Sepagi ini udara terawsa sangat dingin. Embun masih menggantung di dedaunan, sementara cahaya matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan. Hari saya awali dengan membaca Al-Qur'an, dilanjutkan olahraga ringan agar tubuh tetap lentur dan bugar. Setelah itu, menikmati sorabi hangat, makanan sederhana yang selalu mengingatkan pada suasana kampung.
Rutinitas itu tampak biasa, bahkan mungkin membosankan bagi sebagian orang. Namun, justru dalam kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah saya menemukan ketenangan. Saya semakin menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam pencapaian besar. Kebahagiaan sering bersembunyi di balik tubuh yang masih sehat, makanan yang tersedia, udara pagi yang bersih, dan kesempatan menjalani satu hari lagi sebagai anugerah Allah.
Selesai sarapan, saya memutar lagu blues koleksi Pop Indonesia. Musiknya mengalun pelan, tetapi liriknya menyentuh hati.
"Tetaplah bersyukur karena yang ditakdirkan akan tiba jua pada saat yang indah."
Lirik itu sederhana, tetapi semakin direnungkan, semakin terasa kedalamannya.
Betapa sering manusia ingin segala sesuatu datang secepat keinginannya. Kita menghendaki hasil tanpa proses, panen sebelum musim, keberhasilan tanpa kegagalan, bahkan ingin memahami seluruh rencana Allah. Padahal yang diminta dari kita hanyalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, bersabar menjalani proses, lalu mempercayakan hasil akhirnya kepada-Nya.
Sesungguhnya setiap peristiwa memiliki waktunya sendiri.
Padi menguning sebelum dipanen. Anak ayam bertumbuh sebelum menjadi induk. Durian hanya berbuah pada musimnya. Demikian pula manusia. Ada masa belajar, masa gagal, masa menunggu, masa bertumbuh, dan akhirnya masa menuai hasil.
Psikolog humanistik Carl Ransom Rogers pernah mengemukakan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat dorongan alami untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih utuh. Pertumbuhan itu bukan perlombaan untuk menjadi lebih hebat daripada orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi diri yang semakin matang. Barangkali inilah yang diingatkan oleh lirik lagu itu: jangan memaksa bunga mekar sebelum waktunya, tetapi jangan pula berhenti merawatnya.
Saya merasakan bahwa masa pensiun justru memberi ruang bagi proses pertumbuhan. Tidak lagi dikejar target pekerjaan atau jabatan, hingga memiliki kesempatan untuk lebih jujur mendengarkan diri sendiri. Mendengarkan suara alam, menikmati alunan musik, membaca buku, merenungkan pengalaman hidup, dan terutama mendengarkan suara hati yang sering tenggelam oleh kesibukan selama bertahun-tahun.
Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa hidup bukanlah tentang menghindari kesulitan, melainkan belajar menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan. Kesulitan bukan selalu musuh. Sering kali kesulitan adalah guru yang membentuk kedewasaan.
Saya juga menyadari bahwa hati yang menua bukan berarti kehilangan semangat. Justru pada usia inilah semangat memperoleh arah yang lebih jernih. Tidak lagi sekadar mengejar pencapaian, melainkan berusaha memberi manfaat. Tidak lagi sibuk mengumpulkan penghargaan, melainkan mengumpulkan amal. Tidak lagi ingin terlihat hebat, tetapi ingin pulang dengan membawa hati yang lebih bersih.
Karena itu saya ingin terus belajar. Dunia ini terlalu luas untuk berhenti mencari pengetahuan. Masih banyak buku yang ingin dibaca, pengalaman yang ingin direnungkan tulisan yang ingin diselesaikan, serta hikmah kehidupan yang ingin diwariskan kepada anak dan cucu.
Saya juga ingin terus bekerja sesuai kemampuan. Mengurus kebun, memelihara ayam, membersihkan halaman, menulis catatan kecil, atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil memandang pepohonan. Semua itu bukan sekadar mengisi waktu, melainkan cara mensyukuri kehidupan dan merawat diri agar tetap bertumbuh.
Seluruh perjalanan ini bermuara kepada Allah. Jabatan telah selesai, pekerjaan telah berganti, usia terus bertambah, dan tenaga perlahan berkurang. Namun, kesempatan untuk memperbaiki diri tidak pernah berhenti selama napas masih berhembus.
Maka pagi ini lagu blues itu bukan lagi sekadar hiburan, melainkan pengingat bahwa pertumbuhan memerlukan kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur. Apa yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Tidak datang lebih cepat, tidak pula lebih lambat. Semuanya hadir tepat pada waktunya.
Dan ketika saat yang indah itu tiba, semoga kita telah menjadi pribadi yang lebih utuh dengan hati penuh syukur, pikiran yang jernih, keseharian berbuat baik, serta jiwa yang semakin dekat kepada Allah.

0 comments :
Post a Comment