Ketika menjalani masa-masa bergairah, walaupun terkadang melelahkan dan menyebalkan, kita sering tidak menyadari bahwa kelak, setelah puluhan tahun berlalu, masa itu justru menjadi bagian yang indah untuk dikenang. Salah satu momen adalah ketika bersama teman-teman seperguruan menempa diri di STKS Bandung pada 1984, sebelum kemudian kami masing-masing merintis karier dan menjalani kehidupan yang berbeda-beda.
Kini, sebagian besar dari kami sudah purna tugas sebagai ASN. Waktu ternyata telah membawa kami begitu jauh. Bahkan beberapa teman yang dahulu duduk, belajar, bermain, tertawa, dan bercanda bersama, kini telah berpulang. Yang tersisa adalah kenangan, cerita, foto-foto lama, dan sesekali nama yang muncul dalam ingatan.
Sebagai anak kampung yang sederhana, memasuki dunia kampus tentu bukan pengalaman yang mudah. Ada banyak hal yang membuat saya terkaget-kaget. Dunia kampus berbeda dengan lingkungan desa tempat lahir dan bertumbuh. Cara berpikir, gaya bergaul, kebiasaan, bahasa, bahkan cara memandang kehidupan, semuanya terasa baru.
Tetapi semangat untuk belajar jauh lebih besar daripada rasa minder. Keinginan untuk menempa diri, menjadi orang berilmu, menjadi manusia yang lebih baik, dan suatu hari nanti berhasil, begitu menggebu. Semangat semacam itu membuat banyak orang berani meninggalkan kenyamanan kampung dan masuk ke dunia yang sama sekali belum dikenal.
Kalau sekarang menengok ke belakang, banyak pengalaman terasa menggelikan, walaupun beberapa pengalaman terasa menyakitkan. Sebagiannya mungkin lahir dari kepolosan dan kekakuan sebagai orang kampung. Sebagiannya lagi karena belum terbiasa bergaul dengan lingkungan dan orang-orang yang memiliki latar kehidupan kota.
Pada usia muda, kita memang belum memiliki cukup pengalaman untuk memahami bahwa setiap orang membawa dunia masing-masing. Kita salah menafsirkan sikap orang lain, merasa rendah diri, atau salah mengambil keputusan. Banyak hal baru kita pahami setelah usia senja.
Masa kuliah itu juga bukan hanya tentang buku, ruang kelas, dan tugas. Kami banyak bermain. Bahkan mungkin terlalu banyak bermain. Gapleh bisa berlangsung berjam-jam. Bercanda dan bersenda gurau menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sesekali ikut acara, berjalan-jalan keluar, berkumpul dengan teman, atau melakukan apa saja yang bisa membuat kehidupan mahasiswa terasa menyenangkan.
Berorganisasi meskipun tidak selalu serius. Ada kalanya sangat bersemangat, ada kalanya malas. Ada yang merasa memiliki cita-cita besar, tetapi pada saat yang sama menghabiskan waktu berjam-jam untuk sesuatu yang sebenarnya tidak penting.
Begitulah masa muda. Kita sering baru mengetahui nilai waktu setelah waktu itu tidak bisa kembali.
Sebagai mahasiswa, sesekali menikmati kecantikan perempuan, menikmati gairah mencintai, atau bersyukur karena dicintai. Berjalan berdua di tengah rintik hujan, terciprat air di jalanan tetapi tetap tersenyum. Lain kali berdiskusi bersama atau jalan-jalan. Menggoda-goda dengan malu-malu.
Suatu ketika berangkat bersama satu angkot, karena kebetulan—atau sengaja—di tengah jalan dia naik angkot yang sama.
Beberapa kisah itu akhirnya kandas di tengah jalan.
Ketika sekarang mencoba memahami masa lalu dengan lebih jujur, mungkin sebagian kegagalan itu terjadi karena kebodohan sendiri. Rasa rendah diri sebagai anak kampung, tidak percaya diri, dan yang jelas, tidak mampu membaca keadaan.
Tetapi anehnya, sesuatu yang dahulu terasa sebagai kegagalan kini justru menjadi bagian indah dari kenangan. Kita tidak selalu harus berhasil agar sebuah pengalaman menjadi berharga. Ada pengalaman yang nilainya justru terletak pada pelajaran yang ditinggalkannya.
Puluhan tahun kemudian baru menyadari bahwa kehidupan memang tidak dibentuk hanya oleh keberhasilan. Kegagalan, rasa malu, kesalahan, kebodohan, kehilangan, bahkan keputusan-keputusan yang dahulu kita sesali, semuanya ikut membentuk diri kita. Hidup adalah rangkaian pengalaman yang sambung-menyambung. Kita tidak mungkin memilih hanya bagian yang menyenangkan dan membuang bagian yang menyakitkan.
Salah satu pelajaran terbesar dari perjalanan panjang itu adalah jangan terlalu keras kepada diri sendiri saat melihat masa lalu. Kita mengambil keputusan dengan pengetahuan dan kematangan yang kita miliki saat itu. Jika sekarang kita merasa keputusan itu keliru, tugas kita bukan terus-menerus menghukum diri sendiri, melainkan mengambil pelajarannya.
Dan yang lebih penting, jangan terlalu cepat menghakimi orang lain. Teman yang dahulu terlihat malas mungkin sedang menjalani perjuangan hidup yang keras. Yang terlihat angkuh sebenarnya mungkin menginginkan persahabatan. Yang dahulu tampak berhasil mungkin memiliki luka yang tidak pernah diceritakan. Bahkan orang yang pernah mengecewakan kita pun barangkali sedang berjuang menghadapi kehidupannya sendiri.
Kini kami sudah berada di usia ketika banyak hal tidak lagi perlu diperebutkan. Status, jabatan, popularitas, dan berbagai ambisi masa muda perlahan kehilangan magnet. Yang terasa penting justru hal-hal yang dahulu sering dianggap sederhana: kesehatan, keluarga, persahabatan, ketenangan, kesempatan beribadah, dan kemampuan menikmati hari yang masih diberikan Mahapencipta.
Karena itu, kepada teman-teman seperguruan, saya ingin mengatakan, "Terima kasih."
Terima kasih untuk semua kebersamaan. Untuk tawa, permainan, perjalanan, percakapan, persahabatan, bahkan untuk berbagai kejadian yang dahulu mungkin membuat kita malu atau kecewa. Semuanya adalah bagian dari perjalanan yang tidak mungkin diulang.
Kita pernah muda, bersama, dan bermimpi. Setelah itu kehidupan membawa kita ke jalan masing-masing. Ada yang mencapai tempat yang diimpikan, ada yang menempuh jalan berbeda, dan ada pula yang perjalanannya telah berhenti.
Untuk sahabat-sahabat yang masih diberi kesempatan menikmati masa tua, selamat menikmati hari-hari yang tersisa dengan lebih sederhana dan lebih bermakna. Tidak perlu lagi membuktikan terlalu banyak hal kepada dunia. Kita sudah menjalani bagian terbesar dari perjalanan.
Dan untuk sahabat-sahabat yang telah berpulang, semoga segala kebaikan mereka diterima Mahapencipta dan semoga mereka menemukan kebahagiaan di keabadian.
Pada akhirnya, kita semua hanyalah orang-orang yang pernah singgah dalam sebuah zaman. Pernah tertawa, pernah menangis, pernah salah, pernah berharap, pernah gagal, dan pernah berhasil. Yang tersisa bukanlah jabatan atau gelar, melainkan jejak kebaikan dan kenangan yang ditinggalkan.
Begitulah perjalanan hidup. Kita datang sebagai anak-anak muda yang belum tahu apa-apa. Menempa diri, tersandung, belajar, jatuh, bangun, dan berjalan. Sampai akhirnya kita tiba di usia sekarang dan menyadari bahwa ternyata perjalanan itulah yang paling berharga.
Terima kasih, sahabat. Apa pun, siapa pun, dan bagaimanapun keadaan kita sekarang, kita pernah menjadi bagian dari cerita yang sama. Dan cerita itu, setelah lebih dari tiga puluh tahun, ternyata masih layak dikenang.

0 comments :
Post a Comment