Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 122 : TIDAK PADA MENYERAH

Catatan Pensiunan 122 : TIDAK PADA MENYERAH

Written By Suheryana Bae on Sunday, October 4, 2026 | 12:27 PM


Usia sudah lebih dari enam puluh tahun. Masa pensiun yang dulu dibayangkan sebagai waktu tenang dan bebas, ternyata datang dengan wajah yang berbeda.


Tubuh yang dulu kuat kini mulai terasa berat. Penyakit datang pelan-pelan, menggerogoti tenaga dari dalam. Setiap pagi bangun dengan rasa lelah yang tidak biasa. Pemeriksaan kesehatan berulang hanya mengonfirmasi apa yang sudah dirasakan: daya tahan menurun, energi semakin tipis. Pendapatan yang dulu stabil dari gaji, kini hanya mengandalkan dana pensiun yang pas-pasan. Ekonomi rumah tangga terasa semakin ketat. Tidak ada lagi rutinitas kantor, tidak ada target yang harus dikejar, tidak ada rapat atau deadline yang memaksa untuk bergerak.


Hari-hari menjadi sepi. Bangun pagi tanpa tujuan yang jelas. Siang hari terasa panjang. Malam datang lebih cepat. Belum lagi masalah keluarga yang sesekali muncul—perbedaan pendapat, kekhawatiran anak-anak, atau sekadar rasa tidak enak hati karena merasa sudah tidak lagi “berguna”. Semua itu menumpuk, dan perlahan gairah hidup mulai meredup.


Di malam-malam yang sunyi, pertanyaan itu sering muncul: *Apakah sudah waktunya menyerah saja?*


Tubuh sudah tidak sekuat dulu. Uang semakin terbatas. Rutinitas yang dulu menjadi tulang punggung hari-hari telah hilang. Rasanya mudah saja membiarkan semuanya berlalu, berhenti mencoba, dan hanya menunggu waktu.


Tapi setiap kali pikiran itu datang, ada rasa takut yang lebih dalam menyusul. Takut pada ketidakpastian di alam keabadian. Amal masih terasa sangat tipis. Dosa terasa terlalu banyak. Hati masih ingin berkarya, masih ingin menulis, masih ingin meninggalkan sesuatu yang berarti—sebuah jejak kecil, sebuah legacy yang bisa dikenang anak dan cucu kelak. Belum siap untuk pergi dengan tangan kosong.


Gairah itu sempat hampir padam. Tapi api kecil di dalam dada belum benar-benar mati.


Perlahan, langkah kecil mulai diambil. Pola makan diperbaiki: lebih banyak sayur, mengurangi yang digoreng dan manis. Tidur diusahakan lebih teratur, meski kadang masih gelisah. Stres dikelola dengan cara sederhana—duduk diam di teras sambil menatap langit, menulis catatan singkat di buku, atau sekadar berjalan pelan di sekitar rumah setiap sore. Tidak ada target besar. Hanya keinginan untuk merawat tubuh yang masih dipinjamkan.


Tidak ada keajaiban yang datang tiba-tiba. Yang ada hanyalah perubahan kecil yang dilakukan konsisten.


Seiring waktu, tubuh mulai merespons. Tenaga sedikit demi sedikit kembali. Pikiran menjadi lebih tenang. Hari-hari yang sempat kosong mulai terisi dengan kegiatan sederhana yang bermakna: menulis pengalaman hidup, membantu tetangga yang membutuhkan, menghabiskan waktu lebih berkualitas dengan keluarga, atau sekadar menanam tanaman di halaman. Rutinitas baru terbentuk—bukan karena perintah kantor, melainkan karena pilihan sendiri untuk tetap hidup dengan penuh arti.


Suatu pagi, saat menyeduh kopi di dapur yang sunyi, terasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi mudah. Bukan karena penyakit hilang total atau uang mendadak berlimpah. Melainkan karena ada keputusan yang diambil: untuk tidak menyerah pada redupnya gairah.


Gairah itu kini menyala kembali—pelan, tapi pasti.

0 comments :

Post a Comment