Powered by Blogger.
Home » , » Catatan Pensiunan 117 : MEMBEBASKAN DIRI

Catatan Pensiunan 117 : MEMBEBASKAN DIRI

Written By Suheryana Bae on Friday, September 25, 2026 | 7:54 PM

DRAFT

Kita hidup di tengah lautan informasi yang deras, tetapi anehnya semakin banyak informasi yang mengalir, semakin sedikit yang benar-benar berguna. Berita politik yang berulang setiap hari dengan wajah berbeda, pertengkaran rumah tangga selebritas yang dikuliti sampai tulang, opini-opini dangkal yang viral karena kemarahan bukan karena kebenaran—semua ini menyerbu perhatian kita tanpa pernah benar-benar memberi apa-apa. Kita membaca satu berita di pagi hari, lupa isinya sebelum malam tiba, lalu esok harinya mengulang pola yang sama dengan judul yang sedikit berbeda. Ini bukan membaca, ini kecanduan.


Herbert Simon, ekonom dan psikolog yang memenangkan Nobel, pernah mengingatkan bahwa yang langka di zaman informasi bukan informasi itu sendiri, melainkan perhatian. Setiap kali kita membuka gawai untuk sekadar "mengikuti perkembangan," kita sebenarnya membelanjakan aset paling berharga yang kita miliki: kapasitas untuk fokus. Dan aset itu, tidak seperti uang, tidak bisa ditabung kembali begitu habis dipakai untuk hal yang sia-sia.


Nicholas Carr, dalam pengamatannya tentang bagaimana internet membentuk ulang cara kita berpikir, menyebut fenomena ini sebagai pendangkalan kognitif—pikiran yang terbiasa melompat dari satu potongan informasi ke potongan lain kehilangan kemampuan untuk merenung panjang, untuk menyelami satu gagasan sampai ke akarnya. Inilah yang terjadi ketika hari-hari kita dipenuhi desas-desus yang tidak pernah tuntas dibaca dan tidak pernah benar-benar dipahami. Kita menjadi terampil mengonsumsi permukaan, tetapi asing pada kedalaman.


Dalam khazanah Jawa, ada istilah yang relevan di sini: *ngudi kasampurnan*, upaya menuju kesempurnaan diri, yang menuntut ketenangan batin dan kejernihan pikiran (*eling lan waspada*). Orang yang pikirannya penuh dengan kegaduhan luar—gunjingan, prasangka, kemarahan yang bukan miliknya sendiri—tidak mungkin mencapai ketenangan itu. Ia hanya menjadi gelombang yang terombang-ambing oleh gelombang orang lain, bukan pribadi yang berdiri dengan pijakannya sendiri.


Pertanyaannya kemudian sederhana: untuk apa waktu yang terbatas ini kita habiskan? Buku yang belum sempat dibaca menumpuk di rak, sementara linimasa yang isinya sudah dilupakan sebelum sore terus digulir. Pekerjaan yang menuntut ketekunan tertunda, sementara energi terkuras untuk memahami drama orang yang bahkan tidak kita kenal. Ini adalah pertukaran yang buruk—menukar sesuatu yang membangun dengan sesuatu yang hanya membuat gaduh.


Victor Frankl, dalam pengalamannya menghadapi situasi paling ekstrem yang bisa dialami manusia, menemukan bahwa yang membuat hidup punya arti bukan apa yang terjadi pada kita, melainkan sikap yang kita pilih untuk menghadapinya. Sikap tegas dan bicara jelas, seperti yang disinggung di awal renungan ini, adalah wujud dari kebebasan itu—kebebasan untuk tidak larut dalam kebisingan yang ditawarkan dunia luar, dan memilih arah sendiri.


Ketegasan bukan berarti dingin atau menutup diri dari dunia. Ia adalah kejelasan batin yang membuat seseorang tahu mana yang penting dan mana yang hanya kebisingan. Orang yang tegas tidak perlu ikut setiap perdebatan, tidak perlu bereaksi pada setiap provokasi, karena ia sudah tahu ke mana energinya harus mengalir. Bicara jelas pun demikian—lahir dari pikiran yang tidak terpecah oleh seribu urusan yang bukan miliknya.


Lalu apa yang tersisa setelah kita menyingkirkan kebisingan itu? Ruang untuk membaca dengan tenang, ruang untuk bekerja dengan sepenuh hati, dan pada akhirnya, ruang untuk menyerahkan hasil pada yang lebih besar dari diri kita. Dalam tradisi Islam, ini disebut tawakal—bukan kepasifan, melainkan puncak dari usaha yang sudah dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Al-Ghazali dalam *Ihya Ulumiddin* menegaskan bahwa tawakal sejati datang setelah ikhtiar, bukan sebagai penggantinya. Seseorang berusaha semaksimal mungkin, lalu melepaskan kekhawatiran atas apa yang bukan lagi kuasanya.


Di sinilah letak kebijaksanaan yang ditawarkan renungan ini: hidup terlalu singkat untuk dihabiskan mengikuti arus kebodohan yang diproduksi setiap hari tanpa henti. Buku yang dibaca sampai tuntas akan membentuk pikiran kita lebih dari seribu berita yang lewat begitu saja. Pekerjaan yang dikerjakan dengan tekun akan meninggalkan bekas yang nyata, sementara drama yang kita ikuti hari ini akan lenyap dari memori sebelum minggu berakhir. Dan pada akhirnya, setelah semua usaha itu, ada baiknya kita belajar melepaskan—menyerahkan hasil pada Yang Maha Mengatur, dengan hati yang tenang bukan karena menyerah, tetapi karena sudah menunaikan bagian kita dengan sebaik-baiknya.


Bukankah lebih baik demikian?

0 comments :

Post a Comment