Mengapa masa kecil terasa menyenangkan, bahkan sering menjadi bagian hidup yang paling indah untuk dikenang? Mungkin karena ketika kecil kita menganggap hidup sebagai permainan. Hampir semua yang dilakukan membawa kegembiraan. Pergi ke masjid bukan untuk beribadah, melainkan untuk bertemu teman-teman sebaya. Bermain eleng-elengan, berlarian ke sana kemari, tertawa, saling menggoda, kemudian mengaji. Tidak ada yang memikirkan apakah kegiatan itu berguna untuk masa depan. Tidak ada juga target; yang penting senang.
Pergi ke sekolah pun demikian. Bertemu teman menjadi kesenangan tersendiri. Bersenda gurau, pergi ke warung sekolah, melirik teman perempuan cantik, bermain bola atau bola voli. Belajar matematika, agama, dan bahasa ditempatkan setelah urusan bermain. Bukan berarti sekolah tidak penting. Hanya saja, ketika itu belum dipenuhi beban tentang masa depan. Sekolah adalah bagian dari kehidupan, sementara permainan adalah bagian yang membuat kehidupan itu menyenangkan.
Sore hari menjadi kesempatan lain untuk bermain. Sepak bola, pingpong, badminton, atau sekadar menonton orang-orang yang lebih tua bermain badminton. Tidak perlu menjadi juara atau meraih prestasi. Bermain sudah cukup menjadi alasan untuk merasa senang.
Malam belum tentu berarti berhenti bermain. Ada layar tancap, hajatan, atau menonton film TV Mannix, atau pergi ke acara mauludan. Dunia terasa luas karena hampir segala sesuatu bisa menjadi tontonan dan permainan.
Kalau dipikir sekarang, masa itu sebenarnya sederhana sekali. Tidak banyak uang, fasilitas, bahkan mungkin tidak banyak pilihan. Tetapi ada sesuatu yang sekarang justru semakin sulit ditemukan, yakni kegembiraan tanpa syarat.
Ketika dewasa, keadaan berubah. Permainan mulai ditinggalkan karena hidup menuntut pekerjaan. Kita harus belajar lebih serius, mencari penghasilan, membangun keluarga, menafkahi rumah tangga, menyekolahkan anak, membeli rumah, memikirkan karier dan masa depan. Hidup dipenuhi target. Banyak hal dilakukan bukan karena menyenangkan, melainkan karena harus dilakukan.
Pada masa itu, keadaan seperti ini mungkin memang diperlukan. Kita sedang membangun kehidupan. Ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan hanya karena kita ingin bermain. Masa muda adalah masa bekerja keras, belajar, mengejar kesempatan, dan menyelesaikan berbagai kewajiban. Permainan harus disisihkan karena ada sesuatu yang dianggap lebih penting.
Namun, persoalannya muncul ketika pekerjaan itu selesai. Ketika seseorang memasuki usia lanjut dan pensiun, sebagian besar target yang dahulu dikejar kini berada di belakang. Anak mulai mandiri. Kerja kantoran selesai. Tidak ada lagi jam kantor, tidak ada atasan, tidak juga ada bawahan.
Lalu muncul pertanyaan: “Sekarang apa?”
Di titik ini, permainan menjadi penting.
Bukan permainan dalam arti kembali menjadi anak-anak. Artinya, menemukan kegiatan yang dilakukan dengan senang hati, yang membuat tubuh bergerak, pikiran bekerja, gairah muncul, dan waktu terasa berarti, walaupun tidak ada uang, jabatan, atau prestasi.
Orang tua membutuhkan sesuatu yang menggembirakan. Sebab tanpa kegembiraan, kehidupan menjadi rutinitas membosankan. Bangun pagi, makan, menonton televisi, tidur, bangun lagi, makan lagi. Hari berganti hari, tetapi tidak ada sesuatu yang benar-benar ditunggu, dan lama-lama hidup terasa datar.
Karena itu, setelah tua mungkin kita perlu menemukan kembali semangat bermain. Bentuknya tentu berbeda: membaca buku, menulis, berkebun, berjalan kaki, memelihara tanaman, memasak, memotret, belajar bahasa, bermain musik, pergi ke tempat baru, berbincang dengan teman, mengurus cucu, mengikuti kegiatan keagamaan, atau melakukan pekerjaan rumah yang selama ini dianggap sepele.
Tidak semua harus menghasilkan uang atau prestasi. Bahkan tidak perlu juga dibangga-banggakan. Cukup dilakukan karena kita menyukainya dan menjadikan hidup bergairah.
Tentu saja tidak berarti semua kesenangan boleh dilakukan. Permainan orang dewasa tetap memiliki batas moralitas, etika, agama, dan nilai. Kesenangan tidak boleh merugikan diri sendiri, keluarga, atau orang lain.
Maka persoalan masa tua sebenarnya bukan sekadar bagaimana mengisi waktu, melainkan yang lebih penting adalah menemukan sesuatu yang membuat kita ingin bangun pagi, bergerak, berpikir, dan menjalani hari dengan gembira.
Ketika kecil, kita bermain karena belum mempunyai tujuan besar. Ketika dewasa, kita bekerja karena mempunyai banyak tujuan. Ketika tua, mungkin kita perlu kembali menemukan kegembiraan tanpa terlalu dibebani oleh tujuan.
Barangkali itulah permainan baru bagi orang yang sudah melewati usia enam puluh: melakukan sesuatu yang disukai, membuat tubuh tetap bergerak, pikiran tetap hidup, hati tetap gembira, tetapi tetap berada dalam batas moralitas dan nilai yang kita yakini.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita capai. Hidup juga tentang apakah kita masih mempunyai sesuatu yang membuat kita senang menjalaninya.

0 comments :
Post a Comment