Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 114 : DIDI K.NIA DAN DEDE KURNIA ADALAHNKELUARGA

Catatan Pensiunan 114 : DIDI K.NIA DAN DEDE KURNIA ADALAHNKELUARGA

Written By Suheryana Bae on Saturday, September 19, 2026 | 7:23 PM

DRAFT

Didi K. Nia dan Dede Kurnia adalah keluarga. Sebuah kalimat sederhana, tetapi menyimpan pelajaran besar tentang apa artinya berkeluarga.

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam pertumbuhan manusia. Tidak ada selainnya. Sebelum mengenal sekolah, teman, atau tempat kerja, seorang anak lebih dulu mengenal wajah ibu, suara ayah, dan hangat atau dinginnya suasana rumah. Dari sanalah kita belajar arti percaya, arti marah, dan arti dicintai. Apa yang kita serap di rumah akan dibawa sepanjang perjalanan kehidupan. Karena itu, keluarga mesti menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan anak. Bukan rumah yang mewah, melainkan rumah yang aman untuk bertanya, aman untuk sesekali berbuat salah, dan aman untuk menjadi diri sendiri.

Para sosiolog sudah lama memperhatikan peran ini. Ogburn dan Nimkoff, dalam kajian klasik mereka tentang keluarga, menyebut beberapa fungsi keluarga, yakni ekonomi, status, pendidikan, perlindungan, agama, rekreasi, dan kasih sayang. Di Indonesia, kita mengenal delapan fungsi keluarga, yakni keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.

Fungsi keagamaan menanamkan nilai dan arah hidup. Fungsi sosial budaya mewariskan bahasa, adat, dan tata krama. Fungsi cinta kasih memberi rasa diterima, dan fungsi perlindungan menghadirkan rasa aman. Fungsi sosialisasi dan pendidikan menyiapkan anak menjadi warga masyarakat. Fungsi ekonomi menopang kebutuhan hidup, sedangkan fungsi pembinaan lingkungan mengajarkan bahwa hidup tidak hanya untuk diri sendiri. Semuanya berjalan lewat hal-hal kecil sesederhana makan bersama, doa sebelum tidur, cara orangtua menyapa tetangga, atau cara kakak menjaga adik.

Tentu dalam keluarga boleh bertengkar, sehebat apa pun. Perbedaan pendapat itu wajar, dan kadang perlu. Namun kekeluargaan tidak boleh terputus karena apa pun. Di hati terdalam tetap ada rasa saling mencintai, mengasihi, dan mendukung. Pertengkaran yang berakhir dengan saling memaafkan dan duduk lagi di meja yang sama mengajarkan bahwa hubungan yang kuat bisa melewati badai. Yang paling berbahaya bukan pertengkaran, melainkan diam yang membeku dan pintu yang tertutup.

Keluarga yang sehat juga tidak membangun kompetisi di dalamnya. Tidak membandingkan yang satu dengan yang lain. Kalimat seperti "lihat kakakmu" atau "adikmu lebih pintar" tampak ringan, tetapi meninggalkan luka. Anak yang terus dibandingkan belajar bahwa kasih sayang harus dimenangkan, bukan diterima begitu saja. Ia tumbuh dengan rasa kurang, atau sebaliknya, dengan kesombongan yang rapuh. Kompetisi bukan suasana yang kondusif bagi pertumbuhan, malah dapat merusak hubungan, bahkan antara saudara yang semula akrab.

Psikolog humanistik Carl Ransom Rogers menyebut kebutuhan dasar anak ini sebagai penerimaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard), yaitu cinta yang tidak bergantung pada nilai rapor, prestasi, atau kepatuhan. Dalam On Becoming a Person (1961), Rogers menjelaskan bahwa manusia tumbuh sehat ketika merasa diterima apa adanya. Sebaliknya, cinta yang bersyarat mengajarkan anak menyembunyikan dirinya yang sebenarnya demi memenuhi harapan orang lain.

Saya pernah mengalami betapa kompetisi merusak keakraban keluarga. Ketika kecil, di meja makan atau di ruang keluarga, kami saling bercanda dan tertawa bersama. Seiring waktu, ketika belajar di sekolah atau di kampus, suasana itu menghilang tanpa disadari karena pengaruh buruk kompetisi.

Setiap anak istimewa dan unik. Hanya bidangnya yang berbeda. Ada yang cemerlang di bangku sekolah, ada yang terampil dengan tangannya, ada yang peka terhadap perasaan orang lain, ada yang tekun dalam diam. Semua bidang itu berharga, dan masyarakat membutuhkan semuanya. Tugas orangtua bukan menyeragamkan, melainkan mengenali bakat masing-masing dan merawatnya, seperti petani yang tahu bahwa padi, jagung, dan kacang butuh perlakuan berbeda.

Sebagai gantinya, yang perlu dibangun adalah kebersamaan dan saling dukung. Ketika satu anggota berhasil, semua ikut bersyukur. Ketika satu anggota jatuh, semua ikut menopang. Keberhasilan dirayakan bersama, kegagalan ditanggung bersama. Seperti kata pepatah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Semangat itulah yang membuat rumah menjadi tempat pulang, bukan sekadar tempat tinggal.

Kebersamaan tidak lahir dari nasihat panjang, tetapi dari teladan. Anak belajar dari apa yang ia lihat. Bila orangtua saling menghargai, anak belajar menghargai. Bila orangtua tidak sungkan meminta maaf, anak belajar rendah hati. Bila orangtua hadir dan mendengarkan, anak belajar bahwa ia penting. Delapan fungsi keluarga tadi hanya akan hidup bila dijalankan dengan cinta, bukan sekadar dihafalkan sebagai daftar.

Maka keluarga bukan sekadar status yang tercatat di kartu keluarga. Ia adalah kerja bersama yang terus-menerus: menjaga, mendengar, memaafkan, dan mendukung. Didi K. Nia dan Dede Kurnia adalah keluarga, dan itu berarti mereka terikat oleh sesuatu yang lebih dalam daripada nama dan darah, yaitu kesediaan untuk saling menguatkan, di mana pun dan dalam keadaan apa pun.


0 comments :

Post a Comment