Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 110: MENEBUS KESALAHAN

Catatan Pensiunan 110: MENEBUS KESALAHAN

Written By Suheryana Bae on Sunday, September 13, 2026 | 8:42 PM

 DRAFT


Ada masa dalam kehidupan ketika manusia lebih sibuk mengejar daripada melihat ke belakang. Mengejar pendidikan, pekerjaan, kedudukan, penghasilan, pengakuan, keluarga, dan berbagai keinginan lain. Dalam kesibukan itu, ada banyak hal yang terlewat. Ada waktu yang tidak diberikan kepada keluarga, tubuh yang terlalu lama dipaksa bekerja, hubungan dengan sesama yang kurang dirawat, alam yang kurang diperhatikan, bahkan kewajiban kepada Mahapencipta yang sering dilakukan sebatas ritual dan formalitas.

Ketika memasuki usia senja, kita mulai memiliki kesempatan untuk melihat kembali perjalanan itu dengan lebih jernih. Bukan untuk terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Masa lalu tidak mungkin diubah. Tetapi ada sesuatu yang masih dapat dilakukan: menebus kesalahan yang pernah kita lakukan.

Menebus kesalahan bukan berarti menghapus masa lalu. Kita tidak memiliki kemampuan untuk menghapus apa yang sudah terjadi. Menebus berarti menyadari kesalahan, menerima akibatnya, kemudian menggunakan sisa kehidupan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Kalau dahulu kita kurang memberi, sekarang waktunya belajar memberi. Kalau dahulu terlalu sibuk mengejar dunia, sekarang waktunya memperbaiki hubungan dengan kehidupan yang selama ini terabaikan.

Erik Erikson, dalam teorinya tentang perkembangan psikososial manusia, menyebut masa lanjut usia sebagai tahap ketika manusia berhadapan dengan konflik antara ego integrity dan despair. Pada tahap ini seseorang melihat kembali kehidupannya dan berusaha menerima seluruh perjalanan hidup sebagai sesuatu yang utuh. Ia dapat mencapai integritas ketika mampu menerima dirinya, termasuk keberhasilan dan kegagalannya. Sebaliknya, ia dapat jatuh pada keputusasaan apabila hanya melihat penyesalan dan kesempatan yang telah hilang.

Bagi saya, gagasan Erikson itu penting. Usia senja tidak seharusnya menjadi masa untuk tenggelam dalam penyesalan. Tetapi juga tidak berarti kita pura-pura bahwa semua masa lalu baik-baik saja. Ada kesalahan yang memang harus diakui. Ada kekurangan yang harus diperbaiki. Dan kalau masih ada kesempatan, kesalahan itu perlu ditebus.

Pertama, kepada diri sendiri.

Barangkali selama puluhan tahun kita terlalu keras kepada diri sendiri. Tubuh dipaksa bekerja ketika sebenarnya membutuhkan istirahat. Pikiran dipenuhi kecemasan tentang masa depan. Hidup dijalani dengan tuntutan yang tidak ada habisnya. Kita mungkin terlalu lama mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Padahal diri sendiri juga mempunyai hak. Hak untuk menikmati hidup. Hak untuk beristirahat. Hak untuk merasa tenang. Hak untuk melakukan sesuatu yang disukai tanpa harus selalu memikirkan penilaian orang lain.

Kini waktunya memberikan hak itu kepada diri sendiri. Memang mungkin terlambat. Tubuh sudah tidak sekuat dahulu. Fasilitas kehidupan mungkin semakin terbatas. Tetapi terlambat bukan berarti tidak berguna. Selama masih hidup, selalu ada kesempatan untuk hidup dengan cara yang lebih sehat, lebih tenang, dan lebih bermakna.

Kedua, kepada keluarga.

Kesibukan masa lalu sering membuat komunikasi dengan keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kita bekerja keras untuk keluarga, tetapi justru kehilangan sebagian waktu bersama mereka. Kita memenuhi kebutuhan material, tetapi mungkin kurang hadir secara emosional. Kita ada di rumah, tetapi pikiran masih berada di kantor. Kita mencintai keluarga, tetapi tidak selalu pandai menunjukkan cinta itu.

Kini waktunya menebusnya.

Anak-anak mungkin sudah dewasa. Mereka sudah memiliki pekerjaan, pasangan, rumah, dan kehidupan sendiri. Kita tidak mungkin mengembalikan masa ketika mereka masih kecil. Tetapi kita masih dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan mereka hari ini. Menelepon. Mendengarkan. Berkunjung. Makan bersama. Menjadi tempat mereka pulang ketika membutuhkan orang tua.

Begitu pula dengan pasangan. Masa pensiun memberikan kesempatan untuk kembali menjadi teman hidup, bukan sekadar dua orang yang sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Waktu yang dahulu habis untuk pekerjaan kini dapat digunakan untuk berjalan bersama, berbincang, melakukan perjalanan sederhana, atau sekadar duduk bersama tanpa agenda.

Ketiga, kepada sesama manusia.

Ada kemungkinan selama hidup kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Kurang berpartisipasi dalam kehidupan lingkungan. Jarang berkomunikasi dengan tetangga. Tidak terlalu peduli dengan persoalan orang lain. Mungkin bukan karena kita jahat, tetapi karena hidup terlalu penuh dengan kepentingan pribadi.

Usia senja memberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Menyapa tetangga. Mengunjungi orang yang sakit. Membantu sebisanya. Hadir dalam kegiatan lingkungan. Tidak harus menjadi tokoh masyarakat. Tidak perlu melakukan sesuatu yang besar. Kebaikan sering kali justru hadir dalam tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus.

Dan yang keempat, yang paling utama, adalah menebus kesalahan kepada Mahapencipta.

Pada masa muda, mungkin hubungan dengan Tuhan lebih banyak berada pada wilayah kewajiban. Ibadah dilakukan karena kewajiban, tetapi belum sepenuhnya menjadi kesadaran. Ritual dijalankan, tetapi maknanya belum selalu dipahami. Kesibukan dunia membuat pengabdian kepada Ilahi sering ditempatkan setelah berbagai kepentingan lainnya.

Kini waktunya kembali.

Belajar agama dengan lebih sungguh-sungguh. Membaca Al-Qur'an bukan hanya untuk menyelesaikan bacaan, tetapi untuk memahami pesan kehidupan. Memperbaiki shalat. Memperbanyak doa. Memperbaiki hubungan dengan manusia dan makhluk lain. Belajar ikhlas, sabar, tawakal, dan berserah diri.

Sebab pada akhirnya, menebus kesalahan kepada Mahapencipta bukan hanya dengan memperbanyak ritual. Pengabdian juga harus terlihat dalam perilaku. Dalam kejujuran. Dalam cara memperlakukan pasangan, anak, tetangga, orang miskin, hewan, dan alam. Ibadah yang semakin baik semestinya membuat manusia juga semakin baik.

Usia senja akhirnya bukan sekadar perjalanan menuju akhir kehidupan. Ia adalah kesempatan terakhir untuk merapikan banyak hal. Kita tidak tahu berapa lama waktu yang tersisa. Karena itu, tidak banyak gunanya terus menghitung apa yang telah hilang.

Lebih baik melihat apa yang masih bisa dilakukan.

Jika dahulu ada yang salah, perbaiki. Jika ada yang terluka, minta maaf. Jika ada yang terabaikan, dekati kembali. Jika tubuh terlalu lama dipaksa, rawatlah. Jika keluarga kurang diperhatikan, hadirkan diri. Jika hubungan dengan sesama renggang, buka kembali pintunya. Dan jika hubungan dengan Mahapencipta terasa jauh, kembalilah.

Mungkin kita tidak akan pernah mampu menebus seluruh kesalahan. Tetapi hidup yang tersisa masih dapat menjadi bagian dari penebusan itu.

Barangkali inilah salah satu makna menjadi tua: bukan sekadar menerima bahwa waktu semakin sedikit, tetapi menggunakan waktu yang tersisa untuk menjadi manusia yang lebih baik.


0 comments :

Post a Comment