagi seorang pensiunan, mungkin itulah salah satu bentuk disiplin yang paling sederhana, jangan biarkan rasa kantuk mengambil alih pagi.
Sebab usia boleh bertambah, pekerjaan boleh berkurang, tetapi kehidupan harus berjalan.
Dan selama pagi masih datang, sebenarnya Mahapencipta masih memberi kita kesempatan.

0 comments :
Post a Comment