Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 121 : MEMILIH PERTENGKARAN

Catatan Pensiunan 121 : MEMILIH PERTENGKARAN

Written By Suheryana Bae on Sunday, October 4, 2026 | 8:25 AM

DRAFT

Di usia senja, hati seolah menjadi lebih peka. Satu teguran kecil saja bisa terasa seperti gelombang yang menggoyang ketenangan yang sudah susah payah dibangun. Bukan karena kita menjadi lebih lemah, melainkan karena pengalaman panjang telah mengajarkan betapa berharganya kedamaian batin. Maka, salah satu jalan paling bijak yang bisa dipilih adalah berusaha sekuat tenaga untuk tidak melanggar aturan Sang Mahapencipta dan kesepakatan yang telah disetujui bersama. Dengan demikian, peluang untuk ditegur pun mengecil, dan ruang untuk tersinggung pun menyusut.


Namun kita tahu betul bahwa bumi ini tidak hanya dihuni oleh makhluk yang penuh kebaikan. Ada saja perilaku, kata-kata, atau sikap yang bisa menusuk tanpa diminta. Di sinilah letak ujian yang sesungguhnya. Bukan pada bagaimana menghindari semua yang menyinggung—sebab itu mustahil—melainkan pada bagaimana kita memilih untuk menyikapinya. Mengendalikan diri dan bersabar bukanlah tanda kelemahan. Justru itulah kekuatan yang paling matang: kemampuan untuk tidak membiarkan orang lain menentukan cuaca di dalam hati kita.


Semakin tua, semakin selektif kita dalam memilih pertengkaran. Kita mulai menimbang dengan cermat: apakah reaksi ini akan membawa kenyamanan jangka panjang, atau hanya kepuasan sesaat yang kemudian meninggalkan reguk pahit? Banyak orang yang kelelahan justru karena terlalu sering memenangkan pertempuran kecil yang sebenarnya tidak perlu dimenangkan. Mereka menang di luar, namun kehilangan ketenangan di dalam. Sementara orang yang bijak lebih memilih diam yang berwibawa daripada bicara yang merusak, lebih memilih mundur setapak daripada maju dengan dendam yang menggerogoti.


Hidup di usia senja seharusnya menjadi musim panen, bukan musim perang. Setiap pagi yang dijalani adalah kesempatan untuk menjaga hati tetap lega, pikiran tetap jernih, dan hubungan tetap damai. Ketika kita mampu menahan diri, kita sebenarnya sedang melindungi sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harga diri sesaat: kita sedang melindungi ketenangan yang akan menemani kita hingga napas terakhir. Dan ketenangan itu, sekali ditemukan dan dijaga, menjadi warisan paling indah yang bisa kita berikan pada diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.

0 comments :

Post a Comment